Jenis Tumor Kanker Kolorektal dan Pengobatanya

Reporter : Dwi Ratih
Rabu, 27 Januari 2021 13:11
Jenis Tumor Kanker Kolorektal dan Pengobatanya
Seperti apa saja ya?

Dream – Kanker Kolorektal (KKR) merupakan penyakit sel ganas yang terdapat pada usus. Penyakit ini memiliki perbedaan jenis sel tergantung pada tubuh manusia.

“ Setiap individu memiliki variasi gen berbeda. Begitu juga dengan sel kanker. Muncul perbedaan itu karena perbedaan variasi gennya dan faktor lingkungan,” tutur Konsultan Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM Dr Ikhwan Rinaldi pada Virtual Media Briefing mengenai Personalised medicine pada Kanker Kolorektal, Selasa, 26 Januari 2021.

Dalam pengobatannya, setiap jenis sel juga berbeda satu dengan yang lain. Ada obat yang sifatnya genomik dan personalised medicine atau mengenali genotipe pasien dan memberikan obat sesuai dengan gennya.

Maka obat genomik menjadi kunci utama untuk menilai informasi genetik masing-masing orang dan pengaruh lingkungan terhadap sel kanker.

“ Diharapkan dengan adanya pengobatan personalised medicine yang disesuaikan dengan karakter sel kankernya, maka pengobatan dapat lebih baik pada pasien KKR,” ujar Dr. Ikhwan.

Berikut penjelasan karakter sel KKR dan pengobatannya menurut Dr. Ikhwan Rinaldi.

1 dari 4 halaman

1. CMS1

Umumnya CMS1 memiliki kekambuhan berulang yang rendah dan sangat diperlukan diberikan kemoterapi lanjutan.

Microsatellite instable (MSI) menilai kalau pemberian obat harus dua obat. CMS1 memiliki imunogenitas yang tinggi sehingga lebih baik digunakan pengobatan gabungan Imunoterapi dan kemoterapi.

Ilustrasi© Shutterstock

2. CMS2

Pada CMS2 lebih sering terjadi di lesi kiri (59%) dengan tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi setelah kambuh, jadi disaat kambuh sel bisa hidup sampai 35 bulan.

Pengobatan biasanya dilakukan dengan kemoterapi Adjuvant standar (FOLFOX).

2 dari 4 halaman

3. CMS3

CMS3 memiliki frekuensi KRAS-mutasi yang lebih tinggi di antara tumor yang membatasi opsi kemoterapi standar, karena KRAS mutan biasanya merupakan indikator respons yang buruk terhadap reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR) antibodi monoklonal (mAb). Jadi obatnya bisa dengan anti HER2 (biasa digunakan untuk kanker payudara).

Tumor CMS3 yang tidak menunjukan mutasi KRAS, EGFR mAbs mungkin dapat digunakan dan terbukti berguna.

Ilustrasi© Shutterstock

4. CMS4

Tumor ini sering didiagnosis pada stadium lanjut, memiliki prognosis yang burung dengan keberlangsungan hidup keseluruhan 5 tahun terburuk dan keberlangsungan hidup bebas kambuh (60%) subtipe molekul.

Meskipun FOLFOX untuk stadium III biasa dianjurkan dalam pengobatan tetapi pada CMS4 tidak menunjukan manfaat.

Untuk penyakit metastatik, CMS4 bisa tahan terhadap terapi anti-EGFR, tergantung status mutasi KRAS.

Untuk terapi anti-angiogenesis seperti bevacizumab bisa menjadi tambahan standar untuk penyakit stadium IV.

Laporan: Josephine Widya

 

3 dari 4 halaman

Alhamdulillah, Feby Febiola Sembuh dari Kanker Ovarium Usai Enam Kali Kemo

Dream - Feby Febiola membawa kabar bahagia. Setelah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, ia pun dinyatakan sembuh dari kanker ovarium yang diidapnya selama ini.

"  Akhirnya setelah menjalani chemotherapy selama 6X hasil tumor marker aku menunjukan hasil yg luar biasa..semuanya dibawah rata rata..artinya tidak ada sel yg aktif lagi,"  kata Feby.

Bagi Feby, sampai bisa ke titik ini tidaklah mudah. Karena ia harus menggunduli kepalanya hingga harus tinggal di Bali untuk memulihkan kondisinya.

Ia pun bersyukur karena disaat kondisinya seperti itu, masih banyak kerabat serta sahabat yang mendoakannya.

 

"  Makasih buat doanya teman teman, makasih juga sudah kasih kata kata dukungan, aku doakan yg baik baik juga yang terjadi dengan kalian,"  kata dia.

Feby pun juga mendoakan para pejuang kanker lainnya agar dibseri kesembuhan seperti dirinya. Karena, Feby yakin apa yang terjadi dengannya sudah takdir dari Tuhan.

"  Tuhan tidak pernah berjanji langit akan selalu cerah, tapi Dia berjanji akan selalu menyertai seumur hidup kita," katanya.

4 dari 4 halaman

Feby Febiola Shock Saat Divonis Kanker Ovarium

Dream - Feby Febiola mengku shock saat divonis mengidap kanker ovarium oleh dokter. Dia benar-benar tertekan saat mendapat vonis tersebut.

" Bukan stres lagi. Jadi begini, karena gue itu saat-saat paling nervous adalah saat gue dibilang ada massa pas lagi CT scan itu,” ujar Feby Febiola dalam YouTube Maia Estiaty.

Usai tahu ada kanker di rahimnya, Feby Febiola menempuh operasi yang dikenal dengan frozen section untuk mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium.

Sambpel itu diteliti untuk mengetahui jenis kanker tersebut ganas atai tidak. Setelah menjalani operasi, Feby Febiola bertanya kepada sang suami tentang hasil tes laboratorium sampel sel kankernya termasuk ganas atau tidak.

Febi Febiola© Febi Febiola

" Suamiku bilang, ya, itu kanker ganas. Pas dengar itu kanker ganas, gue santai saja," urai Feby Febiola.

Namun, wanita kelahiran Jakarta 24 Mei 1978 itu mengaku sedikit lega karena kanker ovariumnya belum menyebar.

" Suamiku bilang, tapi menurut penglihatan mata dokternya belum nyebar. Pas dibilang belum nyebar itu, gue agak lega," kata Feby.

Namun, istri Franky Sihombing ini mengingat momen menegangkan usai divonis kanker ovarium. Ia sudah melakukan pengangkatan tumor tapi dokter harus mengecek kembali untuk mengetahui apakah penyakitnya sudah menyebar atau belum

" Yang paling seram, waktu dokter bilang begini, 'Mbak Feby, kita sudah berhasil angkat tumornya. Tapi untuk tahu sampai mana penyebarannya, itu kita harus tunggu seminggu lagi'. Muka gue langsung pucat," ucapnya.

Penantian selama sepekan diisi Feby Febiola dengan doa. Setelah itu dokter menyatakan sel-sel kanker belum menyebar tapi ia harus menjalani kemoterapi. Habis operasi berat badannya turun sekitar 7 kg.

" Naiknya justru habis kemoterapi. Cuma memang kemoterapi ada efeknya sekitar dua atau tiga hari gue merasa bad mood, pegal-pegal, badan gue kayak ada semut gitu lo tiba-tiba jalan di (bagian tubuh) mana, kayak diestrum-setrum," tuturnya.

Sumber : YouTube.com

Beri Komentar