Cerita Pria 72 Tahun Survivor Alzheimer, Semangat Jalani Hidup

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 27 September 2021 10:47
Cerita Pria 72 Tahun Survivor Alzheimer, Semangat Jalani Hidup
Di Indonesia diperkirakan penderita Alzheimer menjadi 2 juta pada 2030 dan 4 juta pada 2050.

Dream - Penurunan fungsi otak yang mempengaruhi daya ingat, emosi, perilaku dan fungsi otak lainnya dapat terjadi seiring berjalannya usia. Kumpulan gejala tersebut merupakan gejala demensia.

Sayangnya, demensia masih sering dianggap normal sehingga penanganannya pun terlambat. Dikutip dari Alzi.or.id, setiap 3 detik, 1 orang di dunia terkena demensia. Di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat 1,2 juta penderita demensia pada 2016, diperkirakan meningkat menjadi 2 juta pada 2030 dan 4 juta pada tahun 2050.

Bulan September merupakan bulan yang spesial dan diakui World Health Organization (WHO), sebagai bulan Alzheimer dunia dan sudah diperingati selama 10 tahun sebagai bentuk dukungan dan kepedulian kepada orang yang mengidap penyakit alzheimer serta keluarga pendampingnya.

Salah satu penderita demensia, Wiliam Guntoro dalam diskusi virtual " Kenali Demensia Alzheimer, Pentingnya Deteksi Dini" yang diselenggarakan Alzheimer's Indonesia, Jumat 24 September 2021, bercerita dia didiagnosa menderita demensia alzheimer sejak 2018. Awalnya, pria 72 tahun, memiliki pekerjaan cukup banyak.

 

1 dari 5 halaman

Suatu ketika ia mulai sering lupa menaruh barang, file pekerjaan, bahkan sampai lupa hari. Di lain waktu William tidak bisa mengingat jalan pulang meski jalan yang dilaluinya hanya lurus saja tidak belok-belok. Untungnya, dia membawa handphone dan dapat menelepon keluarganya.

Dengan kondisi yang mulai mengkhawatirkan, William pun berkonsultasi ke dokter. Ia juga melakukan tes MRI dan menjalani proses pemeriksaan yang panjang. William didiagnosa menderita demensia Alzheimer mild stage.

Dengan pemeriksaan dini dan menjalani perawatan, William masih rutin melakukan meminum obat yang diresepkan dan mampu bekerja di kantor hingga menyetir mobil.

Figur publik yang juga aktivis seni, dan salah satu pegiat Alzi, Ayu Dyah Pasha, dalam diskusi ikut mensosialisasikan gerakan melawan pikun. Ia mengkhususkan diri membantu lansia. Menurutnya sangat penting bagi lansia dalam menjalankan pekerjaan dan hobinya.

" Tidak hanya bagi keluarga dan lingkungan, terbukti banyak sekali orang justru produktif di usia lansia," kata Ayu.

 

2 dari 5 halaman

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya akan berupaya melakukan berbagai pencegahan yang dapat mengurangi tingginya angka Orang dengan Demensia (ODD). Rupanya kondisi pandemi turut menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah ODD.

" Kemenkes turut mendorong dan memfasilitasi pengembangan peran masyarakat dalam penyebaran informasi pencegahan dan pengendalian demensia, dan mengembangkan kegiatan deteksi dini yang efektif dan efisien terutama bagi masyarakat berisiko,” ujar Budi Sadikin.

Selain itu, lanjut Menkes, perlu adanya peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia dan penguatan institusi serta standarisasi pelayanan hingga mengembangkan jejaring kemitraan secara multidisiplin di semua sektor baik di jenjang pemerintah maupun swasta.

Laporan Syifa Putri Naomi

3 dari 5 halaman

Fakta Soal Penyakit Alzheimer, Bukan Sekadar Pikun

Dream - Bulan September diperingati sebagai bulan Alzheimer sedunia. Demensia merupakan gejala penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Sementara, demensia Alzheimer adala hgangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi emosi, daya ingat, dan pengambilan keputusan seseorang yang biasa dikenal dengan pikun.

Yayasan Alzheimer Indonesia (ALZI) memperingati bulan Alzheimer sedunia ke-9 dengan menghadirkan rangkaian webinar bertema “ Let’s talk about Dementia” atau “ Mari Berbicara Seputar Demensia”. Dalam webinar tersebut terungkap kalau kasus kematian pasien Alzheimer karena Covid-19 sangat tinggi,

" Berdasarkan penelitian kolaboratif antara London School of Economics dan University College of London, secara global, sekitar 75% kematian pasien yang terpapar Covid-19 adalah orang dengan demensia sebagai penyakit penyerta (underlying condition). Usia merupakan faktor terbesar terkait dengan demensia, golongan lansia memiliki risiko paling tinggi terhadap paparan Covid-19 dengan 86% kematian terjadi pada golongan usia 65 tahun ke atas,” ujar DY Suhary, Direktur Regional Alzheimer Asia Pasifik sekaligus Penggagas ALZI.

 

4 dari 5 halaman

Pandemi Bisa Memperparah Pasien Alzheimer

Kondisi pandemi COVID-19 yang berlangsung saat ini membuat banyak manula merasa sangat kesepian. Untuk mereka yang berusia senja, memang sangat rentan tertular Covid-10 jika dijenguk anak cucu, terutama yang tinggal di zona merah Covid-19.

Merasa kesepian, kecemasan, dan depresi. PSBB dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental masyarakat dan ini berdampak pada psikologis penderita Alzheimer yang bisa memicu kondisinya makin menurun.

 

5 dari 5 halaman

Peningkatan Signifikan

Pada 2016 di Indonesia diperkirakan telah ada sekitar 1,2 Juta ODD (Orang Dengan Demensia Alzheimer), angka yang ada saat ini berpontensi meningkat menjadi 2 juta orang pada 2030 dan 4 juta orang pada 2050.

Waduh, Puyeng Kelola Uang Bisa Jadi Penanda Demensia© MEN

Dari laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), 2 dari 3 orang masih berpikir bahwa demensia atau pikun adalah bagian normal dari penuaan. Padahal faktanya tidak demikian, dengan pola hidup sehat, Alzheimer bisa dicegah.

Antara lain dengan konsumsi makanan bergizi seimbang. Perbanyak juga konsumsi buah dan sayuran. Hindari merokok dan minuman alkohol, jaga berat badan dan lakukan kegiatan positif serta belajar mengendalikan level stres.

 

Beri Komentar