Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Merokok.
Dream - Membuat resume yang menarik, berlatih menjawab pertanyaan wawancara paling sulit, dan mengembangkan kepercayaan diri adalah jalan menuju sukses saat berburu pekerjaan.
Akan tetapi, ada hal yang tak nampak yang sering tidak diperhitungkan yang justru dapat menggagalkan rencana mendapat pekerjaan idaman. Hal yang tak nampak itu adalah kebiasaan buruk yang mengurangi peluang kita mendapat pekerjaan.
Tidak hanya peluang mendapat pekerjaan, kebiasaan buruk ini juga bisa menghalangi kita mengejar karier yang diidamkan, bahkan mendapat gaji yang diinginkan.
Kebiasaan buruk itu adalah merokok. Dilansir dari CheatSheet, Senin 9 Mei 2016, merokok merupakan salah satu kebiasaan buruk yang bisa merusak karier dan pekerjaan, menurut penelitian terbaru Stanford.
Melalui penelitian pengamatan selama setahun, peneliti menemukan bahwa perokok mengalami kesulitan saat pertama kali mencari pekerjaan
Tidak hanya itu, ketika mendapatkan pekerjaan, penghasilan perokok lebih rendah jika dibandingkan dengan yang non-perokok.
" Studi di Amerika Serikat dan Eropa telah menemukan prevalensi merokok lebih tinggi di antara pengangguran yang sedang mencari pekerjaan dibandingkan dengan mereka yang bekerja. Sementara itu, masih belum diketahui apakah penggunaan tembakau merupakan penyebab atau efek dari pengangguran," kata studi tersebut.
Penelitian ini melibatkan dua kelompok pengamatan yang dilakukan mulai dari 10 September 2013 hingga 15 Agustus 2015 di sekitar Bay Area, San Francisco, California. Dua kelompok pengamatan itu terdiri dari 131 perokok aktif dan 120 non-perokok, yang semuanya pengangguran yang mencari pekerjaan.
Gaji Lebih Rendah
© Dream
Hasilnya, tim peneliti Stanford menemukan perbedaan risiko merokok terkait pekerjaan yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa non-perokok rata-rata 30 pekerjaan lebih mungkin akan dipekerjakan kembali dalam rentang 1 tahun dibandingkan perokok.
Selain itu, di antara mereka yang dipekerjakan kembali dalam satu tahun, rata-rata gaji per jam untuk perokok secara signifikan lebih rendah.
" Secara khusus, perokok mendapatkan rata-rata US$4,68 (Rp62,26 ribu) lebih rendah dari non-perokok," tulis penelitian itu.
Menurut data penelitian tim Stanford menunjukkan bahwa merokok tidak memberi kenikmatan dalam bidang karier dan pekerjaan, malah menjadi beban. Kesimpulannya bahwa merokok adalah penghalang yang signifikan untuk para pencari kerja.
Tidak hanya itu, merokok juga memiliki dampak negatif pada pendapatan dan kemajuan karier. Tapi, hal ini tidak terlalu signifikan karena kita semua tahu ada juga perokok yang sukses.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya