Bintang Puspayoga, Istri Menteri yang Jadi Menteri

Reporter :
Rabu, 23 Oktober 2019 11:22
Bintang Puspayoga, Istri Menteri yang Jadi Menteri
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Ayu Bintang Puspayoga merupakan sosok yang tak begitu dikenal baik secara politik, profesional, maupun akademisi.

Dream - Presiden Joko Widodo memilih I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA). Banyak yang penasaran dengan rekam jejak Ayu Bintang.

Pasalnya, Ayu merupakan sosok yang tak begitu dikenal baik secara politik, profesional, maupun akademisi. Perempuan kelahiran 24 November 1968 ini merupakan istri mantan Menteri Koperasi Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

Ayu Bintang aktif dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE), atau perkumpulan para istri menteri. Bintang, sapaan akrabnya, ternyata merupakan mantan atlet tenis meja.

Dikutip dari Obsessionnews, Bintang pernah menjuarai Kejuaraan Tenis Meja PB Perwosi pada Oktober 2010 di GOR Sumantri Brojonegoro, Jakarta. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Bali periode 2015-2019.

Dilihat dari rekam jejaknya, Bintang tak memiliki latar belakang belakang bekerja di Kementerian namun kerap mendampingi sang suami dalam banyak kegiatan sosial.

Mengikuti jejak Puspayoga, Bintang ternyata sangat aktif sebagai kader Partai PDI Perjuangan. Kita tunggu hasil kerjanya di Kabinet Indonesia Maju.

1 dari 5 halaman

Profil Nadiem Makarim, Mantan Bos Gojek yang Jadi Mendikbud Dikti

Dream – Teka-teki posisi menteri yang akan pegang Nadiem Makariem akhirnya terjawab. Presiden Jokowi-Maruf Amin menampatkan pendiri Gojek Indonesia sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Indonesia Maju.

 Putri Nadiem Makarim Lakukan Upacara Tedak Siten

Posisi yang dipegang Nadiem cukup mengejutkan banyak pihak. Lulusan Harvard University ini sebelumnya banyak digadang memegang posisi menteri di bidang ekonomi digital.

" Saya manggilnya mas saja, Masa Nadiem Anwar Makariem, menteri pendidikan dan kebudayaan," ujar Jokowi saat mengumumkan nama Nadiem sebagai salah satu menteri di kabinetnya.

Menurut Jokowi, Nadiem akan diminta untuk membuat berbagai terobosan yang signifikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyiapkan SDM siap kerja, siap usaha, yang link and match antara pendidikan dan industri.

Sosok Nadiem memang sudah lama menjadi pantauan akan menjadi salah satu menterinya. Kepastian itu diketahui saat CEO PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia), Nadiem Makarim, datang ke Istana Negara, Senin 21 Oktober 2019.

Nama Nadiem mulai dikenal publik saat mantan pegawai sektor keuangan itu memutuskan menjadi bos para tukang ojek di Indonesia. Lewat Gojek, Nadiem mendobrak bisnis transportasi publik ini merambah dunia digital. 

" Ternyata lebih dari 70 persen waktu kerja tukang ojek hanya menunggu pelanggan, ditambah kemacetan Jakarta," kata Nadiem di suatu waktu.

 

2 dari 5 halaman

Gojek Lahir dari Bisnis Tak Sengaja

Ide bisnis ojek onine dari pria kelahiran 4 Juli 2984 ini lahir tanpa sengaja. Perbincangannya dengan tukang ojek langganan membuka cakrawala bisnis baru.

 Diundang ke Istana, Ini Profil Nadiem Makarim

" Jika ada layanan transpor dan delivery (pengantaran) yang cepat dan praktis, pasti akan sangat membantu warga Jakarta," ujar Nadiem.

Berbekal ambisi besar menjadi seorang entrepreneur, Nadiem pelan-pelan mewujudkan idenya tersebut. Sampai akhirnya, Go-Jek mulai beroperasi tahun 2011. Kawasan Jabodetabek jadi targetnya menjalankan bisnis sekaligus memberi layanan jasa transportasi dan kurir serba cepat dan proaktif.

Tak hanya bisnis dan layanan semata, Go-Jek dibangun dengan misi sosial. Meningkatkan pendapatan para tukang ojek di Jakarta adalah mimpi Nadiem.

Dunia pendidikan membuat Nadiem harus meninggalkan bisnis yang dibangunnya tersebut. Meski harus bertandang ke Amerika Serikat, toh hasrat bungsu dari 3 bersaudara ini untuk terus mengembangkan GO-JEK, tetap hidup.

Nadiem mulai berpikir untuk menggandeng berbagai perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya.

 

3 dari 5 halaman

Pulang ke Indonesia Usai Bekerja di Perusahan Top

Otak bisnis Nadiem memang sudah terasah cukup tajam. Mengawali sekolah dasar di Jakarta, Nadiem pernah merasakan ketatnya sistem pendidikan di sebuah SMA di Singapura. Memasuki dunia mahasiswa, Nadiem memilih jalur sarjana di Brown University AS. Jurusan International Relations jadi incarannya. Selama satu tahun, Nadiem sempat mengikuti foreign exchange di London School of Economics.

 Nadiem Makariem Cocok Jadi Menteri Milenial Jokowi-Maruf?

Tak puas menjadi sarjana, Nadiem pulang ke Indonesia dengan menyandang gelar MBA (Master of Business Administration) dari Harvard Business School.

Lulus dari Brown, Nadiem tak butuh waktu lama terjun ke dunia kerja. Berbekal ijazah yang dimilikinya, Nadiem direkrut menjadi Management Consultant di sebuah lembaga konsultan ternama McKinsey & Company. Di perusahaan ini, Nadiem menghabiskan waktu 3 tahun di kantor mereka di Jakarta.

Selama bekerja itulah, Nadiem banyak membantu berbagai perusahaan besar di berbagai sektor mengatasi kendala-kendala bisnis mereka.

 

4 dari 5 halaman

Latar Belakang Keluarga Nadiem Makarim

Melihat latar belakang keluargnya, Nadiem sebetulnya bukan lahir dari kalangan pengusaha. Ayahnya yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah berprofesi sebagai pengacara, sementara ibu dari Pasuruan, Jawa Timur bekerja di bidang non-profit.

" Di keluarga hanya saya yang aktif di bidang entrepreneurship," ujar Nadiem.

Meski memilih jalur berbeda, toh Nadiem cukup beruntung memiliki orang tua yang pengertian. Kedua orangtua selalu mendukung usahanya. Hanya ada satu syarat yang diberikan. Usaha Nadiem harus bisa membantu masyarakat Indonesia.

" Saya dididik dari kecil untuk kembali dan berkontribusi ke Tanah Air, walaupun seumur hidup lebih sering sekolah di luar negeri. Orangtua saya sangat nasionalis, dan karena itu passion saya untuk Indonesia sangat besar," tambahnya. 

5 dari 5 halaman

Profil ST Burhanuddin, Sang Jaksa Agung Pilihan Jokowi

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan para menteri di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Salah satu nama yang menarik menjadi perhatian yaitu S.T Burhanuddin.

Nama Burhanuddin sudah lama berada di bursa calon Jaksa Agung. Nama ST Burhanuddin bersama R Widyopramono, dan Fery Wibisono sempat mencuat pada 2014 menggantikan Basrief Arief. Tapi, ketiga nama itu, menghilang setelah masuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dari laporan Liputan6.com, nama Burhanuddin muncul dan disebut sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara. Salah satu kasus yang dia tangani yaitu, Peninjauan Kembali perkara Yayasan Supersemar.

Burhanuddin kala itu menggugat Mahkamah Agung karena kesalahan penulisan pada putusan. " MA itu seharusnya menulis Rp3,7 triliun. Tapi, di salinan putusan itu ditulis hanya Rp3,7 juta," kata Burhanuddin.

Burhanuddin disebut pensiun di lingkungan Kejaksaan Agung pada 1 Agustus 2014.

Usai tak lagi menjabat, nama Burhanuddin muncul di laman Forlap Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Dia disebut mengajar sebagai pengajar di program studi ilmu hukum, Universitas Satyagama.

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik