Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Ilustrasi
Dream - Masa depan industri fesyen muslim dunia dibahas di Turin, Itali. Jika diibaratkan sebuah negara, bisnis hijab telah menjadi penguasa ke tiga pangsa pasar pakaian dunia, di bawah Amerika Serikat dan China.
Di tengah persaingan busana terbaru dunia, bisnis hijab diakui mendapatkan tantangan tak kalah berat. Pasar yang terpecah-pecah menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis pakaian muslim ini.
Bisnis pakaian dan alas kaki negara muslim tahun 2013 ditaksir mencapai US$ 266 miliar. Capaian ini menunjukkan 11,9 persen dari total pengeluaran dunia. Belanja fesyen muslim dunia ditaksir mencapai US$ 488 miliar hingga 2019.
Negara muslim pembeli fesyen muslim terbesar pada 2013 dikuasai oleh Turki senilai US$ 39,3 miliar. Penguasa lima besar lainnya adalah Uni Emirat Arab US$ 22,5 miliar, Indonesia US$ 18,8 miliar, dan Iran US$ 17,1 miliar.
Dengan pengeluaran fesyen muslim yang semakin besar ini, industri fesyen modern dunia tumbuh dengan semakin cepat.
Namun, meningkatnya persaingan di bisnis fesyen ini menuntut pelaku usaha untuk menghadapi berbagai isu besar.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pembuatan peta ekosistem fesyen terbaru dunia, identifikasi praktis bisnis etis, dan proses transparansi, keadilan, dan permodalan yang sesuai prinsip Islami.
" Fesyen modern terus berkembang dan tak hanya bagian dari ekonomi islami dunia namun juga elemen penting untuk mendorong industri pakaan dan aksesoris serta rantai distribusi dunia," kata Abdulllah Al Anwar, CEO Dubai Islamic Economy Development Centre (DIEDC) seperti dikutip dari laman Zawya, Senin, 3 Juli 2015.
Menurut Abdullah, di tengah posisinya sebagai pasar menjanjikan, masih terbuka peluang bagi bisnis pakaian muslim untuk memberikan pengaruhnya diantara konsumen pakaian non muslim.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya


Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
