Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Heboh gerhana matahari total yang berpusat di Faroe Island sudah berlalu sepekan yang lalu. Namun siapa nyana, dokumentasi tertulis pertama proses gerhana matahari dilakukan ilmuwan muslim.
Mengutip laporan worldbuletin, Kamis, 26 Maret 2015, Ibnu Al-Shatir merupakan ilmuwan muslim yang telah membuat banyak karya seputar dunia astronomi sejak 700 tahun lampau.
Namun di tangan Ibrahim Muteferrika, karya ilmiah astronomi ilmuwan muslim untuk pertama kalinya dibuat dalam dokumen tercetak dan diserahkan ke kesultanan Ottoman.
Dalam cetakan tersebut, Ibrahim yang awalnya merupakan pendeta asal Hungaria juga membuat dokumentasi detail dari proses terjadinya gerhana matahari.
Hampir 300 tahun yang lalu, Ibrahim menjadi orang pertama yang membawa dunia percetakan ke wilayah Turki. Kesultanan Ottoman sendiri memberikan izin kepadanya untuk mencetak karya sekuler dan ilmiah.
Hingga akhirnya, pada 1720, Ibrahim memiliki bisnis percetakan sendiri di Istanbul.
Ibrahim memang telah sejak lama miris dengan teknik dan administrasi pemerintahan Ottoman. Dengan memberanikan diri, Ibrahmin membuat buku Usul al-Hikam fi Nizam al-Umam dan mempublikasikan pada 1731.
Dalam bukunya itu, Ibrahim menjelaskan sistem pemerintahan dan militer negara-negara Eropa. Menurutnya, negara muslim hanya bisa bertahan jika meniru tak hanya teknologi militer tapi juga sistem administrasi Eropa dan pengetahuan ilmiah.
Kejayaan Ibrahmin semakin bersinar di era Sultan Ahmed II. Namanya melambung sebagai penerbit, pencetak, kurir, diplomat, ahli astonomi, sejarawan, ulama muslim, dan sosilog.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya