'The Lady Warior' Rinaldy Yunardi Sabet Tiga Award di Selandia Baru

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Jumat, 4 Oktober 2019 11:17
'The Lady Warior' Rinaldy Yunardi Sabet Tiga Award di Selandia Baru
Rinaldy Yunardi kembali membuat karya memukau.

Dream - Desainer kenamaan Indonesia, Rinaldy Yunardi meraih tiga penghargaan di ajang World of WearableArt (WOW) Awards di Wellington, Selandia Baru. Ini merupakan kali kedua Rinaldy menyabet penghargaan di ajang tersebut sejak 2017.

Penghargaan yang didapat Rinaldy adalah Supreme WOW Award, Avant-Garde Section Award dan International Design Award: Asia. Semua penghargaan didapat dari busana rancangannya yang diberi nama The Lady Warrior.

 Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. Rinaldy Yunardi

Foto: Dok. Rinaldy Yunardi

Pria dengan sapaan Yungyung itu terinspirasi pejuang yang menurutnya paling tangguh, yakni para perempuan. The Lady Warrior bukan menggambarkan kekuatan fisik tapi kekuatan dalam diri yang dimiliki seorang anak perempuan, istri dan ibu.

Rinaldy bermain dengan berbagai macam bahan untuk mewakili elemen-elemen berbeda dari The Lady Warrior.

" Saya menggunakan kertas daur ulang yang dibuat menjadi tali dan kemudian ditenun erat. Ini merupakan simbol kemanusiaan dan kekuatan dalam diri yang dibangun dari pengalaman perempuan. Mereka dilahirkan sebagai sosok yang rentan tapi pengalaman hidup mereka membuatnya kuat," jelas Rinaldy lewat rilis yang diterima Dream, Jumat 4 Oktober 2019.

1 dari 5 halaman

Tuai Pujian dari Juri

Karya Rinaldy sukses mencuri hati dewan juri. Mereka sangat menyukai penggunaan teknik tenun tradisional untuk membuat bahan yang sangat kontemporer.

The Lady Warrior adalah busana yang dideskripsikan oleh para juri sebagai metamorfosis luar biasa dari bahan organik yang rapuh menjadi sesuatu yang sangat indah.

 Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. Rinaldy Yunardi

Foto: Dok. Rinaldy Yunardi

" Dengan membangun keseimbangan dan bentuk yang sempurna, serta didukung dengan keahlian apik, The Lady Warrior menggambarkan harmoni antara kerapuhan yang memesona dan kekuatan yang halus," ujar Dame Susie Moncrieff, Pendiri World of WearableArt.

2 dari 5 halaman

Ajang Tahunan

Selama tiga minggu setiap tahunnya, kompetisi wearable art yang tersohor di dunia ini menampilkan karya finalis dengan pertunjukkan teatrikal spektakuler di ibukota New Zealand, Wellington.

Sekitar 60.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri hadir untuk menyaksikan acara tahunan World of WearableArt Awards 2019.

 Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. Rinaldy Yunardi

Foto: Dok. Rinaldy Yunardi

Tahun ini, 115 desainer finalis dihadapkan pada enam tantangan desain yang kemudian dijadikan pertunjukan busana enam dunia. Tiga tema tetap yang selalu dipakai setiap tahunnya adalah Aotearoa - sebutan suku Māori untuk Selandia Baru, Avant-garde yang berarti hal yang baru dan tidak biasa, serta terbuka (Open).

Tiga tema lainnya adalah tema baru di 2019, yaitu mitos, transformasi, dan putih.

“ Saya sangat terkesima dengan luasnya cakupan material yang digunakan, tingkat kesulitan dan orisinalitas desain. Pengalaman ini sangat berarti karena saya dapat melihat panggung yang penuh dengan wearable art  terbaik dari seluruh dunia. Acara ini juga diadakan untuk mengapresiasi usaha yang amat keras dalam pembuatan karya-karya luar biasa tersebut,” lanjut Dame.

3 dari 5 halaman

Eksotisme Nusantara di Koleksi Terbaru Rinaldy A Yunardi

Dream - Rinaldy A. Yunardi menutup gelaran Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2019 dengan pagelaran tunggal bertema 'Aku, Untukmu Indonesia'.

Menjadi desainer aksesori andalan seleb Hollywood tak mengurangi kecintaan Rinaldy pada Nusantara. Ia meluncurkan koleksi spesial yang terinspirasi dari 34 provinsi Indonesia.

  Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. JFFF 2019

Foto: Dok. JFFF 2019

" Ini menjadi show pertama saya dengan keseluruhan koleksinya terinspirasi dari kebudayaan Indonesia yang diaplikasikan ke dalam bentuk aksesori yang kaya detail dan menjadi ciri khas dari rancangan saya," tutur Rinaldy lewat keterangan rilis yang diterima Dream, Jumat 23 Agustus 2019.

4 dari 5 halaman

Ibu Pertiwi

Survey dan studi literatur selama enam bulan melahirkan koleksi aksesori bergaya tribal yang lebih modern dan edgy. Menggunakan teknik filigri dan tatah (dodokan), aksesori menampilkan keunikan dari setiap daerah Nusantara.

  Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. JFFF 2019

Foto: Dok. JFFF 2019

Rinaldy melengkapinya menjadi 35 koleksi, dengan 1 koleksi spesial yang dinamakan 'Ibu Pertiwi'. Permainan detail yang menjadi DNA Rinaldy dituangkan ke dalam bahan logam berwarna emas, silver dan tembaga yang memberi kesan glamor.

5 dari 5 halaman

Nuansa Klasik dan Tradisional

Beberapa koleksi terlihat mengadaptasi berbagai bentuk kebudayaan seperti wayang kulit Gunungan. Begitu pula dengan detail dan corak etnik di setiap rancangan aksesori

  Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. JFFF 2019

Foto: Dok. JFFF 2019

Pria yang akrab disapa Yungyung itu juga memberi sentuhan klasik lewat aksen bulu-bulu dan rantai. Busana simpel berwarna hitam semakin menonjolkan sisi kemegahan aksesori.

  Rinaldy Yunardi© Foto: Dok. JFFF 2019

Foto: Dok. JFFF 2019

Beri Komentar