Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kementerian Perdagangan menyadari potensi kekuatan internet dalam memajukan industri fesyen nasional begitu besar. Promosi dari mulut ke mulut dan testimoni para blogger di dunia maya dianggap menjadi kekuatan baru penyebaran fesyen di Tanah Air.
Dalam keterangan persnya, Selasa 5 Mei 2015, Kemendag mendorong terciptanya sinergi antara industri fesyen dengan blogger agar industri fesyen makin mentereng. Dengan promosi melalui media sosial dan sinergi para blogger, Kemendag meyakini ekspor produk fesyen makin meningkat.
“ Promosi word of mouth (dari mulut ke mulut) dan testimoni melalui internet khususnya oleh blogger dapat menjadi salah satu alat keberhasilan pemasaran bisnis fesyen. Hal ini juga didukung tingginya pengguna internet di Indonesia,” ungkap Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia, Simon Zelotes.
Hasil riset E-Marketer menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia tahun 2014 mencapai 83,7 juta dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 112 juta pada 2017 atau menempati posisi ke-5 di dunia.
" Ini peluang besar dalam mempromosikan dan meningkatkan pemasaran
produk fesyen Indonesia melalui kolaborasi pelaku usaha dan pecinta fesyen," kata Simon Zelotes.
Dengan potensi baik dari sisi desainer yang kreatif dan keberagaman budaya yang menjadi sumber inspirasi, Simon yakin kolaborasi yang lebih besar antara desainer dan blogger akan sukses mengamankan pasar dalam negeri dan mempromosikan produk fesyen Indonesia ke luar negeri.
Berdasarkan data ekspor Kemendag, Pada 2014 nilai ekspor produk fesyen Indonesia mencapai USD 13,93 miliar. Dari nilai tersebut, ekspor pakaian jadi menyumbang pangsa terbesar selama 2014, yaitu 55,15%
senilai USD 7,68 miliar, diikuti alas kaki USD 4,1 miliar, dan perhiasan USD 2,13 miliar. Dilihat dari tren pertumbuhannya, ekspor produk fesyen selama periode 2010-2014 mengalami pertumbuhan positif sebesar 8,27% per tahun.
Adapun negara tujuan ekspor fesyen Indonesia tahun 2014 adalah Amerika Serikat dengan nilai USD 4,9 miliar (35,64%), Jepang USD 942 juta (6,76%), Jerman USD 827 juta (5,94%), Uni Emirat Arab USD 657 juta (4,72%), dan Afrika Selatan USD 596 juta (4,28%).
Dengan penambahan jalur perdagangan melalui dunia maya ini, Kemendag bercita-cita menjadikan produk fesyen Indonesia bisa menjadi yang terdepan di kawasan regional, bahkan di tingkat global.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya