4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Obat
Dream - Sakit lalu ke dokter untuk berkonsultasi dan mendapat obat. Tapi ternyata setelah minum obat selama satu minggu penyakit tak kunjung sembuh.
Mungkin Sahabat Dream pernah mengalami hal ini? Tubuh seolah tak memberikan respons terhadap obat yang diberikan.
Kalaupun ada, hasilnya pun tidak maksimal. Hal ini bukan karena obat yang dipilih memiliki harga murah. Sie Djohan, selaku Presiden Komisaris PT Innolab Science International mengungkapkan, setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap obat.
Di Indonesia , masih banyak dokter yang menerapkan 'sistem coba-coba'.
" Kalau diberi resep dokter biasanya disuruh kembali lagi kalau obatnya tidak cocok. Kalau untuk penyakit ringan tidak masalah, namun bagaimana kalau itu obat kemoterapi? Obatnya tidak mengobati si pasien, tapi rambutnya sudah terlanjur rontok," tuturnya di Jakarta, Kamis 18 Januari 2018.
Djohan memaparkan, reaksi manusia terhadap obat sangat bergantung dari faktor genetik manusia itu sendiri. Ada tes khusus yang bisa menemukan tingkat kecocokan obat dengan faktor genetik, yakni metode Companion Diagnostic (CD).
Pasien akan menjalani serangkaian tes tertentu sebelum diberikan dengan obat yang sudah spesifik. Pada kasus pengobatan leukimia, pasien yang melakukan CD terlebih dahulu cenderung menerima reaksi obat lebih optimal hingga 50 persen.
Sementara dr Sandy Q Lintang, Presiden Direktur Kalgen Innolab menyebutkan, kini CD sudah terdiri ke dalam beberapa metode. Untuk kanker payudara, pasien bisa melakukan tes mammaprint guna mengetahui kebutuhan obat kemoterapi. Sedangkan BRCA bisa dilakukan untuk mengetahui kecenderungan kanker.
" Ada juga untuk diabetes, yakni tes HbA1c untuk merekam kadar gula secara lebih intensif. Dengan begitu, dapat lebih mudah menentukan obat apa yang dipakai dan seberapa besar takarannya," kata Sandy.
(ism, Laporan Annisa Mutiara)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
