Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Hari beranjak siang. Jarum jam hampir menunjuk pukul sebelas. Pada sebuah bank, yang menyempil di deretan perkantoran kawasan Tebet, Jakarta Selatan itu, hidup terasa lebih gegas. Lalu lintas di depan kantor itu terlihat riuh dan padat. Dua orang tamu datang. Masuk melalui pintu kaca yang dikawal satuan pengaman.
Di dalam ruangan, dua orang teller dan seorang petugas layanan konsumen telah bersiap di belakang meja. Mereka bekerja di sebuah ruangan cukup luas. Tiga kali sepuluh meter. Dua nasabah itu pun dilayani dengan sigap. Satu langsung menghadap teller. Lainnya mengisi formulir. Mereka bahkan tak sempat duduk di bangku antre menunggu, seperti yang lazim kita saksikan di tempat lain.
Itulah suasana kantor Bank Syariah Mandiri di Tebet akhir pekan lalu. Menjelang siang, sudah puluhan nasabah yang datang. Yang menarik, berbeda dengan bank konvensional, di sini tak terlihat antrean nasabah. Setiap nasabah yang datang langsung dilayani. Entah karena pelayanan yang serba cepat itu, peminat bank syariah terus melejit belakangan ini.
Jumlah nasabah juga kian berbiak. Pada 2011, misalnya, total pemilik rekening syariah 9,8 juta orang. Pada kuartal I 2014, jumlah nasabah melejit jadi 13,1 juta orang. Naik 37 persen. Jauh di atas pertumbuhan perbankan nasional. Dengan pertumbuhan yang melaju kencang itu, aset perbankan syariah kini mencapai Rp179 triliun.
****
Fenomena kegairahan perbankan syariah tidak berdiri sendiri. Ledakan penduduk muslim di berbagai pelosok negeri juga jadi pemicu. Di dalamnya, selain perbankan syariah, juga ada fenomena gaya hidup muslim. Pasar baru bagi si pencari untung.
Gaya hidup muslim menjadi motor baru di jagat perekonomian syariah. Bisnis ini menyusul keuangan syariah yang sudah lebih maju selangkah. Bahkan kini mulai meracuni sistem ekonomi negara bahkan mungkin dunia.
Ibarat gadis cantik dengan kesempurnaan yang dimilikinya, pasar gaya hidup muslim mencuri perhatian dunia. Tak cuma negara mayoritas muslim, negara-negara non muslim dunia ingin merasakan fenomena baru ini.
Terkuaknya kebobrokan ekonomi kapitalis jadi peluang hadirnya sistem ekonomi baru. Keinginan mempunyai sistem yang lebih manusiawi dan mengedepankan etika.
Antropolog dan pendiri gerakan Occupy Wall Street, David Graber begitu yakin, meningkatnya jumlah intelektual membawa dunia membuat ketergantungan berlebihan pada sistem bank yang beroperasi selama ini. Malang, kondisi ini malah berbalik menembak diri sendiri.
Jurang pemisah si kaya dan miskin kini makin lebar. Bank berlomba-lomba mencetak uang dan mengucurkan kredit. Alhasil kredit macet menggunung. Ujung-ujungnya, bank sentral menyumbangkan dana talangan dari ulah pemilik bank yang sembrono.
" Ini adalah contoh konsep dari kebobrokan moral. Keuntungan menjadi milik pribadi namun kerugian menjadi milik semua orang," kata Harris Irfan, penulis buku Heaven Banker's: Inside the Hidden World of Islamic Finance.
Di tengah krisis keuangan dunia, dunia muslim dengan beragam gayanya pelan-pelan jadi lirikan baru. Kondisi goncangan ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih jadi pemicunya. Tahun 2014 menjadi buktinya.
Tengok saja data-data dalam Laporan State of the Global Economy 2014-2015 terbaru yang dirilis Dinard Standard. Selama 2014, penduduk muslim dunia rela merogoh kantongnya sekitar US$ 2 triliun. Anggaran belanja itu tak berkurang dari tahun sebelumnya. Malah bertambah 9,5 persen.
Lain lagi cerita di pasar keuangan yang sudah berlari lebih dahulu. Pasar keuangan Islam dilaporkan memutar dana masyarakat hingga US$ 1,3 triliun hanya pada 2013.
Tahun ini, pelaku keuangan syariah malah semakin sibuk. Industri ini akan mengelola dana tak kurang US$ 4,2 triliun. Angka yang sangat besar untuk diacuhkan.
Namun harus diakui, pertumbuhan industri keuangan memang baru menyasar kelas kakap. Pasar dana syariah dan surat utang syariah (sukuk) masih mendominasi. Tahun ini diperkirakan akan ada pertumbuhan 14 persen dan 11 persen.
Sementara di industri keuangan, justru terjadi penurunan aset hingga 5 persen. Bisnis syariah belum dewasa di sektor ritel.
Kala ekonomi dunia mengerem pertumbuhan industri keuangan syariah, sektor gaya hidup justru jadi ladang baru selama 2014.
Untuk urusan makan, penduduk muslim dunia rela merogoh uang US$ 1,29 triliun agar memuaskan seleranya. Jumlah ini naik 10,8 persen dari tahun lalu.
Porsi pasar makanan halal juga semakin tambun. Tahun ini ada peningkatan 17,7 persen dari sebelumnya 16,6 persen.
Di dunia gaya hidup pakaian muslim juga mulai menciptakan pasar tersendiri. Kantong belanjaan para penggila fesyen dan alas kaki muslim dipenuhi barang-barang hingga US$ 266 miliar, naik 11,9 persen dari tahun 2014.
Sementara untuk urusan plesir, pangsa pasar yang tercipat ditaksid mencapai US$ 140 miliar, naik 7,7 persen dari tahun lalu. Bisa dibayangkan jika angka ini memasukan ritual tahunan haji dan umrah.
Sebagai manusia, kebutuhan rekreasi dan hiburan pun tak luput menjadi ajang bisnis bagi pasar muslim. Secara global, penduduk muslim dunia menghabiskan uang rekreasi dan budaya hingga US$ 185 miliar. Pasar ini setara dengan 5,2 persen dari industri rekreasi dan media dunia.
Dari sebagian sektor bisnis tersebut, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia menikmati untung dari mekarnya dunia bisnis halal sepanjang 2014. Sayang, Indonesia masih lebih banyak menjadi pasar ketimbang pemain.
Indonesia adalah pasar menarik bagi industri makanan dunia untuk mencoba menjejakkan kaki di Tanah Air. Dengan alokasi US$ 190 miliar, penduduk Nusantara adalah pasar raksasa yang menanti disuapi.
Begitu pula aktivitas belanja pakaian dan alas kaki, Indonesia adalah konsumen ketiga terbesar di antara negara muslim. Tak kurang dari US$ 18,8 miliar ditarik dari kantong-kantong pecinta belanja fesyen.
Hal yang sama terjadi di bisnis travel dan rekreasi. Penduduk Indonesia menghabiskan uang masing-masing UUS$ 7,5 miliar dan US$ 9,4 miliar.
Sampai-sampai, Indonesia juga menjadi tempat berjualan obat dan alat kosmetik halal dari produsen dunia. Di negara kepulauan ini, uang yang berputar di bisnis kosmetik dan farmasi menjadi US$ 4,9 miliar.
****
Tak mau dicap hanya sebagai pasar, pemerintah berbenah diri. Genderang perang ditabuh. Indonesia mendeklarasikan diri sebagai calon pasar utama syariah di dunia. Tak cuma industri keuangan, berbagai sektor dijual ke pasar luar negeri.
Dengan kekayaan alamnya, Indonesia mulai mengusik negara-negara tetangga yang mendeklarasikan diri sebagai kota tujuan wisata syariah. Bendera tanda perang dikibarkan pemerintah. Indonesia diarahkan sebagai kota tujuan wisata syariah.
Lewat World Islamic Tourism Mart 2014, Indonesia memaksa mata pelancong dan pebisnis travel untuk melirik kekayaan Tanah Air. Sebaliknya, otak pemerintah sudah dipenuhi dengan angka-angka devisa yang akan masuk.
Pemerintah mencatat ada dana besar hingga Rp 1.659 triliun pada 2013. Dan masih ada Rp 2.191 triliun yang menunggu dalam empat tahun mendatang.
Tak puas menjadi pusat wisata syariah, Indonesia pun membidik titel baru. Sebagai pusat keuangan syariah dunia. Menantang dominasi Malaysia dan Dubai yang telah terlebih dahulu memproklamirkan diri.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo dalam sebuah kesempatan mengatakan, instansinya akan mewujudkan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan syariah duia.
“ Dalam satu dekade ke depan, pangsa aset perbankan syariah ditargetkan mencapai 20 persen dari total aset perbankan nasional,” umbar Agus berapi-api.
Entah ada hubungan atau tidak, gayung seolah bersambut terhadap undangan orang nomor satu BI tersebut. Dubai Islamic Bank (DIB), bank besar dari jazirah Arab, meminang salah satu bank syariah Indonesia, PT Bank Panin Syariah Tbk.
DIB memutuskan membeli sekitar 25 persen saham Bank Panin Syariah. Pembelian ini belum final. Akan ada sekitar 15 persen saham yang akan kembali dimiliki DIB. Total 40 persen saham anak usaha Bank Panin ini akan menjadi milik perusahaan Uni Emirat Arab ini.
Sontak kabar pembelian ini jadi suntikan segar industri keuangan syariah. Maklum, keuangan syariah Indonesia masih bergelut dengan tipisnya modal. Belum lagi urusan variasi produk dan keahlian sumber daya manusia syariah.
Langkah Indonesia untuk sektor keuangan akan lebih mudah. Tahun depan, tampuk pimpinan tertinggi Dewan Islamic Financial Service Board (IFSB) akan dipegang Indonesia. Gubernur BI, Agus Martowardojo didaulat sebagai ketua dewan organisasi yang khusus menetapkan standar internasional di bidang jasa keuangan syariah.
Meski berjalan relatif pelan, Indonesia mulai mencari posisinya di persaingan bisnis halal dunia. Sebagai negara mayoritas muslim, Indonesia bisa menjadi penuntun bagi penduduk muslim dunia yang masih kebingungan menikmati gaya hidup barunya.
Karena itu 2014 boleh disebut sebagai kebangkitan bisnis halal di Indonesia. Dengan jumlah penduduk mayoritas muslim, Indonesia adalah pasar yang lapar. Tahun depan, niscaya bisnis halal di Indonesia akan semakin berkembang pesat. Tidak bisa tidak. (eh)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya