Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
[Kiri Ke Kanan] Melanie Masriel (Chief Of Corporate Affairs, Engagement And Sustainability Of L'Oreal Indonesia), Made Sumiati, M.Pd, (Guru SMKN 3 Bogor Dan Mitra Program L’Oreal Dari Hairducation), Indra Tanuda4300
DREAM.Co.ID - Di balik keterampilan seorang penata rambut dan tenaga profesional di industri kecantikan, ada sosok pendidik yang berperan dalam membagikan ilmu sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja. Peran beauty educators ini menjadi perhatian L’Oréal Indonesia dalam momentum World Teachers’ Day yang diperingati setiap 5 Oktober.
Industri kecantikan yang terus berkembang membutuhkan tenaga profesional dengan keterampilan relevan, mulai dari penguasaan teknik hingga pemahaman standar keselamatan dan pelayanan konsumen. Karena itu, L’Oréal Indonesia menghadirkan program Hairducation dan Beauty for a Better Life (BFBL) untuk mendukung pengembangan kompetensi pengajar di jalur pendidikan vokasi maupun komunitas.
Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, mengatakan bahwa beauty educators berperan penting dalam mempersiapkan generasi muda memasuki dunia kerja, meningkatkan keterampilan karyawan, hingga membekali masyarakat dengan keahlian yang membuka peluang penghasilan.
“Kontribusi mereka (beauty educators) sangat layak mendapatkan pengakuan dan dirayakan. Melalui momentum World Teachers’ Day, kami ingin mengangkat peran beauty educators yang terus mengembangkan potensi talenta kecantikan sekaligus turut membentuk masa depan industri kecantikan Indonesia,” ucap Melanie.

Dream/Richard
Kontribusi pendidik kecantikan dapat dilihat dari perjalanan Achadiningtyas atau Ibu Aca, trainer Beauty for a Better Life Training Center Cianjur, dan Made Sumiati, guru tata kecantikan di SMKN 3 Bogor. Keduanya menjalankan peran berbeda, tetapi memiliki tujuan serupa, yaitu membekali peserta didik dengan keterampilan yang dapat digunakan untuk membangun masa depan.
Ibu Aca telah berkarya di industri kecantikan selama sekitar 45 tahun. Memulai karier di salon pada usia 20 tahun, ia kemudian menjadi pengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan, asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi, serta Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur.
Sejak bergabung sebagai trainer BFBL pada 2015, Ibu Aca telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta. Di antara mereka, terdapat perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karier, peserta yang harus membagi waktu antara pelatihan dan tanggung jawab keluarga, serta mereka yang masih membangun kepercayaan diri.
Kondisi tersebut membuat Ibu Aca perlu menyesuaikan metode pengajarannya dengan kebutuhan setiap peserta. Menurutnya, mengajar tata rambut tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknik, tetapi juga kemampuan memahami karakter peserta dan mendorong mereka untuk berani mempraktikkan ilmunya.
“Mengajar tata rambut tidak cukup hanya dengan menunjukkan teknik. Saya juga harus terus belajar karena kebutuhan di industri berubah, sementara setiap peserta datang dengan kondisi yang berbeda,” ucap Aca.
Ia menambahkan, hal yang paling berarti baginya adalah melihat peserta mulai berani memanfaatkan keterampilan untuk bekerja atau membuka usaha. Pendampingannya bahkan berlanjut setelah pelatihan berakhir, salah satunya melalui rekomendasi lulusan kepada pemilik salon yang membutuhkan tenaga kerja.
Sementara itu, Ibu Made telah mengabdikan diri sebagai guru tata rambut sejak memperoleh beasiswa pemerintah untuk menempuh pendidikan sebagai calon guru kecantikan pada 1986. Pengalamannya mengajar selama puluhan tahun turut berkembang berkat kesempatan mengikuti pelatihan bersama L’Oréal.
Melalui pelatihan tersebut, Ibu Made mempelajari ilmu di balik teknik tata rambut, termasuk anatomi rambut dan hair science. Pengetahuan ini membantunya menjelaskan alasan di balik setiap prosedur, sehingga murid tidak sekadar mengikuti tahapan kerja, tetapi juga mampu menganalisis kondisi rambut sebelum menentukan teknik yang sesuai.
“Saya kemudian mempelajari anatomi rambut dan hair science, termasuk bagaimana warna meresap ke batang rambut serta perubahan yang terjadi selama proses pewarnaan. Pengetahuan itu mengubah cara saya mengajar,” jelas Made.
Untuk memperluas akses pembelajaran, Ibu Made juga membuat materi presentasi dan video selama pandemi agar murid tetap dapat belajar dari jarak jauh. Ia menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan oleh sejumlah guru di Indonesia.
Selain itu, ia membawa murid untuk belajar langsung di L’Oréal Professionnel Academy serta menghadirkan guru tamu melalui kelas Hairducation. Upaya tersebut dilakukan agar materi yang dipelajari di sekolah semakin sesuai dengan praktik di industri kecantikan profesional.

Dok.L’Oréal
Untuk mendukung peningkatan kompetensi pengajar vokasi, L’Oréal Indonesia menjalankan program Hairducation sejak 2017 melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen).
Program ini memberikan pelatihan kepada guru SMK tata kecantikan mengenai teknik terbaru, inovasi produk, standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen. Hingga saat ini, Hairducation telah melatih 88 guru dari 46 SMK negeri di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui program tersebut, para guru turut mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan yang siap memasuki industri tata rambut profesional.
Indra Tanudarma, Head of Education Performance Professional Products Division L’Oréal Indonesia, menjelaskan bahwa perkembangan industri tata rambut menuntut para pengajar untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka.
“Ketika seorang guru memperoleh pemahaman teknis dan standar industri terkini, manfaat tersebut akan tereskalasi kepada ratusan murid yang mereka didik setiap tahunnya, menciptakan talenta masa depan yang siap bersaing,” jelas Indra.

Dream/Richard
Selain mendukung pendidikan formal, L’Oréal Indonesia menghadirkan Beauty for a Better Life (BFBL) sejak 2014 untuk membekali masyarakat melalui pelatihan tata rambut dan tata rias. Program ini menyasar perempuan dari kelompok rentan sosio-ekonomi agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan dan membangun kemandirian finansial.
BFBL memiliki 12 pusat pelatihan dan melibatkan 12 trainer yang bekerja sama dengan lembaga sosial nirlaba. Program ini menyediakan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional, serta modul bimbingan sosial berbasis empati yang telah menjangkau lebih dari 7.200 peserta.
Magdalena Rospita, Corporate Affairs and Impact Director L’Oréal Indonesia, mengatakan bahwa peran instruktur BFBL tidak berhenti pada transfer keterampilan teknis. Mereka juga mendampingi peserta dalam membangun kepercayaan diri dan mempersiapkan langkah selanjutnya.
“Instruktur dalam program BFBL mengemban tanggung jawab mulia yang melampaui transfer keterampilan teknis. Mereka hadir sebagai mentor yang mendengar, memotivasi, dan menumbuhkan daya juang para peserta,” ucap Magdalena.
Melalui Hairducation dan BFBL, L’Oréal Indonesia berupaya memperkuat peran para pendidik dalam mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kisah Ibu Aca dan Ibu Made menunjukkan bahwa kontribusi seorang guru tidak hanya terlihat dari ilmu yang disampaikan di ruang pelatihan atau kelas. Ketika pendidik mendapat kesempatan untuk terus belajar, pengetahuan yang mereka bagikan dapat membantu lebih banyak orang mengembangkan potensi, memasuki dunia kerja, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Advertisement


Anak Terlihat Dewasa dan Selalu Mengalah? Waspadai Parentifikasi yang Bisa Berdampak hingga Dewasa

Ramai Isu Putus Kabel RI–Singapura: Kenapa Internet Dunia Belum Bisa Pindah ke Satelit?

Prancis dan Italia Diguncang Demo Besar-besaran, Apa yang Membuat Warga Turun ke Jalan?

Gibran Melenting di Survei, Jokowi: Jangan Buru-Buru Menyimpulkan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan