Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Konsumsi Obat Pengencer Darah Sesuai Dengan Aturan Dokter (Foto:Pexels)
Dream - Beberapa penyakit kronis seperti jantung dan strok bisa diawali dari proses penggumpalan darah dalam tubuh. Biasanya para dokter akan memberikan resep obat pengencer darah guna membantu meringankan gejala sakit yang dialami pasien.
Meski begitu, pasien tak boleh sembarangan mengonsumsi obat tanpa resep langsung dari dokter. Jika nekat, efek samping yang ditimbulkan bisa sangat berbahaya, seperti tubuh jadi lebih mudah berdarah dan darah yang keluar jadi sulit membeku.
Lalu apa sebenarnya obat pengencer darah dan efeknya bagi tubuh? Melansir Sehatq berikut penjelasan lebih lanjut yang perlu dipahami.

Secara umum, obat pengencer darah yang biasa diresepkan dokter terbagi menjadi dua jenis, yakni obat antikoagulan dan antiplatelet.
Obat Antikoagulan
Obat antikoagulan digunakan untuk memperlambat proses pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah. Jika gumpalan darah terbentuk di area tersebut, darah akan sulit mengalir ke berbagai organ vital manusia, seperti otak, jantung, hingga paru-paru.
Untuk membekukan darah, tubuh membutuhkan protein yang dibuat di hati. Obat jenis ini akan melawan pembentukan protein sehingga penggumpalan bisa dicegah. Beberapa contoh obatnya antara lain: Warfarin, HeparinRivaroxaban, Dabigtran, Apixaban, Edoxaban, Enoxaparin, dan Fondaparinux.
Obat Antiplatelet
Obat jenis ini akan bekerja untuk mencegah platelet (sel-sel darah) menempel satu sama lain, serta melekat di dinding pembuluh darah. Biasanya dokter akan meresepkan jenis obat bagi pasien yang mengalami risiko penyumbatan aliran darah.
Untuk cara kerjanya, obat ini lebih baik tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat lainnya (antibiotik, antidepresan, obat pereda radang, antikonvulsan dan ibuprofen) karena bisa membuat efek hilang atau malah berbahaya.
Beberapa contoh obat antiplatelet antara lain: Clopidogrel, Ticagrelol, Prasugrel, Dipyridamole, Aspirin, Ticlopidine, dan Eptifibatide.

Seseorang yang mengonsumsi obat pengencer darah biasanya mengalami efek samping pendarahan di beberapa bagian tubuh, seperti menstruasi yang keluar berlebihan, feses yang disertai darah, mimisan, darah yang sulit berhenti saat luka, hingga gusi berdarah.
Selain itu, pasien juga akan merasakan efek lainnya, seperti pusing, kerontokan, lemah ototo hingga ruam-ruam merah di kulit.
Pengonsumsi obat pengencer darah sebaiknya juga menghindari terluka seperti kecelakaan atau benturan untuk mengantisipasi pendarahan berlebih. Pada intinya, konsuktasikan setiap keluhan pada dokter yang Sahabat Dream percayai.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya