Desa di Indonesia Ini Larang Wanita Tak Bisa Menenun Menikah

Reporter : Puri Yuanita
Kamis, 3 Desember 2015 19:15
Desa di Indonesia Ini Larang Wanita Tak Bisa Menenun Menikah
Di desa ini terdapat aturan adat yang mengharuskan wanita dapat menenun sebagai syarat agar diperbolehkan menikah.

Dream - Pulau Lombok memiliki segudang tempat yang tak hanya indah, tapi juga sarat akan kearifan lokal yang unik. Salah satu contohnya, Desa Sukarara.

Meski belum sepopuler Desa Sade, Desa Sukarara atau yang lebih sering disebut Sukarare tak kalah menarik. Di sini para traveler dapat melihat pembuatan kain tenun songket khas Lombok.

Para traveler yang datang ke desa ini dapat melihat kegiatan ibu-ibu setempat yang sedang menenun. Uniknya, budaya menenun begitu mengakar kuat di sini.

Maklum saja, aturan adat setempat mengharuskan wanita dapat menenun. Ini menjadi syarat agar mereka diperbolehkan menikah. Dengan kata lain, wanita-wanita di desa ini yang tak bisa memenun, akan dilarang untuk menikah.

Tak heran,  secara turun-temurun anak perempuan di desa ini sudah diajari cara menenun sejak kecil.

Pada setiap rumah di Sukarara terdapat alat menenun. Para traveler pun dapat meminta penenun mengajari cara menenun. Tak perlu sungkan, karena mereka akan dengan senang hati membantu Anda menggunakan alat tenun.

Motif tenun Sukarara begitu menarik. Motif khasnya antara lain subhanale atau wayang khas Lombok, rumah adat atau lumbung, dan tokek. 

Selengkapnya baca di sini.     

 

1 dari 3 halaman

Dikira Thailand, Ternyata `Surga` Ini Tersembunyi di Indonesia

Dream - Aktivitas traveling tengah populer dan makin banyak digandrungi belakangan ini. Hal ini tak terlepas dari peran media sosial yang nyaris tiap detik memunculkan unggahan-unggahan gambar tempat wisata keren yang menggelitik para traveler untuk datang.

Seperti tempat wisata berikut ini yang mendadak populer karena media sosial. Di Sulawesi Selatan, jika Anda mau menengok sedikit lebih dalam, Anda akan menemukan surga tersembunyi yang begitu indah.

Adalah Rammang Rammang Maros. Wisata alam di kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang belum tersentuh modernisasi.

Di Rammang Rammang Maros traveler akan menyaksikan keindahan pegunungan Karst. Berbeda dengan pegunungan karst di daerah lain. Rammang Rammang Maros merupakan pegunungan kapur dengan tumbuhan yang hidup subur di permukaan batunya. Fenomena ini hanya satu-satunya di Indonesia.

Rammang Rammang Maros juga merupakan pegunungan kapur terluas ketiga di dunia setelah Cina Selatan dan Vietnam.

Tempat ini persis terletak di dusun Rammang Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa. Dari pusat kota Makassar dapat dijangkau sekitar 1,5 sampai 2 jam dengan berkendara ke arah utara.

Panorama yang disuguhkan tempat ini akan membuat Anda tidak percaya jika Rammang Rammang Maros ada di negeri sendiri.

Bahkan banyak orang mengira tempat ini berada di Krabi, Thailand. Hanya saja, bedanya Rammang Rammang Maros dikelilingi sungai dan persawahan, bukannya pantai.

Untuk berkeliling di tempat ini, traveler bisa menyewa sampan dengan tarif Rp100-150 ribu pada warga sekitar.

Nah, Anda yang ingin berlibur, tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Karena Indonesia punya segudang tempat yang lebih menarik untuk dikunjungi seperti Rammang Rammang Maros.

(Ism, Berbagai sumber)     

2 dari 3 halaman

Tempat Cantik Ini Mendadak Jadi Buruan Traveler Indonesia

Dream - Setelah beberapa waktu lalu Bukit Jaddih di Bangkalan Madura menjadi sorotan traveler Indonesia, kini giliran Bendungan Sampean Baru yang berada di kota Tape, Bondowoso.

Tak heran jika bendungan ini begitu menarik perhatian. Sebagai sebuah dam atau bendungan, Sampean Baru memiliki arsitektur yang indah dan tak biasa.

Traveler dijamin kagum melihat keindahan Bendungan Sampean Baru yang terletak di Desa Tapen, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso ini.

Belakangan, foto bendungan ini banyak beredar di media sosial instagram. Tak banyak yang mengira jika di Indonesia ada bendungan dengan konstruksi sekeren ini. Arsitekturnya dikatakan mirip dengan dam-dam yang ada di Eropa.

Dilansir dari situs Pustaka Kementerian Pekerjaan Umum, pembangunan Bendungan Sampean Baru dimulai pada tahun 1979 dan butuh 4 tahun pengerjaan sebelum akhirnya secara resmi selesai di tahun 1983.

Lokasi bendungan unik ini tak jauh dari pusat kota. Traveler yang ingin berkunjung hanya membutuhkan waktu selama 20 menit perjalanan melewati jalan raya arah ke Situbondo.

Bendungan Sampean Baru menawarkan panorama yang cukup memanjakan mata dengan kepungan area persawahan dan juga jajaran pegunungan.

Nah, Anda yang sedang mencari-cari destinasi liburan akhir tahun. Tak ada salahnya mencoba tempat yang satu ini. (Ism)

3 dari 3 halaman

Pulau di Indonesia Ini Punya Oksigen Terbaik di Dunia

Dream - Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dikenal dengan banyaknya pulau yang dimilikinya. Total ada 125 pulau di Sumenep baik yang berpenghuni maupun tidak. 

Siapa sangka di antara pulau tersebut terdapat satu pulau dengan kadar oksigen terbaik kedua di dunia setelah Yordania.

Pulau Giliyang namanya. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.

Dahulu kala, Pula ini dikenal dengan dua nama yang berbeda, yaitu Gila Iyang dan Gili Elang. Menurut penuturan penduduk setempat, terdapat dua sejarah yang berbeda mengenai asal muasal nama pulau tersebut.

Yang pertama adalah Gila Iyang yang artinya 'gila dari nenek moyang'. Dahulu pulau ini merupakan pulau yang dijadikan sebagai tempat pembuangan orang gila. Saat pertama ditemukan, pulau ini ditempati oleh orang-orang gila.

Yang kedua, asal nama pulau ini adalah Gili Elang atau Pulau Elang yang memiliki arti 'pulau yang hilang' dalam bahasa Madura. Sebab, pada zaman penjajahan Belanda, pulau ini merupakan pulau yang tidak ditemukan atau hilang. Sementara pulau-pulau di sekitarnya telah ditemukan terlebih dahulu.

Dari hasil verifikasi Tim Pembakuan Nama Rupabumi Tahun 2006, nama pulau ini dibakukan menjadi Giliyang yang kemudian dikenal oleh masyarakat Sumenep sampai sekarang.

Pulau inilah yang akhirnya diklaim mempunyai kadar oksigen terbaik di dunia. Hal itu berdasarkan hasil penelitian tim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN akhir Juli 2006 lalu, yang kemudian dilakukan kaji ulang pada 27 Desember 2011 lalu oleh BLH (Badan Lingkungan Hidup) Sumenep dan Jawa Timur, serta pihak Bappeda.

Dengan statusnya ini, tak heran jika Pulau Giliang dijadikan kawasan itu dijadikan destinasi wisata kesehatan.

Sebagai gambaran, dari hasil penelitian Pulau Giliyang memiliki konsentrasi oksigen sebesar 20,9% dengan level explosif limit (LEL) 0,5%. Nilai kandungan tersebut berbeda dengan wilayah lain yang mempunyai nilai konsentrasi oksigen 20,9% dan LEL 0,0%. Ketika dikaji ulang, hasilnya pun sama yakni oksigen di pulau tersebut antara 3,3 hingga 4,8 persen atau di atas normal.

Kualitas oksigen yang baik membuat penduduk pulau ini berumur panjang. Mayoritas penduduk Pulau Giliyang berusia lebih dari 80 tahun dan tampak awet muda serta segar bugar. Mereka bahkan masih mampu melakukan aktivitas layaknya orang-orang di usia produktif.

Anda yang ingin berlibur, ada baiknya menjadikan Pulau Giliyang sebagai destinasi Anda. Selain menyenangkan, pulau ini bisa memberikan Anda momen liburan yang sehat.

(Sumber: www.humaspemkabsumenep.org)

Beri Komentar