Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rapat Koordinasi Menko PMK Dengan Beberapa Pemangku Kepentingan, Selasa, 26 Juli 2016. (Foto: Dream.co.id/ Maulana)
Dream - Merebaknya kasus vaksin palsu telah membuat banyak masyarakat resah. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membuat langkah preventif dengan melakukan vaksinasi ulang.
Melihat perkembangan kasus itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK), Puan Maharani mengadakan rapat koordinasi dengan beberapa pemangku kepentingan.
" Rapat koordinasi untuk mengetahui update kasus vaksin palsu sehingga pemerintah dapat mengambil langkah-langkah komprehensif agar masyarakat mendapat kepastian," ucap Puan dalam saat membuka rapat koordinasi, kantor Kemenko PMK, Selasa, 26 Juli 2016.
Dari pantuan Dream, rapat tertutup itu tampak dihadiri Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Wakil Kepala Bareskrim Inspektur Jenderal Polisi Antam Novambar, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Moechgiyarto, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito, dan perwakilan PT Bio Farma, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Nila, dalam keterangan sebelum rapat, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak gegabah merespos kasus vaksin palsu. Sebab, kata dia, Kemenkes telah menggelar vaksinasi ulang bagi pasien yang terpapar vaksin palsu.
" Kemenkes tentu mengetahui resikonya kepada masyarakat. Karena itu kita mewajibkan imunisasi ulang terhadap yang terpapar vaksi palsu," kata Nila.
Sejauh ini, kata Nila, sebanyak 536 anak sudah divaksinasi sejak merebaknya kasus vaksin palsu. Meski begitu, setelah dilakukan vetifikasi, dari 536 anak yang telah diberikan vaksin, beberapa diantaranya positif terpapar vaksin palsu.
" Ini terus menerus. Jadi yang divaksinasi setelah diperiksa menyatakan ada yang terpapar ada yang tidak. Kami buka terus (posko) sampai merasa tenang dan tertolong," kata Nila tanpa menyebut jumlah rincian korban vaksin palsu.
Menurut Nila, proses vaksinasi kini diprioritaskan bagi anak-anak berusia 11 bulan ke bawah. Sebab, anak dengan usia 11 bulan ke bawah belum memiliki kekebalan tubuh.
" Anak yang usianya 11 bulan ke bawah mereka belum imun. Yang di atas usia ini juga divaksin ulang," ujar dia.
Nila memastikan tidak ada over dosis terhadap pasien yang terpapar vaksin ulang.
" Tidak ada over dosis dengan memakai takaran IDAI," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya