Ahli Teliti Hobi Selfie dan Kematian, Hasilnya Mengerikan

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 5 Oktober 2018 18:45
Ahli Teliti Hobi Selfie dan Kematian, Hasilnya Mengerikan
Selfie telah menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Dream - Berkembangnya penggunaan ponsel berkamera canggih memunculkan dua sisi. Baru-baru ini, aktivitas berswafoto atau selfie dengan ponsel berkamera dapat mengancam nyawa seseorang melayang.

Organisasi peneliti, All India Institute of Medical Sciences yang berbasis di New Delhi menemukan lebih dari 250 kasus orang meninggal di seluruh dunia karena selfie selama enam tahun terakhir.

Penelitian itu dianalisis dari 259 berita yang berhubungan dengan kematian karena selfie sejak Oktober 2011 hingga November 2018.

Penelitian All India Institute of Medical Sciences itu telah diterbitkan Journal of Family Medicine and Primary Care bulan Juli-Agustus.

Dari 259 kematian karena selfie, peneliti menemukan penyebab utamanya yaitu tenggelam, diikuti insiden yang melibatkan transportasi, misalnya, mengambil selfie di depan kereta yang akan datang, dan jatuh dari ketinggian.

Penyebab lain kematian yang terkait selfie karena senjata api, dan listrik.

“ Kematian karena selfie telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar,” kata Agam Bansal, penulis utama studi tersebut, kepada The Washington Post.

1 dari 3 halaman

Bukan mengenai selfie, tapi...

Bukan mengenai selfie, tapi... © Pixabay

Dalam penelitian ini, India memiliki tingkat tertinggi kematian karena selfi. Selain India, insiden selfie yang fatal juga ditemukan di Rusia, Amerika Serikat, dan Pakistan.

Bansal mencatat, meski selfie tidak mematikan, bahaya muncul ketika orang mengambil risiko ketika mencoba untuk mendapatkan bidikan kamera saat selfie.

" Jika anda hanya berdiri, hanya mengambilnya dengan selebritas atau sesuatu, itu tidak berbahaya," kata dia. " Tapi jika selfie itu disertai dengan perilaku berisiko maka itulah yang membuat selfie itu berbahaya."

Bansal mengatakan, banyak korban kematian selfie melibatkan orang berusia muda. Lebih dari 85 persen korban berusia antara 10 dan 30 tahun.

" Saya rasa ini tidak perlu mengorbankan kehidupan hanya untuk selfie yang sempurna dan berbagi di Facebook, Twitter atau media sosial lainnya, ” ucap dia.(Sah)

2 dari 3 halaman

Kasus di Indonesia

Kasus di Indonesia © Pixabay

Pada 2018 saja, sudah ada beberapa kematian terkait selfie. Pada Mei 2018, dilaporkan The Independent, seorang pria di India mencoba untuk mengambil foto selfie dengan beruang sehingga menyebabkan dia terluka dan diserang hingga meninggal dunia.

Upaya untuk menghalangi orang-orang dari mengambil foto selfie yang berbahaya telah dicoba di banyak negara, termasuk India, Rusia, dan Indonesia.

Tiga tahun lalu, Rusia meluncurkan kampanye " Safe Selfie" , yang menampilkan slogan, `Bahkan satu juta like di media sosial tidak setara untuk hidup dan kebahagiaanmu`. Pada tahun 2016, Mumbai menyatakan 16 zona larangan selfie yang tersebar di seluruh kota.

Sementara di awal tahun ini, taman nasional di Indonesia mengumumkan akan bekerja untuk menciptakan tempat yang aman untuk foto. Upaya ini dibuat setelah pejalan kaki meninggal saat melakukan selfie.

Sementara di awal tahun ini, taman nasional di Indonesia mengumumkan akan bekerja untuk menciptakan tempat yang aman untuk foto. Upaya ini dibuat setelah pejalan kaki meninggal saat melakukan selfie.(Sah/Sumber: www.washingtonpost.com)

3 dari 3 halaman

Selfie di Puncak Merapi, Mahasiswa Atmajaya Belum Ditemukan

Dream - Mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta, Eri Yunanti, 21 tahun, dilaporkan jatuh ke kawah Gunung Merapi pada Sabtu, 16 Mei 2015. Saat itu, Eri sedang berfoto selfie di Puncak Garuda kemudian terpeleset.

Sebanyak 150 personil SAR gabungan dari TRC Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, SAR Boyolali, SAR Klaten, SAR DIY, Mapala, Taman Nasional Gunung Merapi serta relawan dikerahkan untuk mencari mahasiswa tersebut.

" Tiga tim Searc Rescue Unit (SRU) sudah berada di bibir kawah Gunung Merapi sejak Minggu pagi," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis diterima Dream.co.id, Senin, 18 Mei 2015.

Sutopo mengatakan tim SRU bertugas merintis jalur dan memasang tali ke bawah. Menurut dia, korban berada di kedalaman 300 meter dari bibir kawah, sehingga evakuasi dijalankan dengan teknik vertical rescuer.

" Tim SRU saat ini sudah berada pada kedalaman 50 meter dari bibir kawah. Kondisi medan berat," katanya.

Sebanyak 12 orang telah melakukan evakuasi. Mereka dibagi menjadi dua kelompok dengan tugas enam orang berada di bibir kawah untuk memegang tali, sedangkan enam orang lainnya berada di sepanjang jalur tali.

" Pergantian personil di bagian atas dikoordinir dari poskodal Selo," ungkap dia.

Evakuasi tersebut tidak bisa berjalan cepat. Ini lantaran kondisi angin yang bertiup kencang, sehingga tim evakuator harus menginap di jarak 200 meter dari bibir kawah.

" Tim SAR menginap 200 meter dari puncak Merapi ke arah Pasar Bubrah, BPBD Boyolali memenuhi kebutuhan bagi tim SAR," terang Sutopo.

Lebih lanjut, Sutopo mengatakan tim SAR mendapat rekomendasi dari Badan Geologi untuk menjalankan evakuasi dan pemasangan alat sebelum pukul 12.00 WIB. Ini lantaran sinar matahari dapat berpengaruh terhadap gas beracun di sekitar kawah.

" Suhu di kawah sekitar 160-420 derajat celsius," kata Sutopo. (Ism) 

Beri Komentar