Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Setukpa Polri Sukabumi (Liputan6.com/Mulvi Muhammad)
Dream - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono, menyatakan 300 siswa Sekolah Pembentukan Perwira Polri Sukabumi positif terpapar virus. Data ini didapat setelah rapid test yang dilakukan kepada terhadap 1.550 siswa.
Meski demikian, Argo menyatakan para siswa tersebut belum tentu terkena virus corona. Dia menjelaskan proses pemeriksaan masih panjang.
" Itu bukan corona, tapi positif rapid test. Iya, rapid test-nya belum corona, masih harus swab, masih macam-macam, masih panjang," ucap Argo dikutip dari Liputan6.com
Menurut Argo, kondisi kesehatan 300 siswa tersebut terus dalam pemantauan walaupun belum dilakukan tes swab. Siswa-siswa tersebut diharuskan isolasi mandiri, meminum vitamin, dan tetap berolahraga.
Argo menjelaskan, rapid test tidak difungsikan secara spesifik untuk mengecek apakah terpapar virus corona atau tidak. Tetapi juga untuk virus lainnya.
Argo sebelumnya sempat menyatakan kabar yang menyebut ratusan siswa Setukpa Polri Sukabumi terpapar virus Covid-19 tidaklah benar.
" Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Sukabumi memang kita lakukan test, kemudian kita menemukan terdapat tujuh siswa yang positif corona," jelas Argo.
Menurut Argo, ketujuh siswa tersebut sudah diisolasi dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Untuk siswa yang kembali ke wilayah masing-masing dilakukan karantina mandiri selama 14 hari yang disesuaikan dengan protokol penanganan Covid-19.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, memang sempat menyinggung tentang 300 orang yang terdeteksi positif terkena virus corona setelah rapid test yang digelar di Jawa Barat.
Dari hasil rapid test tersebut, muncul data mengenai adanya lonjakan kasus positif virus corona di Sukabumi. Alhasil, Sukabumi ditetapkan sebagai klaster baru penyebaran corona.
" Di luar dugaan untuk test di kota Sukabumi. Terjadi hasil test yang paling besar dari seluruh kota/kabupaten di Jawa Barat," kata Ridwan.
Dia pun menginstruksikan Wali Kota Sukabumi agar segera melaksanakan test tahap kedua dan karantina wilayah parsial.
Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, membantah ada warganya yang terpapar Covid-19.
" Yang pertama, warga Kota Sukabumi yang dilakukan rapid test itu jumlahnya adalah 60 dan sampai saat ini dari 60 itu kita belum keluar hasilnya. Karena prosesnya berakhir hari ini," jelas Fahmi.
Fahmi mengatakan ada instansi lain yang melakukan rapid test. Hanya saja, dia mengaku belum mengetahui hasil dari tes tersebut.
Laporan: Razdkanya Ramadhanty
Dream - Hasil rapid test yang dilakukan di sejumlah wilayah di Jawa Barat menunjukkan 300 orang positif terinfeksi virus corona baru, Covid-19. Lonjakan kasus Covid-19 paling mengejutkan terjadi di Sukabumi.
" Di luar dugaan untuk tes di Kota Sukabumi, terjadi hasil tes yang paling besar dari seluruh kota/kabupaten di Jawa Barat," kata Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dikutip dari Liputan6.com, Senin 30 Maret 2020.
Karena terjadi lonjakan kasus signifikan, pria yang karib disapa Kang Emil itu telah memerintahkan Wali Kota Sukabumi untuk menggelar tes tahap ke dua dan melaksanakan karantina wilayah parsial.
" Untuk Sukabumi kami masih teliti lonjakannya terjadi dari wilayah mana," tambah Ridwan.
Dia tidak menduga lonjakan kasus justru terjadi di Kota Sukabumi. Karena menurut perkiraannya, lonjakan mungkin terjadi di Depok atau Bogor.
Menurut Ridwan Kamil, 300 orang yang terindikasi positif Covid-19 itu harus menjalani tes ke dua. Jenis tes yang dijalankan yaitu swab atau pengambilan sampel air liur dari mulut untuk mendapat kepastian positif dan tidaknya.
" Datanya belum bisa kita laporkan ke Pemerintah Pusat," kata dia.
Pemerintah Provinsi Jabar telah menggelar rapid test Covid-19 dalam sepekan terakhir di 27 kabupaten/kota. Sebanyak 22 ribu test kit dikirim ke seluruh wilayah Jabar untuk mencari kasus positif yang belum terlacak.
" Dari 22 ribu alat tes ada yang dilakukan di fasilitas kesehatan dan drive thru," kata Ridwan.
Lebih lanjut Ridwan menyatakan rapid test akan terus dijalankan secara bertahap. Targetnya, 100 ribu orang menjalani tes.
Sumber: Liputan6.com/Huyogo Simbolon
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya