4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Dream - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai surplus neraca perdagangan RI pada bulan Maret ini perlu diwaspadai. Pasalnya, surplus tersebut mengindikasi akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi tanah air.
" Surplus neraca perdagangan ini bisa jadi indikasi awal perlambatan pertumbuhan ekonomi," ujar Chatib dalam akun twitternya @ChatibBasri, Rabu, 15 April 2015.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya surplus neraca perdagangan pada bulan Maret 2015 sebesar US$ 1,13 miliar dengan nilai ekspor pada bulan tersebut tercatat sebesar US$ 13,71 miliar, sementara impornya senilai US$ 12,58 miliar.
Menurut Chatib, surplus yang didapat RI ini berasal dari penurunan impor. Hal inilah yang perlu dilihat secara menyeluruh karena impor Indonesia kebanyakan barang modal dan bahan baku.
" Saya kira ada berita baik untuk Indonesia: neraca perdagangan surplus $ 1.13 miliar. Ini baik sekali. Namun, ada baiknya kita tetap hati-hati. Mengapa? Karena suprlus yang besar ini, lebih didorong oleh penurunan impor yang tajam ketimbang perbaikan ekspor," jelasnya.
Berdasarkan data BPS, lanjutnya, Maret 2015 (yoy), ekspor tumbuh -6.6% (artinya menurun), sedangkan impor dalam periode sama tumbuh -13.39%. Januari-Maret 2015 (yoy) ekspor tumbuh -11.67%, sedangkan dalam periode yang sama impor tumbuh -15.1%. Penurunan impor lebih tajam.
" Mengapa perlu hati-hati? Karena komponen impor terbesar adalah barang modal dan bahan baku. Impor barang modal tumbuh -10.3% dan bahan baku -16.1%," tambahnya.
Jika impor barang modal dan bahan baku turun, lanjut Chatib, maka perusahaan mengurangi pembelian bahan baku dan modalnya. Inilah yang memperlihatkan akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi.
" Artinya produksi 6 bulan ke depan turun," tandasnya.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
