Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Duh, Orang Yang Bokek Berisiko 13 Kali Lebih Besar Kena Serangan Jantung. (Foto: Shutterstock)
Dream – Sahabat Dream, kesulitan finansial tak hanya berdampak buruk terhadap kesehatan mental, tetapi juga fisik.
Sebuah studi bahkan menunjukkan orang yang kesulitan finansial berisiko 13 kali lebih mungkin terkena serangan jantung. Sementara, orang yang stres karena bekerja enam kali lebih mungkin terserang jantung.
Dikutip dari studyfinds.org, Rabu 13 Februari 2019, periset dari Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan, merekrut 212 partisipan. Setengah dari peserta mengidap infrak miokard (penyumbatan otot jantung) akut.
Para peserta ini diminta untuk menyelesaikan survei tentang cara depresi, kecemasan, dan stres lainnya, termasuk profesional dan keuangan, mempengaruhi mereka.
Tingkat stres keuangan merupakan fokus utama peneliti. Mereka membaginya menjadi empat kategori, yaitu:
Periset menemukan tekanan dan depresi berkaitan erat dengan infrak miokard. Masalah uang dan pekerjaan adalah faktor risiko yang substansial.
Dari hasil riset, orang yang stres bekerja 5,6 kali lebih mungkin berisiko terkena serangan jantung, sedangkan stres akibat keuangan bisa meningkatkan hingga 13 kali lipat.
Sekadar informasi, riset ini dipresentasikan pada kongres tahunan “ 18th Annual Conggress of The South African Heart Association” di Johannesburg pada 2017.
Penulis utama studi ini, Denishan Govender, mengatakan, studi tersebut menunjukkan aspek psikososial yang merupakan risiko penting untuk infrark miokard. Inilah sebab dokter memberikan konseling tentang stres kepada pasien pengidap serangan jantung.
“ Tapi, perlu ada lebih banyak penekanan sebelum kejadian,” kata Govender.
Dia mengatakan dokter menanyakan kepada pasien tentang stres, depresi, dan kegelisahan yang dialami. “ Sama seperti kami memberikan saran tentang cara berhenti merokok, pasien memerlukan informasi tentang cara melawan stes,” kata Govender.
Para peneliti juga menemukan orang yang menderita depresi, baik ringan atau berat, tiga kali berisiko terkena serangan jantung.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya