Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Swab test atau tes usap pada orofaring merupakan pemeriksaan penting untuk menentukan seseorang terkena Covid-19 atau tidak. Hasil tes, biasanya tak bisa keluar dengan cepat.
Untuk itu dokter biasanya juga melakukan pemeriksaan lain. Terutama jika swab test tak bisa segera dilakukan. Salah satunya dengan melihat gejala pasien, riwayat kontak dan pemeriksaan rontgen paru-paru.
Pada sebagian besar pasien Covid-19, hasil rontgen paru-paru muncul selaput putih. Hasil rontgen ini nantinya bisa jadi penilaian dokter pada kondisi paru-paru pasien Covid-19.
" Kita bisa melihat saturasi oksigen, pernapasan lebih cepat. Terutama riwayat kontak. Untuk pasien yang memiliki tanda komorbid misalnya hipertensi, diabetes, penyakit imun, dianjurkan untuk perawatan atau isolasi di rumah sakit," kata dr. Darwati Yuwono dari Poliklinik SV IPB, dalam webinar Menunjang Diagnosis dan Terapi Covid-19 yang Aktual dan Rasional yang digelar Institut Pertanian Bogor (IPB), 8 OKtober 2020.
Darwati juga mengungkap kalau tes PCR atau swab test bisa saja negatif padahal pasien tertular Covid-19. Hal ini bisa terjadi jika pemeriksaan dilakukan di awal pasien terpapar.
" PCR punya nilai diagnosa 60-70. PCR bisa negatif padahal pasien sebenarnya positif jika dilakukan terlalu awal jadi masih belum ditemukan. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya," kata dr Darwati.
Pemeriksaan penunjang antara lain foto thorax, CT scan thorax, darah, urine, elektrolit, serta tes laboratorium lainnya sesuai dengan kondisi pasien. Jadi, bukan hanya mengandalkan hasil tes PCR.
Pada pasien yang memiliki riwayat penyakit lain, pemeriksaan penunjang ini juga sangat dibutuhkan untuk mengetahui kondisinya secara detail agar pengobatan yang diberikan lebih efektif.
Dream- Virus Covid-19 merupakan pemicu penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia. Dalam sistem ini, paru-paru yang menjadi organ paling terdampak Covid-19. Virus corona bisa membuat paru-paru kehilangan fungsinya dan rusak. Di kasus terparah, virus corona menyebabkan kegagalan fungsi paru hingga kematian.
Menurut studi dari Universitas Umea Swedia, hasil autopsi dari beberapa pasien Covid-19 yang meninggal telah menunjukkan paru-paru dipenuhi dengan cairan jeli bening. Menurut para peneliti, cairan tersebut sangat mirip dengan paru-paru seseorang yang telah tenggelam.
Dari hasil analisis terhadap cairan gel tersebut, terungkap bahwa gel itu terdiri dari zat yang disebut Hyaluronan, yang biasanya ditemukan di jaringan ikat.
Dilansir dari laman Mirror, kehadiran Hyaluronan adalah hal yang normal dalam tubuh manusia dengan berbagai fungsi di jaringan yang berbeda. Hyaluronan umumnya bertindak sebagai karakteristik yang berguna dalam jaringan ikat. Hyaluronan terlibat dalam tahap awal penyembuhan luka.

Hyaluronan juga diproduksi secara sintetis dalam industri kecantikan untuk augmentasi bibir dan perawatan anti keriput. Karena hyaluronan dapat mengikat sejumlah besar air di jaringan molekul panjang, Hyaluronan membentuk zat seperti jeli. Dan proses inilah yang memicu kekacauan di alveoli paru-paru pasien Covid-19.
Karena penuh cairan, fungsi paru-paru untuk mengambil oksigen jadi berkurang. Itulah mengapa pasien akan kesulitan saat bernafas. Pasien biasanya diberi bantuan oksigen agar asupan oksigen tetap cukup. Dalam hal ini pasien membutuhkan perawatan ventilator. Atau dalam kasus terburuk, meninggal karena gagal napas.
Saat ini, obat yang disebut Hymecromone digunakan untuk memperlambat produksi Hyaluronan pada penyakit lain, seperti serangan kandung empedu. Ada juga enzim yang secara efektif yang dapat memecah Hyaluronan.

Ada pula obat Kortison yang mengurangi produksi Hyaluronan. Dalam sebuah penelitian di Inggris, data awal menunjukkan efek positif pada perawatan dengan obat kortison Dexamethasone pada pasien Covid-19 yang sakit parah.
“ Sudah ada terapi yang memperlambat produksi jeli tubuh atau memecah jeli melalui enzim. Temuan itu dapat menjelaskan alasan kortison tampaknya berpengaruh pada Covid-19,” kata peneliti Universitas Umeå, Urban Hellman.
“ Sebelumnya diasumsikan, hasil awal yang menjanjikan akan dikaitkan dengan sifat anti-inflamasi kortison secara umum, namun keyakinan lain, kortison juga dapat mengurangi produksi hyaluronan yang dapat mengurangi jumlah jeli di paru-paru," imbuh dia.
Sumber : Mirror.co.uk
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya