Senin, 19 Oktober 2026 Cari

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Reporter : Syahid Latif
Senin, 19 Oktober 2026 10:12
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Dampak pengumuman MSCI yang akan menurunkan status bursa saham Indonesia ke level Pasar Mandiri terus memicu tekanan di lantai bursa.

DREAM.CO.iD - Bursa saham Indonesia masih merah menyala. Melanjutkan pelemahan imbas sentimen potensi penurunan status ke level Standalone market oleh MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini langsung longsor di sesi pembukaan perdagangan.

Perdagangan saham pada Senin, 19 Oktober 2026 dimulai dengan pelemahan IHSG sebesar 223,23 poin atau 4,31% ke level 4.961,88.

Kelompok 45 saham unggulan yang masuk dalam Indeks LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50.

Laju IHSG hingga 30 menit perdagangan saham masih belum menjauh dari tekanan jual. IHSG pada perdagangan pukul 9.37 waktu JATS tercatat kembali longsor hingga 5,23% ke level 4.913,79.

Tekanan paling parah dialami saham-saham sektor industri dasar yang ambruk hingga 6,12%, menyusul sektor infrastruktur yang turun 5,77%, konsumsi non cylical 5,15%, konsumsn cylical 4,86%, dan properti 4,48%.

Pelemahan IHSG pada awal pekan ini sudah diprediksi banyak analis. Riset MNS Sekuritas melaporkan penurunan taham IHSG pada Jumat, 16 Oktober 2026 sebesar 11,57% menjadi 5.185,11 mencatat penjualan bersih asing sebesar Rp3,34 triliun. Semua sektor ditutup di wilayah negatif, dipimpin oleh bahan dasar (-13,37%) dan kesehatan (-13,16%).

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

" Indeks tersebut mencatatkan penurunan harian tercuram sejak 1998, berlawanan dengan kenaikan yang lebih luas di sebagian besar pasar Asia," tulis Riset tersebut.

Aksi jual besar-besaran di lantai bursa di picu oleh pengumuman MSCI mengenai potensi reklasifikasi pasar ekuitas Indonesia dari Pasar Berkembang menjadi Pasar Mandiri, di tengah kekhawatiran atas transparansi kepemilikan saham dan integritas perdagangan.

Pengumuman ini meningkatkan kekhawatiran investor atas potensi arus keluar dana asing, memicu tekanan jual yang luas, terutama pada saham berkapitalisasi besar, dan menyebabkan penghentian perdagangan selama 30 menit setelah IHSG jatuh lebih dari 8% di awal sesi.

" Kami memperkirakan JCI akan bergerak dalam kisaran harga 5.092-5.295," tulis riset tersebut.

Sementara itu riset BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan penurunan tajam IHSG pada akhir pekan lalu telah mendorong saham-saham bank-bank besar memimpin aksi jual, dengan BBCA, BBRI, dan BMRI mencapai Auto rejection Bawah (ARB) dengan pelemahan 15% dan BBNI turun 13%.

" Mengingat jangka waktu pengambilan keputusan yang panjang, kami memperkirakan ketegangan akan berlanjut hingga semester pertama 2027," tulis riset tersebut.

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Riset itu juga menyoroti kepemilikan asing di bank-bank besar telah turun menjadi BBCA 69%, BBRI 55%, BMRI 55%, dan BBNI 53%, di bawah level COVID masing-masing sebesar 78%, 74%, 64%, dan 46%. Namun, investor asing masih memegang lebih dari setengah saham di setiap bank besar.

Jika Indonesia diturunkan peringkatnya menjadi Standalone, dana yang berpatokan pada pasar negara berkembang akan terpaksa keluar. Hal ini menyisakan ruang yang signifikan untuk penjualan asing lebih lanjut sebelum posisi sepenuhnya dibersihkan.

" Ini mendorong pandangan hati-hati kami terhadap prospek arus dana jangka pendek untuk bank-bank besar," tulis riset tersebut.

Beri Komentar