Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Google Akan Menutup Google+. (Foto: Shutterstock)
Dream – Google menutup Google+ untuk versi konsumen selama sepuluh bulan ke depan. Layanan dari perusahaan raksasa pencarian itu akan kembali aktif pada Agustus 2019.
Perusahaan membuat keputusan ini setelah menemukan celah keamanan (bug) sehingga bisa menampilkan profil pengguna.
Dilansir dari The Verge, Selasa 9 Oktober 2018, Google mengatakan pengguna Google+ ini memang terbilang rendah. Ada 90 persen penggunanya berinteraksi kurang dari lima detik. Namun, mereka tetap membiarkan servis Google+ berjalan agar pelanggan bisa berkomunikasi dengan rekan kerjanya.
Dikatakan bahwa perusahaan ini takut melaporkan penemuan bug tersebut ke publik. Mereka mempertimbangkan masalah kebocoran data yang sedang dialami Facebook. Padahal, bug ini mengekspos informasi akun Google+, seperti nama, alamat e-mail, pekerjaan, jenis kelamin, dan usia.
Data tersebut tetap terlihat meskipun pengaturan privasi sudah disetel “ private”, bukan “ public”.
Menurut blog resmi Google, bug tersebut berasal dari Application Program Interface (API) dari proyek Project Strobe. Meskipun mempublikasikan data pengguna, perusahaan ini menyebut data-data yang terekspos hanya yang berupa statistik. Data seperti nomor telepon, pesan, dan unggahan di Google+ tidak terpublikasi.
Google menyebut celah keamanan ini membuat pihak ketiga bisa mengakses data-data yang disebutkan di atas. Dikatakan bahwa ada 500 ribu akun Google+ yang berpotensi terkena dampaknya. Menurut analisis Google, ada 438 aplikasi pihak ketiga yang diduga memanfaatkan celah keamanan API Google+.
Ke depannya, Google akan menfasilitasi pengguna untuk mengunduh dan migrasi data dari Google+.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya