Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Anak yang mengidap autisme di Babat Toman, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, meregang nyawa di tangan orangtuanya sendiri. Kasus pembunuhan ini diduga akibat emosi orangtua yang tidak tahan dengan perilaku anak.
Kapolsek Babat Toman, Ajun Komisaris Andi Kesuma Jaya, mengatakan korban yang merupakan penderita autisme punya kebiasaan Buang Air Besar (BAB) sembarangan di sudut-sudut rumah. Dari keterangan tersangka, kebiasaan itu berlangsung lama dan selama sepekan terakhir menyulut emosi pelaku.
" Sudah sering BAB sembarangan, tapi baru seminggu emosi kedua orangtuanya memuncak," ujar Andi, dikutip dari Merdeka.com.
Ternyata, para pelaku juga menganiaya korban. Andi mengungkapkan sebelum meninggal, korban dipukuli dengan peralatan yang ada seperti gayung dan selang.
Usai BAB, salah satu pelaku membawa korban ke kamar mandi untuk dibersihkan. Sembari membersihkan korban, pelaku menendang kemaluan korban dan memukul kepalanya dengan gayung.
" Nyaris seperti itu setiap hari selama seminggu sebelum korban meninggal," kata dia.
Selain itu, korban juga punya kebiasaan suka memakan daging mentah. Hal itu juga memicu emosi para tersangka meninggi.
" Tersangka bilang anaknya suka makan daging mentah, ayam atau sapi, itu juga membuat kedua tersangka selalu emosi dan langsung menyiksa korban," kata dia.
Andi mengatakan kebiasaan tersebut menurut tersangka tidak mudah diubah lantaran korban menderita autisme. Tetapi para pelaku tidak berusaha untuk mengobati korban padahal tergolong berkecukupan.
" Ya, termasuk orang berkecukupan, kalangan menengah ke atas, banyak usahanya," kata dia.
Lantaran terkesan dibiarkan, korban terus tumbuh dengan kekurangan tersebut. Dua tersangka mengaku hanya sekali membawa korban ke dokter.
" Itupun sudah lama, mereka kaya, tidak kekurangan, duit banyak, cuma tidak mau saja mengobati anaknya," kata Andi.
Selanjutnya, Andi menerangkan korban adalah anak sulung dan memiliki adik berjenis kelamin perempuan. Saat ini, si adik masih balita dan tampak normal.
" Sebenarnya kedua tersangka punya empat anak, cuma yang dua anaknya yang lain sudah meninggal dunia, tinggal korban dan adiknya saja," kata dia.
Setiap hari, kata Andi, korban tinggal bersama pelaku. Sesekali korban dititipkan ke nenek kakeknya.
" Nenek dan kakeknya sudah kami periksa, mereka tidak tahu kalau korban sering dianiaya," ucap Andi.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya