Gagal di Suriah, Israel Jadi Target Baru ISIS?

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 21 Januari 2016 12:15
Gagal di Suriah, Israel Jadi Target Baru ISIS?
ISIS gagal bertahan di Suriah. Ada kecurigaan, kelompok ekstrimis itu mengubah strategi dengan menyerang Israel dan Yordania.

Dream - Kelompok ektrimis ISIS tidak mampu mempertahankan wilayahnya di Suriah usai diserang militer udara Rusia. Kepala Angkatan Bersenjata Israel curiga ISIS akan mengubah strategi mencari lawan lain, diprediksi adalah Israel dan Yordania.

Keberhasilan pasukan pemerintah Suriah, dengan bantuan Rusia, merebut kembali sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai ISIS telah menahan gerak langkah kelompok itu.

Hal itu memaksa ISIS untuk mencari cara-cara baru untuk meneror Suriah selatan. Wilayah ini berbatasan langsung dengan dua negara, Israel dan Yordania.

" Di Suriah, kelompok teror tersebut berhasil dihentikan. Keberhasilan melawan ISIS ini memunculkan kemungkinan bahwa mereka akan berbalik mengarahkan senjatanya kepada kami dan Yordania," ujar Letnan Jenderal Gedi Eizenkot dalam konferensi di Institute for International Security Studies di Universitas Tel Aviv.

Meski kehadiran ISIS di sepanjang perbatasan selatan Suriah terbatas, banyak yang percaya bahwa kelompok teroris itu mungkin akan bergabung dengan sel ekstremis lain yang beroperasi di wilayah tersebut.

" Dalam logika strategis mereka, ada keinginan tertentu untuk menghubungkan Israel dengan Yordania," kata Eizenkot.

Sementara di daerah perbatasan itu, kata Eizenkot, ISIS tidak mengalami apa yang dialami oleh organisasi dan kelompok-kelompok teror global lainnya di wilayah Suriah.

Salah satu kelompok ultra-garis keras yang bisa menjadi afiliasi kuat ISIS dalam memerangi Israel adalah Yarmouk Martyrs Brigade. Kelompok militan yang aslinya pemberontak Suriah ini menguasai Dataran Tinggi Golan dan wilayah operasinya dekat dengan Yordania utara.

Selanjutnya, Eizenkot mencatat bahwa ideologi ISIS mendapat sambutan dari beberapa orang Palestina. Eizenkot mengklaim bahwa " ada penetrasi yang relatif tinggi ISIS dalam masyarakat Palestina, khususnya di Gaza."

Sekitar 50 warga Arab Israel diyakini telah memasuki Suriah untuk membantu ISIS. Kembalinya mereka menimbulkan tantangan bagi pemerintah Israel.

Dalam konferensi tersebut, Presiden Israel Reuven Rivlin memperingatkan sel-sel ISIS sudah beroperasi di dalam Israel. Tidak seperti Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang tidak memiliki paspor Israel, 1,4 juta warga Arab Israel yang merupakan sekitar 20 persen dari populasi Negara Yahudi itu memiliki kebebasan untuk bepergian ke luar negeri dan bergerak bebas di dalam negeri.

" ISIS sudah ada di sini, dan ini bukan lagi rahasia. Saya tidak berbicara tentang wilayah yang berbatasan dengan negara Israel, tetapi dalam negara itu sendiri," kata Rivlin,

" Dari berbagai penelitian, penangkapan, kesaksian dan analisis terbuka, jelas menunjukkan bahwa ada peningkatan dukungan untuk ISIS di antara orang-orang Arab Israel, sementara beberapa yang lain benar-benar telah bergabung dengan ISIS."

Pada akhir Desember 2015, pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, mengeluarkan ancaman terhadap Israel melalui pesan suara di media sosial. Dalam sebuah rekaman suara yang diduga Baghdadi itu, ia memperingatkan bahwa tanah Palestina akan menjadi 'kuburan' bagi orang Yahudi.

Sesaat sebelum Baghdadi mengirim pesan itu, ISIS juga merilis video dalam bahasa Ibrani yang mengancam tidak akan ada lagi orang Yahudi yang akan dibiarkan hidup setelah mereka menguasai Yordania.

Rivlin mengatakan kehadiran ISIS bukanlah konsekuensi dari konflik Israel-Palestina. " Tetapi lebih merupakan fenomena global 'jahat altruistik'," kata dia.

" ISIS melakukan pendekatan global. Sebuah visi global. Sebuah identitas agama, yang tidak tergantung pada batas-batas etnis atau geografis, tetapi termotivasi oleh ide-ide jahat dari ISIS dan pasukannya," kata Rivlin.

Untuk melindungi masyarakat Israel dari ISIS, Rivlin mendesak respon yang " cepat dan kuat" dari angkatan bersenjata dan keamanan Israel.

" ISA dan Polisi Israel harus mengintensifkan kemampuan mereka di antara komunitas Arab, sambil mengisolasi ekstrimis yang menimbulkan kekerasan. Mereka harus menangani masalah ini dengan tangan yang kuat," ucap dia.

Sumber: rt.com

Beri Komentar