Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Shutterstock)
Dream - Pernah merasakan kedutan atau kram otot? Atau rasa kesemutan dan panas pada lengan dan kaki yang berlangsung lama? Gejala-gejala yang selama ini kita anggap sepele ternyata harus diwaspadai jika berlangsung terus menerus.
Rasa nyeri berlebihan hingga menyebabkan kaki sulit digerakan, bisa menjadi salah satu penanda munculnya penyakit neuropati.
Gejala lain yang biasanya muncul bisa berupa mati rasa di bagian kaki dan lengan, sehingga tidak sadar menginjak benda tajam.

Menurut Ketua Umum PP PERDOSSI, Moh. Hasan Machfoed Sp.S(K), MS, Neuropati merupakan gangguan dan kerusakan saraf tepi yang disebabkan trauma pada saraf, efek samping dari suatu penyakit sitemik atau karena kekurangan vitamin B1, B6 dan B12.
Neuropati menyerang tanpa memandang usia sehingga anak-anak muda bsia mengalaminya. Gaya hidup yang tidak sehat dapat menjadi pemicunya.
Untuk itu, Hasan memberikan beberap tips pencegahan agar terhindar dari neouropati. Menurutnya, penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan vitamin neuropatik.
" Ditambah dengan melakukan senam kesehatan saraf neuromove secara rutin. Diimbangi dengan istirahat cukup, serta cek kesehatan saraf sejak dini," tutur Hasan dalam acara Fun Walk Melawan Neuropati yang di gelar Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Seluruh Indonesia (PERDOSSI) di pelataran Museum PETA Bogor, beberapa hari lalu.

Ditambahkan Sekretaris Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Asijikin Iman Hidayat Dachlan, MHA bahwa, melawan neuropati bisa dilakukan dengan penerapan CERDIK. Yaitu cek kesehatan berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup dan kelola stress dengan baik.
Sementara itu, dalam data terbaru Studi Klinis NENOIN yang telah dipublikasikan Asian Journal of Medicial Sciences 2018 membuktikan, konsumsi kombinasi vitamin neurotropik dapat mengurangi gejala neuropati hingga 62,9 persen.

Obat ini terbukti secara klinis bahwa mengkonsumsi kombinasi vitamin neurotropik lebih baik daripada mengkonsumsi vitamin B tunggal.
" Dengan adanya hasil studi klinis ini, kami harap masyarakat dapat menjaga kesehatan sarafnya secara optimal dan memperbaiki kualitas hidupnya masing-masing dengan mengkonsumsi vitamin neurotropik," ungkap Anie Rachmayani, Associate Director Marketing PT Merck Tbk.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya