5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Dream - Sebagai pemimpin, Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok yang sangat terbuka dengan pendapat orang lain. Saat memutuskan sesuatu terkait umat, Rasulullah selalu meminta pendapat kepada para sahabatnya.
Lazimnya seorang manusia, Rasulullah pun tidak serta merta menerima semua pendapat dari sahabatnya. Tetapi, Rasulullah punya cara untuk menolak pendapat, yang tentunya tidak pernah melukai perasaan si pemberi pendapat.
Hal ini terekam dalam sebuah kisah Rasulullah membebaskan 70 tawanan perang. Sebelum mengambil keputusan, Rasulullah meminta para sahabatnya untuk berpendapat.
Umar bin Khattab merupakan sahabat yang pertama kali memberanikan diri berpendapat. Ia menganggap lebih baik para tawanan tersebut dibunuh agar musuh menjadi gentar.
Rasulullah tidak menerima pendapat itu. Tetapi, penolakan itu disampaikan secara halus dengan menggunakan kiasan. Rasulullah mengatakan pendapat Umar sangat bagus, mirip dengan karakter Nabi Nuh yang keras.
Kemudian Rasulullah meminta pendapat lagi kepada sahabat yang lainnya. Abu Bakar Asshiddiq lalu berpendapat sebaiknya tawanan tersebut dibebaskan dengan syarat. Syarat pertama, bagi yang kaya harus membayar denda empat dinar, tetapi yang tidak mampu diwajibkan untuk mengajari anak-anak baca tulis.
Pendapat Abu Bakar ternyata lebih disukai Rasulullah. Akhirnya, supaya tidak melukai perasaan Umar, Rasulullah lagi-lagi menjatuhkan keputusan dengan kiasan.
" Jadi, yang pertama mirip dengan Nabi Nuh, dan yang kedua mirip dengan Nabi Ibrahim. Hanya saya lebih memilih yang kedua," kata Rasulullah. Umar pun tidak merasa tersinggung dengan pilihan Rasulullah.
Untuk mengetahui kisah ini lebih lanjut, silakan baca di sini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
