Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Zhou Dan Tim Medis (Weibo//Oddity Central)
Dream - Seorang pria asal Wuhan, China menjadi sorotan banyak orang setelah bobotnya naik hingga 100 Kilogram (Kg) dalam waktu lima bulan. Bobotnya naik drastis akibat pria itu menjalani masa karantina mandiri setelah muncul pandemi virus Covid-19 beberapa waktu lalu.
Pria yang hanya disebut bermarga Zhou itu sudah tidak fit lagi ketika wabah corona mulai menyebar di ibu kota Provinsi Hubei tersebut.
Pada awalnya, pria 26 tahun itu tetap berusaha mempertahankan berat badannya. Dia berusaha tetap menyibukkan diri dengan bekerja di kafe dan menjalani gaya hidup normal.
Namun semuanya berubah ketika lockdown yang diberlakukan pemerintah China resmi diterapkan. Zhou mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Akibatnya, seperti yang dilansir dari Oddity Central, Selasa 16 Juni 2020, bobotnya mulai bertambah karena sudah lama tidak membuang kalori.
Dalam waktu lima bulan, berat badannya menjadi 616 pound (280 kg). Artinya ia naik lebih dari 200 pind atau 100kg selama masa karantina.
Kasusnya jadi perbincangan publik pekan lalu dan diungkapkan oleh dokter yang merawatnya di Rumah Sakit University Central South Wuhan pada 1 Juni 2020.

Pada tim medis, Zhou mengungkapkan bobot dia yang bertambah membuatnya kesulitan tidur sehingga butuh pertolongan.
" Dokter, saya bahkan tidak bisa tidur selama 48 jam. Bisakah Anda membantu saya?" tanyanya kepada Dr Li Zhen, Wakil Direktur Pusat Bedah Metabolik dan Obesitas.
Dia mengaku sudah menghubungi sejumlah dokter. Namun, mereka semuanya menolaknya dikarenakan bobot Zhen yang terlampau besar tersebut.
Setelah tim paramedis berupaya mengangkatnya dari rumah ke ambulans, ia segera dilarikan ke bagian Unit Gawat Darurat (UGD).
Saat diperiksa, tim dokter mendiagnosanya mengalami sejumlah kondisi medis seperti gagal jantung dan masalah dibagian pernapasan.
Masalah semakin pelik akibat berat badannya, dokter tidak mampu melakukan tes tekanan darah atau tes EEG di otak.

Selama 10 hari, tim medis berupaya membuat Zhou dalam kondisi stabil. Akhirnya pada 11 Juni, kondisinya dinyatakan keluar dari masa darurat.
Dr Li Zhen menerangkan, kenaikan signifikan yang terjadid pada Zhen bukan hanya karena faktor genetik. Namun juga adanya kelainan endoktrin yang diperparah dengan tidak adanya aktivitas.
Dia dan timnya berharap Zhou bisa turun setidaknya 22kg, sehingga mereka bisa melakukan bypass lambung atau operasi lemak di perut.
" Saya sangat berharap dengan diet dan metode lain, bobot dia bisa berkurang hingga 22 kg, sehingga risiko operasi bisa dikurangi," jelas Li.
(Sah, Sumber: www.odditycentral.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya