Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Periksa Nadi Sendiri (Foto: Shutterstock)
Dream - Stroke termasuk penyakit kardiovaskular yang dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian mendadak. Pemicunya bisa banyak hal, salah satunya adalah Fibrilasi Atrium (FA).
Kondisi FA ini merupakan kelainan pada ritme detak jantung yang diakibatkan oleh gangguan listrik di jantung.
Gangguan FA terjadi ketika sumber listrik yang berlebihan datang dari serambi jantung, terutama di bagian kiri yang memiliki empat vena pulmonaris. Frekuensi listrik yang berlebihan
menyebabkan terjadinya turbulensi darah di dalam jantung. Hal tersebut mengakibatkan sensasi berdebar yang tidak beraturan pada jantung.
Bila dibiarkan, darah dapat berhenti dan menggumpal di bagian kuping jantung yang terdapat di serambi kiri. Apabila terlepas, gumpalan ini akan masuk ke bilik kiri dan diteruskan ke otak
sehingga menyebabkan stroke. Inilah mengapa, penderita FA berisiko lima kali lebih tinggi terserang stroke.
" Gangguan tersebut memang banyak menyerang pada usia lanjut, tapi mereka yang berada di usia produktif di bawah 60 tahun juga berisiko terkena FA. Gaya hidup yang tidak sehat
semakin memperkuat kemungkinan terjadinya FA," ungkap Yoga Yuniadi, selaku Guru Besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di
Palmerah, Jakarta Barat, Rabu, 11 Oktober 2017.
FA ditandai dengan gejala irama detak jantung yang tidak teratur, cepat lelah, nyeri dada, sering buang air kecil, pusing, rasa mengambang dan berputar hingga memungkinkan untuk
pingsan. Untuk deteksi awal, penting melakukan MENARI (Meraba Nadi Sendiri) secara teratur.
Caranya, tempelkan 2-3 jari pada pergelangan tangan Anda, dan cari denyut nadi pada lekukan di antara tendon. Denyut normal manusia berkisar antara 60-85 per menitnya.
Apabila ritme jantung berdetak terlalu cepat dan seringkali berhenti mendadak, Anda harus segera melakukan konsultasi ke dokter. Rumah sakit menyediakan alat deteksi lebih lanjut
seperti Elektrokardiografi (EKG) dan perekam monitor Holter.
Sangat dianjurkan untuk MENARI setiap pagi dengan diikuti oleh gaya hidup sehat. Pilih makanan rendah lemak dan garam, perbayak sayur dan buah-buahan, lakukan olahraga teratur, serta kurangi merokok.
(Sah/Laporan Annisa Mutiara)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan