5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Ilustrasi
Dream - Polisi tangkap tiga hacker asal Surabaya yang diduga meretas ribuan situs dan sistem teknologi informasi di 44 negara. Tiga peretas berstatus mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Surabaya Black Hat itu masing-masing berinisial NA, KPS, dan ATP.
Menurut Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Roberto Pasaribu, komplotan ini sebenarnya berjumlah enam orang. Mereka diduga telah meretas sekitar 3.000 sistem teknologi infomasi dan web selama 2017.
Salah satu korbannya yaitu sistem elektronik pemerintahan di Los Angeles Amerika Serikat. Akibat serangan itu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) ikut andil dalam penangkapan mereka.
Polisi mengungkap kasus tersebut setelah menerima informasi dari lembaga bentukan FBI, IC3 (Internet Crime Complaint Center) di New York, Amerika Serikat.
Setelah ditelusuri, ternyata para pelaku menggunakan IP Address yang berada di Indonesia, tepatnya Surabaya.
" Informasinya diberikan kepada kami pada Januari 2018 kemarin. Kemudian, kami analisis kurang lebih dua bulan, kami temukan lokasinya di Surabaya dan para tersangka utamanya," kata dia kepada Liputan6.com, Rabu, 14 Maret 2018.
Para tersangka kini mendekam di Polda Metro Jaya. Sebab, kasus ini disidik berdasarkan lokus peristiwa.
" Empat perusahaan nasional yang jadi korban berada di Jakarta. Perusahaan yang paling banyak terimbas itu di Jakarta," kata Roberto.
Dalam aksinya, peretas asal Surabaya tersebut menyasar database perusahaan yang memiliki banyak pelanggan atau customer.
" Kebanyakan (yang diretas) bergerak di bidang bisnis, private business. Untuk situs pemerintahan, yang terdeteksi baru satu, The City of Los Angeles. Sistem elektronik, bukan situs yang diretas," papar Roberto.
Sumber: Liputan6.com/Nanda Perdana Putra
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
