Kanker Paru, Pemicu Kematian Tertinggi di Indonesia

Reporter :
Selasa, 23 November 2021 17:48
Kanker Paru, Pemicu Kematian Tertinggi di Indonesia
Lakukan pencegahan dan pemeriksaan dini.

Dream - Setiap tahunnya, tanggal 17 November diperingati sebagai Hari Kanker Paru Sedunia. Kanker paru sendiri merupakan salah satu penyakit paling mematikan. 

Data GLOBOCAN 2020 menyatakan bahwa angka kematian akibat kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 18% menjadi 30.843 orang dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus. Angka tersebut membuat kematian akibat kanker paru baik di Indonesia mau pun di dunia menempati urutan pertama di antara semua jenis kanker.

Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Paru, Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP), mengadakan Diskusi Publik #LungTalk untuk membahas mengenai urgensi penyintas kanker paru terhadap akses pengobatan inovatif, serta mengedukasi masyarakat luas terkait situasi dan perkembangan terkini kasus kanker paru di Indonesia.

Hingga saat ini, akses pengobatan penyintas kanker paru di JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) masih belum merata. Berdasarkan Laporan Keuangan BPJS 2019, hanya 3% dana dari JKN telah dialokasikan untuk pengobatan kanker, termasuk kanker paru. 

1 dari 3 halaman

Sistem Kerja Pengobatan Imunoterapi

Saat ini, JKN hanya menjamin pengobatan personalisasi/ inovatif bagi penyintas kanker paru dengan mutasi EGFR positif. Padahal, hampir 60% dari penyintas kanker paru memiliki mutasi EGFR negatif yang memerlukan pengobatan atau terapi yang lain, seperti imunoterapi, dan belum ditanggung JKN. 

Dokter Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dalam acara virtual tersebut mengatakan, prevalensi kanker paru di Indonesia memang masih tinggi.

Saat ini pengobatan yang bekerja spesifik sesuai tipe kanker paru sudah tersedia. Baik bagi penyintas dengan Mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) positif atau pun negatif sesuai dengan pedoman internasional. Termasuk pembedahan, kemoterapi, terapi target dan imunoterapi.

" Berbeda dengan pengobatan yang lain, sistem kerja dari pengobatan imunoterapi langsung menghambat sinyal negatif yang digunakan kanker untuk mengelabui sistem imun tubuh melawan kanker," ujar dr. Sita.

Dengan begitu, sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut. Imunoterapi diharapkan dapat menjawab kebutuhan penyintas dan dapat menekan laju pertumbuhan angka beban kanker paru. 

“ Dengan adanya terobosan dalam penanganan kanker paru, tentu saja saya berharap hal tersebut dapat meningkatkan harapan dan kualitas hidup penyintas kanker paru di Indonesia. Sebab, peningkatan kualitas hidup penyintas kanker paru tidak terlepas dari kemudahan mendapatkan akses dari tahap diagnosis, terapi dan tata laksana paliatifnya,”  ungkap dr. Sita.

2 dari 3 halaman

Langkah Preventif

Seringkali kanker paru hanya dikaitkan dengan kebiasaan merokok, sehingga ada anggapan bahwa upaya peningkatan akses pengobatan (kuratif) kanker paru belum memiliki urgensi. Faktanya, ditemukan sebuah karakteristik unik di daerah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, bahwa jumlah non perokok dan perempuan yang didiagnosis dengan kanker paru lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain di dunia (EIU, 2020).

Untuk itu tak bisa dikesampingkan pentingnya meningkatkan akses ke pengobatan yang paling direkomendasikan untuk setiap jenis kanker paru.

" Satu lagi terpenting adalah tindakan pencegahan (preventif) yaitu menjauhi rokok, skrining kanker paru dan deteksi dini kanker paru. Skrining kanker paru adalah upaya mendiagnosis kanker sebelum terjadi gejala," ujar dr. Sita.

Skrining diharapkan dapat dilakukan pada usia dewasa, risiko tinggi yaitu riwayat merokok, perokok pasif, atau bekas perokok, riwayat pajanan pekerjaan, riwayat genetik kanker, dan riwayat fibrosis paru. Sedangkan deteksi dini adalah upaya untuk mendeteksi kanker dalam stage yang lebih dini, saat terjadi gejala yaitu batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada.

Deteksi dini kanker paru hendaknya disatukan dengan program deteksi dini TB paru, sehingga dapat terdeteksi di stadium dini. Skrining dan deteksi dini dapat dilakukan melalui CT scan toraks dosis radiasi rendah (Low-dose CT thorax).

3 dari 3 halaman

Rekomendasi Penting Terkait Penanganan Kanker Paru di Indonesia

Pada diskusi tersebut, IPKP dan CISC menyampaikan rekomendasi agar penanganan kanker paru di Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya. Pertama, penyintas kanker paru berharap agar kanker yang paling mematikan ini menjadi prioritas nasional. Sebab, kesehatan adalah hak asasi manusia dan penyintas kanker paru berhak mendapatkan pengobatan yang paling sesuai tipe kanker paru yang dialami penyintas. 

Disamping itu, dibutuhkan juga peningkatan SDM khususnya di layanan primer terkait protokol deteksi dini dan membuka akses penyintas terhadap skrining tumor pada paru. Selain itu, penting untuk menggencarkan edukasi yang berkesinambungan tentang gejala dan pengendalian faktor risiko.

Rekomendasi kedua, akses penyintas kanker paru terhadap pengobatan yang berkualitas dan bekerja sesuai tipe kanker paru, seperti Imunoterapi untuk kanker paru dengan mutasi EGFR negatif, perlu ditingkatkan agar penyintas mendapatkan hak melalui JKN secara penuh sesuai pedoman klinis penatalaksanaan kanker paru.  Lalu rekomendasi ketiga, saat ini masih dibutuhkan gerakan nasional yang kolektif dan kolaboratif oleh seluruh kelompok kepentingan untuk penanggulangan kanker paru di Indonesia.

" Seyogyanya BPJS Kesehatan menjamin pengobatan sesuai sub tipe kanker parunya, mengingat jumlah pasien yang datang berobat, mayoritas terdiagnosis stadium lanjut dan kematian akibat kanker paru adalah yang tertinggi dan terus meningkat,” ujar Megawati Tanto selaku Koordinator CISC Paru.

Beri Komentar