Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Twitter dan Facebook, Pusat Perbelanjaan Masa Depan

Reporter : Ramdania
Senin, 6 Oktober 2014 17:27
Twitter dan Facebook, Pusat Perbelanjaan Masa Depan
Hampir semua orang kini telah memiliki akun di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Untuk itu, bukan hal yang tidak mungkin menjadikan media sosial ini sebagai media untuk jual beli online.

Dream - Media sosial seperti Twitter dan Facebook kini memainkan peran besar dalam dunia perdagangan global. Kini jejaring sosial ini tidak hanya sekadar sebagai tempat curhat dan berbagi informasi, tetapi mulai merambah sebagai tempat berdagang dan belanja online.

Ide menjadikan jejaring sosial seperti Facebook sebagai tempat jual beli online memang sudah lama tercetus. Hanya saja masih kurang populer. Namun, kini Facebook memiliki program untuk penjualan barang secara digital.

Menurut hasil riset Invesp yang dikutip dari Emirates 247, Senin, 6 Oktober 2014, diperkirakan nilai perdagangan online melalui jejaring sosial mencapai U$ 15 miliar pada tahun 2015.

Beberapa analis melihat hubungan antara jejaring sosial dengan jual beli online ini karena kebanyakan pengguna sering membahas produk dan merek dagang mereka dalam pesan.

" Berbagi adalah indikator yang cukup handal ketika seseorang mencari rekomendasi untuk membeli suatu barang atau menggunakan jasa," ujar Andy Stevens, Kepala Strategi dan Penelitian Share This, perusahaan yang menganalisis tren media sosial.

Sebuah studi Share This menemukan bahwa hampir 55% menggunakan rekomendasi dari sosial media ketika memutuskan pembelian suatu barang.

" Orang-orang mulai menyadari bahwa banyak calon pembeli menggunakan rekomendasi jejaring sosial dalam pengambilan keputusan," ujar Stevens.

Sementara itu, hasil riset perusahaan pemasaran DigitasLBi menemukan baru 5% penduduk Amerika yang telah melakukan pembelian di situs media sosial. Namun, diperkirakan terjadi peningkatan hingga 20% untuk ke depannya.

" Studi kami menunjukkan potensi yang luar biasa untuk pertumbuhan perdagangan via media sosial, terutama bagi konsumen muda," ujar Kepala Eksekutif DigitasLBi Tony Weisman.

Weisman mengatakan jika terdapat 20% penduduk Amerika berbelanja via media sosial maka nilai perdagangan tersebut diperkirakan mencapai US$ 56 miliar. Namun, ada kekhawatiran mengenai keamanan di media sosial ini seperti untuk data keuangan, privasi, dan proses pembelian.

Jika mereka mengetahui keamanan mengenai data mereka, maka jumlah konsumen via media online justru akan melonjak hingga 42%.

Perdagangan online juga masih mengalami kendala yaitu belum menemukan strategi yang tepat dalam pemasarannya. Pasalnya, banyak calon konsumen yang belum mengetahui kualitas merek-merek baru yang dijual via media sosial ini.

Seorang analis dari Opus Research Greg Sterling mengatakan jual beli online via media sosial merupakan hal yang cerdas, tetapi penjual perlu strategi yang jelas.

" Jika hanya mengandalkan dari tombol " beli" maka tidak akan efektif. Untuk itu perlu membangun konteks," ujarnya.

Sterling mengatakan terdapat teknik " retargeting" di mana konsumen dapat melihat iklan suatu produk berdasarkan ketertarikannya. Jadi media sosial perlu menyadari tren ini sehingga iklan yang diberikan tidak menganggu pemilik akun.

Beri Komentar