Gejala dan Risiko Kanker Kolorektal yang Mulai Meningkat di Asia

Reporter : Dwi Ratih
Rabu, 27 Januari 2021 08:45
Gejala dan Risiko Kanker Kolorektal yang Mulai Meningkat di Asia
Apa itu kanker kolorektal?

Dream – Kanker Kolorektal (KKR) merupakan penyakit ganas yang berasal dari jaringan usus besar, terdiri dari kolon yaitu bagian terpanjang dari usus besar dan rektum yakni bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus.

Gejala kanker kolorektal seringkali baru dirasakan pasien ketika kanker sudah berkembang jauh atau mengalami metastasis.

“ Sel kanker sebenarnya adalah sel normal yang ada dalam tubuh kita, kalau sel normal dia akan mati saat sudah tua, namun kalau sudah menjadi sel kanker dia akan menjadi ganas atau bertumbuh lebih dari seharusnya dan tidak akan mati walaupun berumur tua,” ujar Konsultan Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM Dr. Ikhwan Rinaldi pada Virtual Media Briefing mengenai Personalised medicine pada Kanker Kolorektal, Selasa, 26 Januari 2021

Dr Ikhwan menjelasksn KKR terjadi karena sel di usus berubah menjadi ganas dan kemungkinan bisa semakin membesar. Saat kondisi sudah parah seperti ini, sel ganas itu dapat menyumbat atau mengurangi fungsi kerja pencernaan.

KKR merupakan penyakit ketiga terbanyak di dunia. Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2018 terdapat sekitar 1.849.518 kasus baru KKR. Masih di tahun yang sama terdapat 880.792 kasus kematian terkait KKR pada 2018.

Sedangkan data dari Globalcan 2012 melaporkan insiden KKR di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk dewasa dengan moralitas 9,5 persen dari seluruh kasus kanker.

Studi terbaru menemukan bahwa insiden kanker KKR dan paru-paru cenderung meningkaty di negara berkembang, khususnya Asia.

Perubahan tersebut terjadi karena adopsi gaya hidup terkait kanker, misalnya merokok, minum alkohol, aktivitas fisik, obesitas, diet tinggi lemak dan rendah serat, faktor risiko lingkungan dan pekerjaan akibat paparan polusi udara, asap ruangan, serta terkontaminasi suntikan dalam perawatan kesehatan.

1 dari 4 halaman

Gejala KKR

Gejala KKR akan muncul dan dialami pasien ketika sel kanker sudah berkembang jauh. Ikhwan menjelaskan jenis gejalanya akan berbeda-beda pada setiap pasien tergantung kepada ukuran dan lokasi tumbuhnya sel kanker.

Namun beberapa gejala KKR yang dapat muncul, antara lain:

- Diare atau konstipasi
- Buang air besar yang terasa tak tuntas
- Adanya darah pada tinja
- Mual, muntah
- Perut terasa nyeri, kram, atau kembung
- Tubuh mudah lelah
- Berat badan turun tanpa sebeb yang jelas

2 dari 4 halaman

Faktor risiko KKR

Secara global, KKR merupakan jenis kanker ketiga yang paling banyak pada laki-laki dan kedua paling banyak pada wanita. Lebih dari 86 persen pasien yang didiagnosis dengan KKR berusia kurang dari 50 tahun dan asimptomatik atau tak menunjukan gejala.

Secara keseluruhan risiko mendapat KKR adalah 1 dari 20 orang atau sekitar 5 persen.

Ilustrasi© Shutterstock

Risiko penyakit cenderung lebih sedikit pada wanita dibandingkan pada pria. Banyak faktor lain yang meningkatkan risiko terkena KKR, faktor yang dapat memicur KKR, sebagai berikut:

Usia: risiko KKR akan meningkat seiring bertambahnya usia. Lebihdari 90% kasus KKR dialami orang dengan usia 50 tahun atau lebih.

Riwayat penyakit: seorang dengan riwayat penyakit polip kolorektal lebih berisiko terserang KKR, begitu juga seseorang dengan keluarga yang pernah mengalami penyakit kanker atau polip ini.

Penyakit genetik: seseorang dengan penyakit turunan dari keluarga, seperti sindrom lynch, berisiko tinggi mengalami KKR.

Radang usus: KKR berisiko tinggi menyerang penderita Kolitis ulseratif atau crohn.

Gaya hidup: kurang olahraga, kurang asupan serat, konsumsi minuman alkohol, obesitas, dan merokok meningkatakn risiko KKR.

Radioterapi: paparan radiasi pada area perut meingkatkan risiko KKR.

Diabetes

3 dari 4 halaman

Pengobatan KKR

Menurut Ikhwan pengobatan KKR dibagi menjadi tiga, yaitukonsisi lokal (awal), lokal lanjut (menengah), dan metasis (lanjut).

Pada kondisi lokal dan lokal lanjut dapat diobati melalui operasi pada sel kanker ganas dilanjutkan dengan kemoterapi atau radio terapi tambahan agar sel kanker tindak tumbuh kembali.

Sedangkan pada metasis tindakan yang dilakukan dengan kemoterapi sebagai pengobatan utama dan operasi hanya untuk kondisi penyebaran sel kanker di satu lokasi dan tidak banyak atau berukuran kecil atau hanya untuk membuang kantong penampung fases di sekitar perut.

“ Pengobatan kanker kolorektal bisa dengan operasi bila sel belum membesar atau masih di tempat sel ganas itu saja, tetapi kalau sudah menyebar perlu pengobatan lebih lanjut setelah pengoprasian, seperti biopsi dahulu kemudian diberi kemoterapi, imunoterapi, atau terapi target,” tutur Dr. Ikhwan.

 

4 dari 4 halaman

Apa itu personalised medicine?

Pengobatan kanker saat ini juga mengalami perkembangan pesat seiring perkembangan teknologi kedokteran baik dalam diagnosis maupun pengobatan.

Saat ini kemoterapi bukan satu-satunya pengobatan yang diberikan pada pasien KKR stadium akhir.

Seperti yang disebutkan Dr. Ikhwan bahwa sudah terdapat targeted terapi atau terapi target dan juga imunotarget yang sudah mulai dikembangkan.

Selain itu pengobatan kanker juga mulai mengenal personalised medicine, apa itu personalised medicine?

Suatu konsep yang didasarkan dengan mempelajari genotipe pasien sehingga pasien mendapatkan terapi atau obat yang tepat untuk penyakitnya.

Landasan ini dikembangkan berdasarkan variasi genetik pada setiap orang.

“ Dengan menguji genetik terlebih dahulu pada pasien sebelum memberikan obat pada pasien, jadi bisa menentukan obat apa yang cocok dan sesuai dengan masing-masing pasien sehingga respon terhadap obat pun baik” jelas Dr. Ikhwan.

Laporan: Josephine Widya

Beri Komentar