Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Virus Covid-19 bukan hanya menyerang fisik, tapi juga psikologis. Sebuah penelitian mengungkap sekitar 1 dari 3 pasien Covid-19 yang telah sembuh mengalami masalah neurologis dan psikiatris 'jangka panjang', beberapa bulan setelah terinfeksi.
Temuan yang diterbitkan di jurnal The Lancet Psychiatry menunjukkan adanya hubungan antara Covid-19 dan risiko yang lebih tinggi untuk kesehatan mental dan gangguan neurologis di kemudian hari.
Analisis data dilakukan pada 236.000 penyintas Covid-19 dan berfokus pada 14 gangguan kesehatan saraf dan mental. Ditemukan bahwa 34% pasien didiagnosis dengan kelainan tersebut dalam enam bulan setelah terinfeksi virus corona baru.
Paling umum, gangguan ini berkisar dari gangguan kecemasan hingga gangguan penyalahgunaan zat, termasuk insomnia, pendarahan otak, stroke, dan demensia.
" Sayangnya, banyak gangguan yang diidentifikasi dalam penelitian ini cenderung kronis atau berulang, sehingga kami dapat mengantisipasi bahwa dampak Covid-19 bisa berlangsung selama bertahun-tahun," tulis Jonathan Rogers, dari University College London, salah satu peneliti, dikutip dari WebMD.
Studi terbaru ini dipimpin oleh Paul Harrison dari Universitas Oxford di Inggris. Timnya melihat catatan kesehatan elektronik untuk melacak hasil 236.379 pasien Covid-19, sebagian besar dari Amerika Serikat.
Sekitar sepertiganya terus mengalami semacam masalah kesehatan neurologis atau mental dalam enam bulan setelah infeksi virus corona mereka. Kecemasan (17%), gangguan mood (14%), gangguan penyalahgunaan zat (7%) dan insomnia (5%) adalah gangguan yang paling sering didiagnosis.
Tingkat keseluruhan masalah neurologis jauh lebih rendah, termasuk 0,6% untuk perdarahan otak, 2,1% untuk stroke iskemik, dan 0,7% untuk demensia. Kondisi neurologis lebih sering terjadi pada pasien yang pernah sakit parah dengan Covid-19. Misalnya, di antara pasien yang dirawat di perawatan intensif, 7% mengalami stroke dan hampir 2% didiagnosis dengan demensia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya