Bahaya Konsumsi Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Reporter : Ferdike Yunuri Nadya
Minggu, 7 November 2021 13:00
Bahaya Konsumsi Antibiotik Tanpa Resep Dokter
Terlalu sering meminum antibiotik, bakteri jahat dalam tubuh bisa jadi kebal dan sulit dibunuh menggunakan antibiotik.

Dream - Berdasarkan data dari World Health Organization/ Badan Kesehatan Dunia (WHO), selama 15 tahun terakhir, penggunaan antibiotik meningkat sampai 91% secara global. Di negara berkembang sendiri, meningkat hingga 165%.

Salah satunya dipicu oleh banyaknya penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai menjadi salah satu penyumbang terbesar angka resistensi antimikroba (AMR) di dunia kesehatan.

Agus© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

Resistensi antimikroba ini adalah keadaan saat bakteri, virus, atau jamur tidak lagi merespons obat-obatan yang dirancang untuk membunuh mikroba-mikroba tersebut. Jadi bakteri jahat dalam tubuh agak kebal dan tidak dapat dibunuh secara optimal menggunakan antibiotik.

“ Peningkatan tajam penggunaan antibiotik ini membuat AMR masuk ke dalam 10 ancaman kesehatan global paling berbahaya di dunia dan perlu ditangani dengan baik,” ujar Prof. dr. Agus Suwandono, Koordinator INDOHUN pada konferensi virtual Tuntas Beri Tuntas Pakai, 5 November 2021.

1 dari 5 halaman

AMR Sebabkan Sulitnya Penyembuhan dan Naiknya Biaya Berobat

Implikasi dari AMR adalah sulitnya penyembuhan penyakit dan semakin tingginya biaya kesehatan.

Menurut penelitian dari European Observatory on Health Systems and Policies mengatakan bahwa rata-rata biaya perawatan yang dikeluarkan oleh pasien yang non-resistan terhadap bakteri Escherichia coli adalah sebesar US $ 10.400 atau sekitar Rp149 juta.

Sedangkan bagi pasien yang resistan nilainya bertambah sebanyak 6.000 Dollar AS atau sekitar Rp86 juta, yang meliputi biaya perawatan, diagnosa, obat-obatan, dan layanan pendukung lainnya.

2 dari 5 halaman

Cara Menghambat Laju UMR dari Kementerian

Untuk menghambat laju AMR, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Penatagunaan Antimikroba (PGA) tentang implementasi PPRA di rumah sakit. Hal ini bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan resistansi antimikroba, meningkatkan kesembuhan pasien, menurunkan angka kejadian rawat inap berkepanjangan, dan menurunkan kuantitas penggunaan antimikroba.

Hary© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

“ Tim dari PGA ini membantu pelayanan kesehatan dalam menerapkan penggunaan antimikroba secara bijak dan mendampingi dokter dalam menetapkan diagnosis penyakit infeksi, memilih jenis antimikroba, dosis, rute, saat dan lama pemberian,” jelas dr. Harry Paraton pada kesempatan yang sama.

3 dari 5 halaman

Hambat Laju AMR dari Diri Sendiri

Antibiotik selama ini dipercaya sebagai obat yang manjur untuk segala jenis penyakit, hal itu salah kaprah. Antibiotik tak boleh diminum sembarangan dan harus mengikuti resep dokter.

Tri© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

“ Masyarakat seringkali membeli antibiotik sebagai pertolongan pertama pada penyakit ringan dan obat-obat ini seringkali dijual tanpa resep,” ujar Prof. dr. Tri Wibawa, PhD, SpMK(K), Guru Besar FKKMK Universitas Gadjah Mada pada kesempatan yang sama.

Untuk mengendalikan laju resistensi antibiotik, edukasi terhadap masyarakat tentang antibiotik harus digalakan. Toko-toko obat dan apotek juga harus bijak dalam menjual antibiotik. (mut)

4 dari 5 halaman

Redakan Sakit Kepala Tanpa Obat dengan Gerakan Simpel

Dream - Sakit kepala termasuk keluhan umum yang dialami banyak orang. Terutama dalam situasi pandemi seperti sekarang, bekerja di rumah dengan postur buruk atau cahaya yang tak memadai, atau mungkin stres.

Kondisi tersebut bisa dengan mudah memicu munculnya sakit kepala. Sebagian besar sakit kepala terjadi akibat tekanan berlebihan pada otot dan persendian di sekitar area leher bagian atas.

Kondisi tersebut juga memberi tekanan pada saraf di tulang belakang. Akibatnya adalah rasa sakit menjalar ke bagian belakang mata dan dahi. Biasanya sakit kepala terjadi ketika bangun di pagi hari atau melakukan aktivitas yang terlalu panjang, terutama jika memiliki pekerjaan yang mengharuskan duduk depan laptop seharian.

Untuk meredakan sakit kepala, hindari dulu konsumsi obat. Coba saja latihan peregangan. Bisa dilakukan di pagi hari atau saat istirahat kerja untuk meminimalkan dan mengurangi potensi sakit kepala akibat otot yang tegang.

 

5 dari 5 halaman

Dokter Adam Fehr, PT, DPT, CSCS, seorang ahli fisioterapi memberi tahu cara praktis untuk meregangkan leher sehingga meringankan nyeri leher dan sakit kepala karena tegang (tension headache).

Lakukan langkah berikut:
- Tempelkan dagu ke leher seperti membuat double chin
- Lalu taruh satu tangan dan dorong rahang ke belakang
- Terakhir, letakkan tangan yang lain di belakang kepala, lalu dorong secara pelan ke depan dan ke bawah. Sampai merasakan peregangan di bagian belakang leher
- Tahan posisi ini selama 30 detik dan ulangi beberapa kali

Lihat videonya agar lebih jelas.

 

@dr.afehr.dpt

☑️ Can be really helpful for tension headaches and the like ##neckpain ##tensionheadache ##chiro ##medstudent

♬ Ride It - Regard

 

Laporan Syifa Putri Naomi/ Sumber: PopSugar/ Leading Edge Physical Therapy

Beri Komentar