Varian Delta Ternyata Bisa Menular 2 Hari Sebelum Gejala

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 2 September 2021 09:12
Varian Delta Ternyata Bisa Menular 2 Hari Sebelum Gejala
Lebih menular daripada influenza, polio, cacar, ebola, dan flu burung

Dream – Virus Covid-19 varian delta membuat lonjakan kasus yang siginifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Virus ini memang lebih mudah menular. Rupanya, orang yang terpapar Covid-19 varian delta dapat menularkan virus 2 hari sebelum memiliki gejala.

Hal ini diketahui dari sebuah penelitian yang dipublikasi dalam Journal Nature. Dari penelitian diketahui penularan presimptomatik (sebelum gejala muncul) dapat menyebabkan hampir 75% infeksi varian Delta. Penularan presimptomatik adalah fitur dari varian virus corona sebelumnya.

“ Delta lebih menular karena individu yang terinfeksi membawa dan menyebarkan lebih banyak virus daripada varian sebelumnya,” kata dr. Stefen Ammon, Director of the COVID-19 Task Force DispatchHealth, dikutip dari Healthline.

Menurutnya, varian Covid-19 yang lama sama menularnya dengan flu biasa, namun varian delta lebih menular daripada influenza, polio, cacar, ebola, dan flu burung. Dapat dikatakan sama menularnya dengan cacar air.

 

1 dari 5 halaman

Masih efektifkah vaksin?

Akibat peningkatan penyebaran ini, delta menjadi varian yang mendominasi di seluruh dunia. Varian ini bahkan menyumbang lebih dari 90% kasus COVID-19 di Amerika Serikat. Untuk saat ini, vaksin masih sangat efektif mencegah rawat inap dan kematian akibat COVID-19.

Vaksin

Vaksin

Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa orang yang sudah divaksin dan terinfeksi virus corona, mungkin memiliki viral load sebanyak orang yang tidak divaksin. Artinya mereka tetap dapat menularkan virus.

Ammon menjelaskan saat pertama kali vaksin tersedia, vaksin menunjukkan kemampuan luar biasa untuk mencegah penularan segala jenis COVID-19 yang sebagian besar menghilangkan paparan asimtomatik dan presimptomatik.

 

 

2 dari 5 halaman

“ Dalam beberapa kasus, varian Delta memiliki kemampuan untuk menghindari kekebalan yang diberikan oleh vaksin. Berarti ada banyak terobosan infeksi varian Delta pada individu yang sudah divaksin,” ujar Ammon.

Ia menambahkan, dua penelitian menunjukkan bahwa RNA virus menurun lebih cepat pada orang yang divaksin dan cenderung tidak menularkan virus ke orang lain. Mengenakan masker dan menjaga jarak saat ini masih jadi pencegahan penularan yang paling utama meski sudah ada vaksinasi Covid-19 seperti ketika awal pandemi.

“ Semua orang baik yang divaksin maupun tidak divaksin, harus mengenakan masker saat berada di dalam ruang publik atau keramaian,” ujar dr. Elizabeth Beatriz, ahli epidemiologi Departemen Kesehatan Masyarakat Massachusetts.

Laporan: Elyzabeth Yulivia

3 dari 5 halaman

Varian Covid-19 Baru Ditemukan Ilmuwan Afsel, Daya Tular Setara Delta

Dream - Afrika Selatan dilaporkan telah menemukan varian baru virus Covid-19 yang mengandung banyak mutasi. Varian ini dikenal dengan nama C.1.2 dan pertama kali terdeteksi pada Mei 2021.

Temuan tersebut teridentifikasi pada periode gelombang ketiga pandemi Covid-19 yang menyerang negara tersebut. Varian itu ditemukan para peneliti dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) dan Platform Inovasi dan Sekuensing Penelitian KawaZulu-Natal.

Sejak terdeteksi di Afrika Selatan dan tujuh negara lainnya seperti Afrika, Eropa, Asia, dan Oseania, para peneliti langsung melaporkannya melalui server medRxiv.

4 dari 5 halaman

Pengaruh Terhadap Antibodi

Menyandur dari News18, Selasa 31 Agustus 2021, varian tersebut telah berevolusi dari C.1, salah satu garis keturunan yang mendominasi gelombang pertama SARS-CoV-2 di Afrika Selatan dan terakhir terdeteksi pada Januari 2021.

Kekhawatiran muncul karena varian baru tersebut mengandung banyak mutasi yang terkait dengan varian-varian virus Corona lain dengan tingkat penularan dan penurunan sensitivitas tehadap antibodi penetralisir atau vaksin.

" Adanya peningkatan transmisibilitas dan mempengaruhi penurunan sensitivitas antibodi," tulis tim peneliti, salah satunya Cathrine Scheeper dari NICD, dalam laporan mereka.

5 dari 5 halaman

Bermutasi Lebih Cepat

Menurut penelitian yang dilakukan NICD, varian C.1.2 memiliki 41,8 mutasi per tahun. Berarti, varian baru tersebut bermutasi 1,7 kali lebih cepat dari tingkat global saat ini dan 1,8 kali lebih cepat dari perkiraan awal evolusi SARS-CoV-2.

Percepatan evolusi ini dikaitkan dengan munculnya varian Alpha, Beta, dan Gamma. Sehingga, menunjukkan bahwa satu peristiwa dapat diikuti tingkat mutasi yang lebih cepat.

Sekitar 52 persen lonjakan kasus di Afsel, diidentifikasi akibat C.1.2. Tetapi juga bersamaan dengan varian lain seperti D614G, N501Y, E484K dan N5017.

Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menemukan peningkatan yang konsisten dalam jumlah genom C.12 di Afrika Selatan setiap bulan yakni meningkat dari 0,2 persen pada Mei menjadi 1,6 persen pada Juni dan 2,9 persen pada Juli.

Para peneliti menyebutkan, peningkatan itu mirip dengan varian Beta dan Delta di Afrika Selatan.

" Hingga kini masih diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan seberapa baik varian baru dinetralkan oleh antibodi," jelas Scheepers.

(Sumber: news18)

 

 

Beri Komentar