Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mengalami Herpes Zoster. (Source: Shutterstock)
Dream - Virus Covid-19 telah membuat semua orang sangat khawatir akan kondisi kesehatan ketika beraktivitas sehari-hari. Semua orang diwajibkan memakai masker, menjaga jarak, kebersihan tubuh serta meningkatkan imunitas.
Pasalnya, virus ini dapat menyebar dan menular melalui udara. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada virus Covid-19, tapi juga Varicella-Zoster Virus (VZV) yang menjadi penyebab penyakit herpes zoster.
Herpes zoster merupakan penyakit yang ditandai dengan timbulnya kelompok lenting berisi cairan dan berderetan pada kulit.
Penyakit ini akan membuat kulitmu berwarna kemerahan pada area yang terpapar. Kamu juga akan merasa sakit dan nyeri seperti terbakar atau tertusuk ketika mengalaminya.
Rasa nyeri dan sakit tersebut bisa timbul dan menghilang atau menetap. Terutama, jika tidak segera diatasi.
Terlepas apa yang dialami ketika mengalaminya, herpes zoster memiliki gejala umum seperti perubahan struktur kulit, demam, lesu, sakit kepala atau flu.
Gejala tersebut bergantung pada usia dan status imunitasnya. Semakin berumur dan rendah imunitasnya seperti pada pasien HIV/AIDS, transplantasi organ, kanker darah serta menjalani kemoterapi, gejalanya akan semakin parah.
Virus tersebut bisa menyerang berbagai daerah pada tubuh. Tapi, tidak menyerang secara keseluruhan.
" Bisa di mata saja, kuping saja, bahu saja atau melingkar di dada bagian depan atau belakang," ungkap Anthony Handoko, Spesialis Kulit dan Kelamin dalam konferensi pers Pramudia seputar herpes zoster, Kamis 8 April 2021.

Penelitian terdahulu menyatakan bahwa wanita dengan rentang usia 45-65 yang lebih sering terkena herpes zoster. Namun seiring dengan berjalannya waktu, rentang usia pasien herpes zoster semakin muda.
Proporsi antara pria dan wanita pun semakin seimbang. Perlu diketahui pula bahwa VZV merupakan virus penyebab cacar air, yaitu penyakit yang sering diderita anak kecil.
Virus tersebut pun tidak mati saat sembuh dari cacar air, melainkan bersifat laten atu 'tidur' di dalam sel saraf.
" Saat dewasa, dimana seseorang terpapar virus tersebut, virus yang 'tidur' akan reaktivasi sebagai herpes zoster. Bukan cacar air lagi" .
Oleh karena itu, sangat penting untuk memakai masker dan melakukan isolasi mandiri selama 10-12 hari atau rata-rata 2 minggu ketika mengalami penyakit tersebut. Terutama, jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami cacar air atau penyakit serupa.
Saat mengalami gejala ringan atau berat, segera berkonsultasi dengan dokter kulit untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Umumnya, dokter akan mengenali gejala awal dan kondisi pasien secara keseluruhan.
Lalu, akan diberikan terapi antiviral yang bergantung pada usia, berat badan dan karakter virusnya. Selanjutnya, akan diberikan analgetik untuk meredakan rasa sakit.
Bila diperlukan, dokter juga akan memberikan antidepresan atau anti kejang dan konseling untuk memberi dukungan emosional pada pasien. Kamu juga akan mendapatkan obat oles untuk mempercepat penyembuhan.
Upaya tersebut harus dilakuka sesegera mungkin agar tidak terjadi komplikasi dan membahayakan organ lainnya.

Ketika tidak ditangani sesegera mungkin dengan cara yang tepat, pasien herpes zoster akan mengalami infeksi sekunder. Di antaranya adalah rasa nyeri, peradangan, bahkan gangguan fungsi organ dalam.
Rasa nyeri berkepanjangan di sekitar area yang terpapar disebut neuralgia pasca herpes.
Hal tersebut bisa terjadi untuk waktu cukup lama atau sekitar 3 bulan dan dialami oleh 30-40 persen penderita herpes zoster. Terutama, yang berusia di atas 50.
Lamanya penanganan penyakit tersebut maupun komplikasinya dapat menjadi beban finansial. Mungkin, kamu akan memerlukan terapi obat-obatan maupun non obat-onatan seperti akupuntur dan fisioterapi, terapi pembedahan, rawat inap atau rujukan ke dokter lain.
Meski terkesan sangat berbahaya, namun herpes zoster memiliki gejala ringan pada anak dan ibu hamil. Penyakit ini juga tidak terlalu berisiko pada janin. Bayi baru lahir pun cukup jarang mengalami hal ini.
Kamu pun bisa melakukan vaksin VZV, terutama jika sudah memasuki usia 50 ke atas. Herpes zoster pun bisa sembuh dengan meningkatkan daya tahan, menjaga kebersihan tubuh dan memakai pakaian yang longgar.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya