Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula
Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A
Mengapa AC Mobil Listrik Tetap Bisa Aman Menyala Meski Mesin Mati?
Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya
Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kondisi psikologis ibu setelah melahirkan sangat rentan. Perubahan hormon secara drastis, adaptasi dengan kehadiran bayi, kewajiban pengasuhan, lingkungan yang kurang mendukung, dan faktor lainnya, bisa dengan mudah memicu depresi pada ibu.
Kondisi depresi ini ternyata menurut sebuah studi terbaru bisa bertahan sampai tiga tahun setelah melahirkan. Para ahli mengatakan skrining PPD (post partum depression) untuk ibu setelah tahun pertama mungkin diperlukan.
Pada beberapa ibu baru, depresi pasca melahirkan bisa bertahan hingga tiga tahun. Hal ini menurut penelitian dalam National Institutes of Health (NIH). Dikutip dari Parents, penelitian yang dipublikasi dalam Journal Pediatrics, mengamati 5.000 wanita dan menemukan sekitar 1 dari 4 wanita memiliki gejala depresi tingkat tinggi di beberapa titik dalam tiga tahun setelah melahirkan.
© Dream
Sementara ibu lainnya memiliki tingkat depresi yang rendah selama periode waktu yang sama. Hal ini memunculkan gagasan bahwa ibu mungkin memerlukan skrining yang lebih lama untuk depresi pascapersalinan daripada yang direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), yaitu satu, dua, empat, dan enam bulan setelah melahirkan.
Saat ini kesadaran tentang kesehatan mental dan psikologis ibu setelah melahirkan cukup banyak dibahas dan mulai banyak orang yang mengerti dan memberi perhatian khusus. Faktanya, depresi pascapersalinan (PPD) terjadi pada 20 persen ibu.
© Dream
Gejalanya antara lain suasana hati yang tertekan dan menangis terus-menerus tanpa sebab. Biasanya dimulai dalam beberapa minggu pertama setelah melahirkan dan juga dapat muncul di kemudian hari selama satu tahun pertama.
“ Studi kami menunjukkan bahwa enam bulan mungkin tidak cukup lama untuk mengukur gejala depresi. Data jangka panjang ini adalah kunci untuk meningkatkan pemahaman kami tentang kesehatan mental ibu, yang sangat penting untuk kesejahteraan dan perkembangan anaknya Diane Putnick, Ph.D., penulis utama dan staf ilmuwan di epidemiologi Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).
© Dream
Skrining depresi pascapersalinan, menurut peneliti, mungkin perlu dilanjutkan setidaknya selama dua tahun. Putnick mencatat tingginya depresi pasca melahirkan dianggap bulan pertama setelah lahir. Ibu yang mengalami gejala depresi pertama dua tahun kemudian umumnya menderita depresi tanpa permulaan.
" Satu-satunya perbedaan dalam kriteria diagnostik untuk episode depresi reguler dan depresi pascapartum adalah kapan mulainya dan bukan kapan berakhir," kata Dr. Putnick.
© Dream
Penelitian juga menemukan bahwa ibu yang memiliki kondisi tertentu, seperti gangguan mood dan / atau diabetes gestasional, memiliki peluang lebih besar untuk mengalami depresi yang lebih parah.
" Siapa pun dapat mengalami depresi pascapartum, tetapi individu tertentu mungkin berisiko lebih tinggi, termasuk mereka yang sebelumnya pernah mengalami gangguan kesehatan mental, individu dengan kondisi kesehatan kronis, dan mereka yang memiliki situasi sosial yang sulit," kata Amy Addante, MD, seorang spesialis kandungan.
Advertisement

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan

Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya


Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran

Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah