Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bank Indonesia Memperkirakan Pelemahan Ekonomi Global Masih Menjadi Tantangan Indonesia.
Dream - Indonesia masih mengalami tantangan ekonomi pada tahun 2016. Salah satunya adalah pelemahan pertumbuhan ekonomi global.
" Tantangan yang kami hadapi pada 2016 tetap perlu diwaspadai baik dari sisi global. Pertama, ada pelemahan pertumbuhan ekonomi global," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Juda Agung, kepada wartawan di Bank Indonesia, Jakarta, Selasa 26 April 2016.
Juda mengatakan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bahkan sudah merevisi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dari 3,4 persen menjadi 3,2 persen. Revisi ini didorong oleh terjadinya pelemahan ekonomi di negara berkembang dan Jepang.
" Faktor yang kedua adalah ketidakpastian di Tiongkok, baik dari pertumbuhan ekonomi maupun pasar keuangannya," kata dia.
Faktor yang ketiga, lanjut Juda, adalah pelemahan harga komoditas diprediksi masih terjadi. BI memprediksi tahun ini ada penurunan harga komoditas sebesar 10-11 persen. Namun, seiring mulai membaiknya harga sebagian komoditas, membuat bank sedikit merevisi prediksi penurunan harga komoditas.
" Membaik terutama harga komoditas CPO (crude palm oil) dan barang logam, seperti timah dan juga komoditas logam lain," kata dia.
Selain faktor global, Juda mengatakan masih ada tekanan domestik terhadap perekonomian Indonesia, yaitu tingginya nilai tukar rupiah, turunnya keyakinan pelaku ekonomi, dan meningkatnya risiko di sektor korporasi.
" Apabila tidak dikelola secara baik, kondisi ini dapat berakibat pada meningkatnya ketidakstbilan ekonomi dan terus melemahnya pertumbuhan ekonomi," kata dia.
Selanjutnya, Juda mengatakan bank sentral ini akan memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan kepada dua hal, yaitu menjaga stabilitas makro ekonomi dan keuangan serta memanfaatkan ruang kebijakan moneter dan makroprudensial secara hati-hati. Dengan begitu, BI akn melonggarkan moneter secara hati-hati dan pemerintah mendorong perekonomian dari sisi fiskal.
" Ke depannya, diharapkan ekonomi semakin baik," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya