Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi Peneliti (wikimedia)
Dream - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerjasama dengan Knowledge Sector Initiative (KSI) Australian Aid, 9 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan tiga Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang berbasis pada fakta dan riset.
Ketua Tim KSI Australian Aid, Robin Bush menjelaskan, sejak inisiasi kerjasama tersebut berlangsung pada 2013, masalah yang nampak menonjol adalah masih adanya jurang pemisah antara knowledge producer (lembaga penelitian yang ada di universitas) dengan knowledge user (Pemerintah).
" Hasil penelitian di kampus-kampus kadang sulit diakses oleh para pembuat kebijakan atau sering tidak relevan dengan kebutuhan," kata Robin Bush di Gedung Bappenas, Rabu 19 Agustus 2015.
Kepala Bappenas Sofyan Djalil pun menyebut, di kampus para mahasiswa dan dosen lebih sering melakukan penelitian untuk kepentingan penelitian saja. Sehingga, kadang hanya menjadi tumpukan kertas yang tidak dapat dimanfaatkan secara praktis, dalam hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah.
Padahal, kata Sofyan, pemerintah amat membutuhkan hasil penelitian para akademisi yang mampu menuntun arah pengambilan kebijakan nasional. Menurut mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini, kualitas serta relevansi policy dengan situasi terkini justru ditentukan oleh metode penentuannya, berdasarkan riset atau tidak.
" Kita pun tahu dalam riset selalu akan kita dapatkan temuan-temuan baru. Yang artinya harus senantiasa diperbaiki dari masa ke masa," ujar Sofyan Djalil.
Oleh karena itu, Sofyan Djalil berkomitmen untuk melaksanakan evidence-based policy di sisa masa kepemimpinannya dalam Kabinet Kerja. Ia pun berjanji akan berusaha keras untuk mewujudkan hasil penelitian terbaik dari 9 PTN dan OMS yang bekerjasama dengan Bappenas menjadi kebijakan pembangunan.
" Saya percaya negara bisa maju bukan karena Sumber Daya Alam (SDA) tapi karena good policy. Sejauh ini, Indonesia sudah banyak mengadopsi good policy, tapi masih banyak ruang improvement," tutup Sofyan Djalil.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya