Suriah (2): Tak Ada Sepeda Buat Aylan

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 16 September 2015 18:55
Suriah (2): Tak Ada Sepeda Buat Aylan
Foto balita tertelungkup tewas di Pantai Turki itu menjadi simbol krisis pengungsi. Sepeda baru impiannya sesampai di Eropa, tak kan pernah ada.

Dream - Foto balita tertelungkup di pantai Turki itu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Bukan hanya kini, namun juga bakal abadi. Aylan Kurdi, bocah dalam foto itu akan dikenang melintasi jaman, menembus masa.

Sebuah potret yang paling mewakili dari kisah gelombang ribuan pengungsi yang berusaha menembus Eropa karena konflik bersenjata di negara asalnya, di Timur Tengah.

Jasad Aylan tidak serta merta pagi itu berada di pantai Akyarlar, pinggiran Kota Bodrum, Turki. Bocah tiga tahun itu ditemukan hanya berjarak seratus meter dari jenasah kakak kandungnya, Galip Kurdi yang berusia lima tahun. Serta ibundanya, Rehan yang berusia 35 tahun. Keluarga itu hanya menyisakan sang ayah, Abdullah yang kini hidup sendiri.

Peristiwa tragis bermula keluarga Abdullah bermula di malam sebelumnya, saat mereka berupaya meninggalkan pantai Akyarlar, Selasa, 2 September 2015. Tujuan mereka menyusup ke Pulau Kos, di Yunani.

Keluarga asal Suriah itu tak berbekal surat ijin resmi dari otoritas Turki ataupun Yunani. Mereka lari dari Suriah, negeri asalnya karena kelompok garis keras yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) membantai siapa saja yang tak sefaham.

Abdullah harus membayar uang Rp 65 juta kepada nelayan setempat untuk menyeberangkan mereka melintasi celah laut berjarak empat mil, hanya selebar selat Madura.

Malam itu mereka dibawa dengan perahu berbahan fiberglas tipis, dan panjang lima meter. Saat mereka sudah naik di atas perahu, Abdullah terkejut ternyata masih ada penumpang lain yang menyusul. Total di perahu itu ada 12 orang.

Abdullah sempat bertanya kepada penyelundupnya, " Apakah saya, istri dan anak saya sebaiknya turun?"

" Tidak, tidak, itu baik-baik saja," jawab si penyelundup memberi jaminan.

Kapal kecil itu bertolak. Baru sejam berlayar dari dua jam yang diperkirakan. Ombak besar menghantam keras lambung perahu. Brakk...!! Seisi perahu panik. Juru kemudi dan penumpang berhamburan loncat ke laut.

Di perahu cuma tersisa Abdullah sekeluarga. Sementara ombak tak berhenti susul menyusul. Ditinggal kabur kapten kapalnya, Abdullah mengambil alih kemudi.

Nahas. Abdullah kalah cepat. Ombak besar menggulung lebih dulu membalikkan perahu. Mereka sekeluarga terpental ke laut.

Gelap gulita. Yang terdengar cuma jeritan tangis dan teriakan minta tolong. Abdullah sekuat tenaga meraih dua anak lelakinya dalam pelukan.

" Ayah...jangan mati," begitu bisik Aylan di telinga ayahnya. Abdullah hanya bisa menjawab sambil mengangkat anaknya agar tak tenggelam, " Bernapas, bernapas, aku tidak mau kalian mati!"

Sekilas Abdullah melirik ke Galip, ternyata didapatinya putra pertamanya sudah tak bernafas. Dengan tubuh terombang-abing ombak, Abdullah akhirnya memilih melepaskan Galip dan fokus menyelamatkan Aylan.

Tapi harapan pupus. Dia melihat darah mengalir dari mata Aylan. Tubuh Aylan lemas. Nyawanya telah pergi. Abdullah menutup matanya meratapi kehilangan kedua anaknya.

Perlahan Abdullah mulai tenang dan berharap istrinya masih bisa diselamatkan. Dengan berat hati dilepasnya jasad Aylan dari dekapannya dan mulai mencari istrinya di tengah samudera.

Dia berenang mencari istri tercinta, Rehan. Saat makin dekat dengan tubuh istrinya, didapati sang istri pun sudah mengambang tak bernyawa.

Tiga jam terobang-ambing di laut, tim penyelamat pantai Turki muncul di lokasi dan mengangkat tubuh Abudullah. Selanjutnya beberapa penumpang lain pun berhasil diselamatkan.

Esok paginya jasad Aylan ditemukan di bibir pantai, dekat sebuah resor, Bodrum. Memakai kaos merah terang dan celana biru, wajah balita malang itu tertelungkup menghadap pasir. Tubuhnya basah kuyup.

Seratus meter dari mayat Aylan, jasad sang kakak, Galip juga ditemukan dalam keadaan tertelungkup, mengenakan kaos, celana pendek, dan sepatu.

Kabar ditemukannya mereka, membuat Abdullah segera menghambur dan menjemput jasad anak-anaknya untuk dikuburkan.

Kepada jurnalis yang menemuinya, dia menyesal dengan tangs sesenggukan, " Aku telah mencoba menyelamatkan mereka sekuat tenaga, namun aku tidak mampu" .

Perjalanan berbahaya...

1 dari 2 halaman

'Hati Saya Hancur'

Pagi itu, wartawan foto Dogan News Agency (DHA), Nilfer Demir sedang menyiapkan perangkat kerjanya. Dia ditugaskan ke Semenanjung Bodrum, karena dalam tiga bulan terakhir terjadi peningkatan jumlah pengungsi di wilayah Turki itu.

Rabu pagi itu, Demir berencana meliput aktivitas imigran asal Pakistan yang hendak menyeberang ke Pulau Kos dari Semenanjung Bodrum, tempat transit para imigran.

Namun Demir mendengar kabar, polisi Turki dinihari tadi menyelamatkan sejumlah pengungsi yang kapalnya hanyut. Dalam perjalanan menuju lokasi, dia harus melewati tepi pantai Akyarlar.

" Tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh mungil tak bernyawa tanpa pelampung yang tertelungkup di atas pasir pantai," kata wanita asal Turki mengisahkan awal dia menemukan jenazah Aylan.

Demir berusaha mendekat. Benar saja, nyaris tak bisa menekan tombol kamera ketika melihat sosok Aylan. Hatinya dan kesedihannya bergolak. Sehingga sejak ditemukannya jasad Aylan hingga polisi datang dan mengangkat jasad itu, hanya dua kali dia sempat mengambil gambar sebelum tangisnya pecah.

Sang polisi, Mehmet Ciplak mengaku mengalami rasa sedih yang mendalam. Saat melihat jasad Aylan, dia mengaku seperti melihat anaknya sendiri.

" Saat mendekati anak itu, saya berdoa 'Ya Tuhan, saya berharap dia masih hidup'," kata Ciplak. Namun Ciplak mendapati anak itu sudah tidak bernyawa. " Hati saya hancur," katanya menahan tangis.

Meski hanya dua foto yang diabadikannya, namun hasil kerja itu telah menggugah dunia. Foto itu menyadarkan jiwa kemanusiaan yang sebelumnya tak acuh terhadap nasib pengungsi. Dunia ikut meneteskan air mata melalui pesan foto yang diabadikan Demir.

DHA kemudian mempublikasikan foto itu, diikuti ratusan media Turki lainnya memasangnya di halaman depan. Foto yang sama juga terpampang di ribuan media seluruh Eropa.

Foto itu juga menjadi virus yang terus menjalar di media sosial, sehingga menimbulkan gelombang simpati publik dunia dan kemarahan terhadap pemerintah Uni Eropa dan Jazirah Arab.

Terusir...

2 dari 2 halaman

Perang Itu Mengusir Aylan

Aylan Kurdi hanyalah anak yang terjebak di tengah konflik. Dia bersama keluarganya terpaksa mengungsi karena perang terus berkecamuk antara pasukan ISIS dan pasukan Assad. Kedua pasukan itu membantai siapa saja termasuk anak-anak di bawah umur.

Perang itu telah mengusir Aylan dari tempat seharusnya ia bermain dan tumbuh selayaknya anak-anak yang lain. Aylan tak sendiri, ratusan ribu pengungsi lainnya juga meninggalkan tanah mereka menuju Eropa.

Menurut wartawan dari kota Kobane, Mustafa Ebdi, keluarga Abdullah, ayah Aylan telah beberapa kali mencoba melarikan diri dari kekejaman perang Assad dan ISIS.

Mereka meninggalkan Damaskus pada 2012 dan pindah ke Aleppo. Namun ketika konflik menyebar dan menjalar hingga Aleppo, mereka sekeluarga pindah ke Kobane, daerah perbatasan Suriah dan Turki.

Mereka berniat pergi ke Eropa melalui Turki ketika perang juga mulai pecah di Kobane. Saat di Turki, Abdullah bekerja sebagai tukang pangkas rambut. Tapi profesi itu tak bisa memberikan penghasilan yang cukup.

Terkatung-katung di Turki, Abdullah memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Eropa. Untuk bisa sampai di sana mereka harus melewati Laut Aegean di Yunani, Makedonia, Serbia hingga akhirnya sampai di Hungaria yang merupakan gerbang masuk Uni Eropa.

Fatimah Kurdi, saudara Abdullah yang telah 20 tahun menetap di Kanada, sebenarnya ingin keluarga sang kakak tinggal bersama dia. Ia bahkan telah mengajukan dokumen pengungsi kepada pemerintah Kanada. Namun permohonan itu ditolak pada Juni lalu.

Wanita yang berprofesi sebagai perias, sempat berbicara dengan dua keponakannya di telepon, dua minggu sebelum kejadian. Aylan dan Galip, bahkan berharap dibelikan sepeda baru ketika mencapai Eropa.

Kini, Fatima menyesal telah mengirim keluarga itu uang untuk membayar penyelundup manusia agar bisa ke Eropa. " Saya merasa sangat bersalah," ujarnya.

Kini, bahkan Abdullah pun sudah tak berselera lagi melanjutkan perjalanan ke benua biru. " Aku tidak ingin apa-apa dari siapa pun. Aku hanya ingin melihat anakku untuk terakhir kali dan tinggal bersama mereka selamanya. Aku berharap Allah memberikan saya kesabaran," kata dia.

Aylan, Galip serta Rehan telah diterbangkan ke Kobani dan dikuburkan di sana. Sementara para penyelundup manusia yang tak bertanggung jawab itu telah ditangkap otoritas Turki.

Kisah Aylan merupakan sebagian kecil dari ribuan imigran, pencari suaka dan pengungsi yang tewas tenggelam tahun ini, saat menyeberangi perairan Laut Mediterania dan Laut Aegea, menuju Eropa.

Mereka semua berasal dari negara-negara yang dicabik-cabik perang, dan akhirnya berhijrah ke negara lain demi mencari kehidupan lebih baik.

(Sumber: The Telegraph, Reuters, Dogan News Agency)

Beri Komentar