Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
© Cotton Bro
DREAM.CO.ID - Bagi banyak orang, duduk berjam-jam sudah menjadi bagian dari rutinitas. Pekerja menghabiskan sebagian besar waktu di depan komputer, perjalanan dilakukan dengan kendaraan, lalu malam hari dihabiskan dengan menonton televisi atau bermain ponsel. Masalahnya, bukan hanya jumlah waktu yang dihabiskan untuk duduk yang perlu diperhatikan. Berapa lama seseorang duduk tanpa berdiri dan bergerak juga tampaknya berpengaruh terhadap kesehatan.
Penelitian terbaru yang dipimpin Frederick Ho dari University of Glasgow, Inggris, menemukan bahwa semakin lama seseorang berada dalam periode duduk yang panjang tanpa diselingi aktivitas, semakin tinggi pula risiko kematian akibat kanker. Setiap tambahan satu jam perilaku sedentari berkepanjangan per hari dikaitkan dengan risiko kematian akibat kanker yang 9 persen lebih tinggi. Studi ini diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine pada September 2026.
Bukan Sekadar Berapa Lama Duduk
Selama ini, pembahasan mengenai gaya hidup sedentari lebih banyak berfokus pada total waktu seseorang duduk atau berbaring ketika terjaga dalam sehari. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola duduk juga penting.
Peneliti membedakan antara duduk dalam waktu lama tanpa jeda dan duduk yang beberapa kali diselingi dengan aktivitas. Dalam penelitian ini, periode sedentari berkepanjangan didefinisikan sebagai waktu sedikitnya 30 menit dengan setidaknya 90 persen waktunya digunakan untuk aktivitas sedentari.
Sebaliknya, periode sedentari yang terputus terjadi ketika seseorang tidak duduk dalam waktu panjang atau menyelinginya dengan aktivitas. Jadi, seseorang yang duduk selama beberapa jam tetapi sesekali bangun untuk berjalan memiliki pola yang berbeda dengan orang yang duduk terus-menerus dalam durasi panjang.
Para peneliti menganalisis data dari 91.292 peserta UK Biobank. Para peserta menggunakan alat pemantau aktivitas selama tujuh hari untuk mencatat pola pergerakan mereka. Setelah itu, peneliti mengikuti kondisi kesehatan mereka selama rata-rata 12,38 tahun.
Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara lebih banyak waktu dalam periode duduk berkepanjangan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker. Pola tersebut juga berkaitan dengan kejadian kanker secara keseluruhan serta beberapa kanker yang berhubungan dengan obesitas dan diabetes tipe 2.
Sebaliknya, ketika waktu duduk berkepanjangan lebih sering diputus dengan aktivitas, pola risikonya cenderung lebih rendah.
Temuan yang cukup menarik muncul ketika peneliti memperkirakan dampak mengganti waktu duduk dengan aktivitas ringan. Mengganti satu jam duduk berkepanjangan setiap hari dengan aktivitas fisik ringan dikaitkan dengan risiko kematian akibat kanker yang 12 persen lebih rendah.
Aktivitas ringan tersebut tidak harus berupa olahraga berat. Berdiri, berjalan sebentar, mengambil sesuatu, melakukan pekerjaan rumah, atau bergerak setelah duduk cukup lama termasuk contoh aktivitas yang dapat memutus periode sedentari.
Duduk dalam waktu lama membuat tubuh berada dalam kondisi aktivitas fisik yang sangat rendah. Peneliti menduga, memutus periode tersebut dengan gerakan singkat dapat membantu berbagai proses metabolisme tubuh.
Penelitian eksperimental sebelumnya juga menunjukkan bahwa menyelingi duduk dengan aktivitas singkat dapat memberikan respons metabolik yang lebih baik dibandingkan duduk tanpa jeda. Karena itu, kebiasaan sederhana seperti berdiri dan berjalan beberapa menit setelah duduk lama berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sehat.
Namun, bukan berarti penelitian ini membuktikan bahwa duduk langsung menyebabkan kanker. Studi tersebut bersifat observasional sehingga hanya dapat menunjukkan adanya hubungan antara pola duduk dan risiko kesehatan. Para peneliti juga menggunakan data peserta UK Biobank yang cenderung lebih aktif dibandingkan populasi Inggris secara umum, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada semua orang.
Temuan ini memberikan pesan yang cukup praktis. Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan olahraga berat selama berjam-jam. Bagi orang yang pekerjaannya mengharuskan duduk lama, langkah sederhana dapat dimulai dengan lebih sering memutus waktu duduk.
Misalnya, setelah bekerja di depan komputer selama beberapa waktu, berdirilah dan berjalan sebentar. Ketika menerima telepon, jika memungkinkan lakukan sambil berdiri. Bangun untuk mengambil minum atau melakukan pekerjaan ringan daripada menyimpan semuanya dalam jangkauan tangan.
Aktivitas kecil tersebut tentu bukan pengganti olahraga teratur. Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa gerakan ringan juga layak diperhitungkan. Yang perlu diubah bukan hanya berapa lama kita berolahraga, tetapi juga seberapa lama tubuh dibiarkan tidak bergerak dalam satu waktu.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?


Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu