Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Terpapar Covid-19 Dua Varian Sekaligus, Wanita Belgia Meninggal Dunia

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 19 Juli 2021 16:12
Terpapar Covid-19 Dua Varian Sekaligus, Wanita Belgia Meninggal Dunia
Pasien terpapar dua jenis virus corona, yaitu B.1.1.7 (Alpha) yang berasal dari Inggris dan B.1351 (Beta) yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan.

Dream - Virus covid-19 pada beberapa orang bisa sembuh dengan cepat tapi bagi sebagian lain bisa sangat mematikan. Kondisi saat ini di seluruh dunia, penularan didominasi Covid-19 varian delta yang penularannya lebih cepat.

Bagaimana jika seseorang terpapar dua varian Covid-19 sekaligus? Ternyata sangat fatal, seperti yang dialami seorang wanita asal Belgia 90 tahun. Ia meninggal dunia setelah lima hari dirawat di rumah sakit, dirinya dinyatakan positif 2 varian Covid-19 yang berbeda.

Dilansir dari Health.com, wanita yang mengidap 2 varian Covid secara bersamaan merupakan kasus pertama infeksi ganda. Wanita itu dirawat di rumah sakit pada bulan Maret lalu, tetapi ia tidak mengalami gejala gangguan pernapasan yang signifikan. Setelah melakukan tes, ternyata hasilnya positif SARS-Cov-2 dan pernapasannya mulai memburuk.

Menurut sebuah makalah yang dipublikasi dalam European Congress of Clinical Microbiology & Infectious Diseases, wanita itu meninggal setelah lima hari melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Menurut dokter, pasien terpapar dua jenis virus corona, yaitu B.1.1.7 (Alpha) yang berasal dari Inggris dan B.1351 (Beta) yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan.

 

1 dari 4 halaman

Wanita itu tinggal sendiri dan menerima perawatan medis dari rumah, tetapi ia belum sempat mendapatkan vaksin Covid-19. Sehingga diyakini bahwa ia terpapar virus dari dua orang yang berbeda.

Ahli biologi molekuler Dr. Anne Vankeerberghen dari Rumah Sakit OLV di Aalst, Belgia menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus koinfeksi pertama dengan dua varian SARS-Cov-2. Kedua varian tersebut sudah beredar di Belgia, sehingga kemungkinan wanita itu terinfeksi dua virus berbeda dari dua orang yang berbeda pula.

Para peneliti juga mencatat bahwa kasus serupa telah ditemukan, salah satunya yaitu dua orang yang terinfeksi secara bersamaan dengan dua varian di Brasil pada awal tahun. Ia menambahkan bahwa jumlah kasus kemungkinan diremehkan, karena pengujian masih terbatas dan kesulitan mengidentifikasi koinfeksi.

“ Apakah koinfeksi dari dua varian ini memperburuk keadaan pasien masih sulit untuk dikatakan,” ujar dr. Anne.

Laporan: Angela Irena Mihardja/ Sumber: Health

2 dari 4 halaman

Komite Darurat WHO Peringatkan Kemunculan Varian Covid-19 yang Lebih Berbahaya

Dream - Virus Covid-19 varian delta kini tengah mendominasi di Indonesia. Penularannya yang begitu cepat membuat kasus melonjak drastis hingga membuat fasilitas kesehatan kewalahan.

Belum juga terselesaikan dengan baik, Komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa ada varian Covid-19 yang baru dan lebih berbahaya. Diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia.

Kondisi tersebut membuat akan sangat sulit untuk menghentikan pandemi, seperti dikutip dari laman France24. Kabar dari WHO ini tentu saja jadi berita buruk.

" Pandemi belum selesai," komite WHO memperingatkan dalam sebuah pernyataan Kamis 15 Juli, setelah pertemuan sehari sebelumnya.

Ketua komite darurat WHO, Didier Houssin mengakui bahwa " tren baru-baru ini mengkhawatirkan" . Untuk saat ini, empat varian terkait COVID-19 mendominasi gambaran pandemi global: Alpha, Beta, Gamma dan terutama varian Delta yang menyebar cepat.

 

3 dari 4 halaman

Komite memperingatkan bahwa yang lebih buruk bisa terjadi di depan, menunjuk pada " kemungkinan kuat munculnya dan penyebaran global varian baru yang mungkin lebih berbahaya, bahkan lebih menantang untuk dikendalikan."

" Pandemi tetap menjadi tantangan secara global dengan banyak negara-negara menavigasi tuntutan kesehatan, ekonomi dan sosial yang berbeda," kata Didier.

Ia juga mengungkap kalau negara-negara dengan akses terbatas ke vaksin bakal mengalami gelombang infeksi baru. " Melihat erosi kepercayaan publik meningkatnya kesulitan ekonomi, dan dalam beberapa kasus, meningkatkan kerusuhan sosial," ungkapnya.

 

4 dari 4 halaman

Vaksin Berbayar di Indonesia Dikritik WHO

Kepala Unit di bagian Imunisasi WHO, Dr Ann Lindstrand, buka suara soal kebijakan pemerintah Indonesia yang menjual belikan vaksin Gotong Royong. Ia mengkritik soal kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, demikian disampaikan dalam publikasi wawancara Lindstrand di situs resmi who.int, Kamis, 15 Juli 2021.

" Penting bagi setiap warga negara memiliki kemungkinan yang sama untuk mendapatkan akses apapun. Termasuk pembayaran (vaksin) yang akan menimbulkan masalah etika dan akses khususnya selama pandemi," ujar Lindstrand.

Selain itu ada dosis COVAX yang disampaikan melalui kerjasama dengan badan UNICEF, WHO, dan badan lain. Tentu saja mereka memiliki akses vaksin gratis untuk tiap negara.

" Yang penting di sini adalah bahwa setiap orang memiliki hak dan harus memiliki akses ke vaksin secara setara terlepas dari masalah keuangan," kata Lindstrand.

Laporan Teddy Tri/ Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar