Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dream - Laju Rupiah di awal pekan ini mengalami pelemahan hingga ke Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan perekonomian Tiongkok yang menyebabkan penguatan dolar AS.
Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada menilai pelemahan ini penyebabnya masih sama yaitu dampak terkena sentimen pelemahan tidak langsung dari harga-harga komoditas. Maraknya pemberitaan mengenai ekonomi Tiongkok yang berpotensi terkoreksi di Kuartal II-2015 mendorong harga-harga komoditas terus melemah.
Pelemahan ini tentu saja dimanfaatkan mata uang dolar AS untuk berbalik menguat. Akibatnya sejumlah mata uang Asia pun tergilas dengan penguatan US$ termasuk Rupiah.
" Pelemahan pada mata uang Asia, terutama Yuan yang berimbas pada Won, Yen, dan lainnya seiring dengan perkiraan akan melambatnya perekonomian memberikan imbas negatif pada Rupiah," ujarnya seperti dikutip dari riset harian NH Korindo Securities, Senin 3 Agustus 2015.
Menurut Reza, pelaku pasar melihat kemungkinan The Fed menaikan suku bunganya di September masih belum jelas seiring belum sepenuhnya membaik kondisi ekonomi AS. Tidak hanya itu, lelang Sukuk yang cukup banyak diminati turut memberikan sentimen positif pada Rupiah.
" Kondisi penguatan Rupiah ini mampu melampaui kekhawatiran kami akan masih berlanjutnya pelemahan," ungkapnya.
Reza menambahkan belum adanya sentimen positif terhadap Rupiah membuat pergerakannya cenderung masih bertahan di zona merah. Pelaku pasar pun enggan mentransaksikan Rupiah sehingga lajunya cenderung kian tertekan.
Laju Rupiah, lanjutnya, terus bergerak ke bawah dan mendekati target support Rp. 13.550. KUrs tengah Bank Indonesia selama ini berkisar Rp 13.565-13.505.
" Masih tetap positifnya pandangan The Fed terhadap perekonomian AS yang sedang berjalan menuju pemulihannya memberikan peluang bagi The Fed untuk dapat menaikan suku bunganya pada September. Tentu saja kondisi ini akan direspon positif oleh US$ dan Rupiah pun kembali tergilas," tandasnya.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya