Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bocah usia 1,5 tahun di Arab Saudi meninggal beberapa saat usai tim medis menjalankan tes usap. Alat tes usap Covid-19 patah di dalam hidung si bocah.
Paman bocah itu, Mosaed Al Joufan, mengatakan ponakannya awalnya hanya mengalami demam. Tidak ada tanda-tanda bocah itu mengalami penyakit ganas.
" Dia tidak mengalami penyakit kronis atau berbahaya. Dia mengeluh demam pada Jumat sore dan kami membawanya ke Shaqra General Hospital bersama ibunya," kata Mosaed, dikutip dari Alarabiya.
Setelah dia diperiksa, dokter memutuskan untuk melakukan tes usap hidung. Padahal, secara umum kondisi balita itu baik dan hanya mengalami demam.
Mosaed mengatakan alat tes usap patah di saluran hidung bocah itu. Sehingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi besar gna mengambil patahan alat tes di dalam hidung si bocah.
" Sekitar pukul 1 pagi, mereka memberitahu saya operasi telah dijalankan dan dokter berhasil mengambil alat tes yang patah," kata dia.
Setelah keponakannya bangun, Mosaed meminta perawat untuk memanggil dokter spesialis guna memeriksa bocah itu setelah operasi. Memastikan alat swab sudah sepenuhnya dikeluarkan dan tidak ada darah keluar atau kesulitan bernapas.
Tapi perawat itu mengatakan dokter sedang tidak ada dan meminta ibu dari bocah itu menunggu. Pada jam 9 pagi, perawat mendapati bocah itu sudah tidak bernapas lalu mereka menjalankan prosedur CPR.
" Saya kemudian datang ke rumah sakit dan meminta dokter spesialis untuk datang. Dia melakukan X-ray yang menunjukkan bahwa penyumbatan saluran napas di salah satu paru-paru, menurut ahli radiologi," kata Mosaed.
Dia pun meminta agar keponakannya dirujuk ke rumah sakit spesialis di Riyadh untuk menyelamatkan nyawa bocah itu. Permintaan segera disetujui.
" Tapi kami duduk menunggu ambulans yang tidak juga datang ke bagian darurat hingga satu jam kemudian," kata dia.
Meskipun lama menunggu, bocah itu akhirnya tidak jadi dirujuk ke rumah sakit spesialis. Sebab, anak itu sudah meninggal sebelum meninggal.
Mosaed mendesak adanya investigasi atas kematian keponakannya. Dia menduga ada malpraktik.
" Saya menunggu hukuman bagi orang yang bertanggung jawab atas kematian anak itu," ucap dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya