Kontroversi Disertasi Hubungan Intim di Luar Nikah Halal Mahasiswa UIN Kalijaga

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 3 September 2019 13:01
Kontroversi Disertasi Hubungan Intim di Luar Nikah Halal Mahasiswa UIN Kalijaga
Milk Al-Yamin jadi landasannya. Apa penjelasan dan dalil disertasinya menyatakan hubungan intim di luar nikah tak langgar syariat?

Dream - Disertasi mahasiswa doktoral Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta akhir pekan lalu memantik polemik di kalangan akademisi. Disertasi yang diajukan oleh Abdul Aziz, mahasiswa doktoral hukum Islam UIN membahas konsep hubungan intim atau seks yang tidak lazim.

Dalam konsep Islam, seks hanya halal jika dilakukan sepasang mannusia beda jenis dalam ikatan pernikahan. Di luar ikatan nikah, seks merupakan perbuatan haram.

Tetapi, disertasi Abdul Aziz menunjukkan adanya celah bagi seks di luar nikah untuk tidak melanggar syariat. Disertasi itu mengambil judul " Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital."

Dikutip dari VOA, Abdul Aziz mengetengahkan konsep hubungan seksual non marital dalam pandangan Muhammad Syahrur. Muhammad Syahrur merupakan pemikir Islam dari Suriah yang berusaha menempatkan hubungan seksual sebagai bagian dari hak asasi manusia.

Dalam kerangka pemikiran Syahrur, seperti diungkapkan Abdul Aziz, seks di luar nikah bisa dipandang halal. Tetapi, ada empat syarat yang harus dipenuhi.

" Jadi hubungan seksual non marital boleh, dengan catatan tidak dilakukan di tempat terbuka, tidak dengan perempuan bersuami, kemudian bukan secara homo (hubungan seksual sejenis) dan bukan inses (hubungan seksual sedarah), selebihnya boleh," kata Abdul Aziz.

 

1 dari 5 halaman

Berangkat dari Konsep Perbudakan

Abdul Aziz menyatakan penyusunan disertasinya berangkat dari latar belakang yang sama dengan pandangan Syahrur. Abdul Aziz mengaku prihatin adanya kriminalisasi dan stigmatiasi yang ditujukan kepada pelaku hubungan seksual non-marital.

Dia pun menjelaskan konsep Milk Al-Yamin berdasarkan hubungan perbudakan di masa lalu. Saat itu, majikan selaku pemilik bisa berhubungan seks dengan budak perempuannya tanpa harus terikat pernikahan.

Konsep perbudakan kemudian hilang seiring dengan perkembangan zaman. Kemudian, Abdul Aziz menyatakan konsep Milk Al-Yamin bisa diadopsi menjadi hubungan seksual tanpa paksaan selama tidak melanggar empat syarat tadi.

 

2 dari 5 halaman

Seks di Luar Nikah: Bukan Kriminal

Abdul Aziz kemudian merekomendasikan konsep ini untuk pembaruan hukum Islam. Sehingga kekerasan terhadap para pelaku hubungan seksual di luar nikah bisa ditekan.

" Nanti tidak ada lagi kasus perajaman seperti di Aceh tahun 1999, perajaman di Ambon 2001. Tidak terjadi penggeberekan di hotel hanya karena tidak punya surat akta nikah, karena bukan pasangan resmi. Tidak ada semua itu, karena tindakan seperti itu melanggar hak asasi manusia," kata dia.

Lebih lanjut, Abdul Aziz menyatakan hubungan seksual non-marital tidak bisa dianggap sebagai perbuatan kriminal. Sehingga pelaku seharusnya tidak boleh dihukum pidana.

" Substansinya bahwa hubungan seksual non-marital bukan kriminal, bukan kejahatan. Ini bukan persoalan akan mendorong orang melakukan seks bebas atau tidak, tetapi mengembalikan hubungan seksual ini sebagai hak asasi manusia," ucap Abdul Aziz.

 

3 dari 5 halaman

Picu Polemik

Disertasi yang disajikan Abdul Aziz memicu polemik di kalangan akademisi hukum Islam. Sebagian memandang pemikiran yang diketengahkan Syahrur tentang pelegalan seks di luar nikah dengan konsep Milk Al-Yamin muncul dari penafsiran yang problematik.

" Problemnya terletak pada subyektivitas penafsir yang berlebihan yang dipengaruhi oleh wawasannya tentang tradisi, kultur dan sistem hukum keluarga di negara-negara lain," ujar Akademisi UIN Sunan Kalijaga, Dr.Phil Sahiron, M. A., yang bertindak selaku promotor dari Abdul Aziz.

 

 

4 dari 5 halaman

Penafsiran yang Dipaksakan

Sahiron menilai tingkat subjektivitas Syahrur dalam menafsirkan ayat Alquran berlebihan. Alhasil, menurut Sahiron, Syahrur terkesan memaksakan ayat Alquran agar sesuai dengan pandangannya.

" Sehingga ayat-ayat tentang milk al-yamin yang dulu ditafsirkan oleh para ulama dengan ‘budak’ dipahami oleh Syahrur dengan ‘setiap orang yang diikat oleh kontrak hubungan seksual’," kata Sahiron.

Selanjutnya, Sahiron menilai pandangan Syahrur terlalu menyederhakana konsep Milk Al-Yamin ini dalam kerangka hubungan seksual semata. Padahal, terdapat sisi lain yang juga harus diperhatikan dari perbudakan yang sudah ada sebelum turunnya ayat-ayat Milk Al-Yamin.

" Sisi lain yang saya maksud di sisi adalah ‘martabat kemanusiaan’ yang oleh ayat-ayat Alquran sangat dijunjung tinggi," kata dia.

5 dari 5 halaman

Bertentangan dengan Kesetaraan Gender

Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., Ph.D selaku penguji menyatakan pandangan Syahrur sangat problematis terutama jika dilihat dari sudut pandang kesetaraan gender. Menurut Alimatul, pandangan tersebut terkesan terlalu menekankan kriteria perempuan yang boleh digauli di luar pernikahan, mengabaikan dampak yang timbul pada istri pertama, kesehatan reproduksi, hak-hak anak, serta hak perempuan yang digauli.

" Sebenarnya hal itu (seks di luar nikah) justru menimbulkan ketidakadilan dalam bentuk lain, legalitas perselingkuhan, jadi argumentasi menjadi problematis," kata Alimatul.

Selanjutnya, Alimatul menegaskan semangat Alquran adalah untuk melindungi perempuan dan menghapus perbudakan. Penyebutan istilah Milk Al-Yamin dalam Alquran sebanyak 15 kali merupakan bukti Alquran juga mendudukkan perbudakan, khususnya budak perempuan sebagai masalah serius.

Perbudakan menjadikan status kemanusiaan perempuan tidak diakui. Dampaknya, perempuan terkekang dan tidak punya otonomi atas tubuhnya sendiri.

" Karena itu, tidak sepatutnya justru dicari bentuk perbudakan baru dengan konsep ‘pernikahan non-marital’ yang hanya berorientasi pada pemenuhan hubungan seksual, dan mengabaikan hak-hak perempuan dan anak," ujar Alimatul.

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting