Yogyakarta jadi Pionir Manasik Haji Sepanjang Tahun

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Kamis, 26 Desember 2019 19:00
Yogyakarta jadi Pionir Manasik Haji Sepanjang Tahun
Program ini akan dinamai Jumat Manasik.

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) memuji Kantor Wilayah Kemenag Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang membuat program manasik haji sepanjang tahun. Program yang baru diluncurkan itu pun dianggap sebagai pionir.

" Secara terbuka saya sampaikan Yogyakarta adalah pionir program Manasik Haji Sepanjang Tahun, semoga dapat ditiru wilayah lainnya," ujar Direktur Bina Haji Ditjen Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenag, Khoirizi H Dasir, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 26 Desember 2019.

Khoirizi mengatakan, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan calon jemaah mengenai manasik haji. " Selama ini yang telah berjalan 10 kali manasik yang dilakukan masing-masing delapan kali di KUA ditambah dua kali tingkat kabupaten/kota tentu belum memadai," ucap dia.

Program manasik haji sepanjang tahun juga dapat membantu kemandirian jemaah belajar manasik haji. Sebab, selama ini jumlah jemaah haji Indonesia 60 persennya berusia lanjut.

1 dari 6 halaman

Dilakukan Setiap Jumat

Dengan adanya program tersebut, Khoirizi berharap indeks kepuasan jemaah haji terus meningkat. Pada 2019, indeks kepuasan jemaah haji mencapai 87,77.

" Kadang kita terlalu sibuk terkait hotel, layanan, makanan namun melupakan pentingnya segi ibadah haji bagi jamaah," kata dia.

Kakanwil Kemenag DIY, Edhi Gunawan mengatakan, program manasik sepanjang tahun akan dilakukan setiap Jumat sejak pukul 13.30 WIB hingga 16.00 WIB. Peserta yang ikut program ini merupakan jemaah yang waktu tunggunya dua tahun.

" Kita namai Jumat Manasik dengan harapan mendapat berkah dari sayyidul ayyam," ujar Edhi.

Menurut Edhi, dengan jadwal tersebut selama waktu setahun ada 40 kali manasik haji yang dilakukan calon jemaah. " (Manasik haji) bisa dilakukan di KUA yang kini memiliki Gedung Manasik Haji, Aula Kecamatan, Puskesmas atau tempat lainnya," kata dia.

2 dari 6 halaman

Kemenag Akan Sederhanakan Materi Manasik Haji

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) akan menyederhanakan materi manasik haji. Rencananya, Kemenag akan memastikan agar materi manasik tidak terlalu banyak membahas regulasi.

Kasubdit Dokumen dan Perlengkapan Haji Reguler Kemenag, Nasrullah Jasam, mengatakan, materi bimbingan manasik haji yang sederhana akan mudah dipahami jemaah.

" Materi dibuat simpel tapi mendalam. Kalau materi banyak itu dangkal apalagi kebanyakan regulasi," kata Nasrullah dalam keterangan resminya, Kamis 5 Desember 2019.

Saat ini, tambah Nasrullah, materi manasik haji lebih banyak membahas regulasi sehingga malah membebani jemaah.

Akibatnya, pemahaman tentang kondisi di Tanah Suci, misalnya saat tawaf, sa'i, wukuf di Arafah, bahkan tentang penggunaan kain ihram dirasa kurang.

" Jemaah saat haji inginnya fokus dengan ibadahnya, jangan dibebankan materi tentang regulasi. Kebutuhan jemaah adalah bisa memahami manasik haji," ucap dia.

Nasrullah mengatakan, inovasi yang diupayakan Direktorat Pelayanan Haji dalam Negeri demi meningkatkan kenyamanan jemaah haji Indonesia dalam beribadah, serta dapat memenuhi syarat rukun hajinya.

3 dari 6 halaman

Alasan Jarak Terlalu Jauh, Latihan Praktik Manasik Haji Diusulkan Dikurangi

Dream - Anggota Komisi VIII DPR, Ali Taher Parasong mengingatkan Kementrian Agama (Kemenag) untuk mengurangi porsi latihan praktik manasik haji bagi calon jemaah.

Politisi asal Fraksi PAN itu beralasan, latihan manasik haji menjadi tantangan bagi jemaah yang rumahnya terletak jauh dari lokasi praktik. Terlebih, calon jemaah haji Indonesia kebanyakan orang berusia lanjut.

" DPR mendorong bimbingan manasik ini berkurang. Bayangkan dari desa yang sangat jauh datang ke kecamatan. Harus ada rasionalitas," ujar Ali di Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019.

Sebagai pengganti, kata dia, Kemenag harus memberikan buku manasik haji lebih awal jauh sebelum waktu keberangkatan. Sehingga, calon jemaah bisa lebih memiliki banyak waktu untuk mempelajarinya.

" Rekomendasinya, begitu menerima nomor porsi keberangkatan haji, buku manasik dikasih sehigga ada interval belajar," ucap dia.

4 dari 6 halaman

Wamenag Dukung Buku Manasik Diberikan Lebih Cepat

 Pertemuan anggota DPR dan Kementerian Agama (Foto: Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an)© Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an

Pertemuan anggota DPR dan Kementerian Agama (Foto: Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an)

Senada dengan Ali, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi mendukung pemberian buku manasik haji lebih awal ketika jemaah sudah mendapat nomor porsi haji.

" Begitu orang mendaftarkan slot, tentu bisa diberi buku panduan. Sembari dia menunggu bisa dibaca-baca untuk referensi tambahan bacaan-bacaan," ujar Zainut.

Wakil Ketua Umum MUI itu mengaku, manasik haji merupakan salah satu poin utama Kemenag dalam melayani jemaah haji.

" Pemerintah punya tanggung jawab pelayanan haji seperti transportasi, akomodasi dan sebagainya. Manasik haji ini sangat penting," kata dia.

5 dari 6 halaman

Menag Lobi Saudi Tetapkan Kuota Dasar Haji Indonesia 231 Ribu

Dream - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, memanfaatkan pertemuan dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk menetapkan kuota dasar jemaah Indonesia menjadi 231 ribu.

“ Menteri Agama Fachrul Razi telah bersurat kepada Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, meminta agar kuota dasar Indonesia ditetapkan menjadi 231.000,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Nizar Ali, dikutip dari laman resmi Kemenag, Selasa 3 Desember 2019.

Menurut Nizar, lobi dan surat ini diperlukan karena hitungan kuota dasar Indonesia yang tertuang dalam MoU penyelenggaraan ibadah haji 2020 masih sebesar 221.000. Meski ada penjelasan bahwa pemerintah Indonesia meminta tambahan kuota dasar.

“ Dari hasil pembahasan dalam spesial official meeting dengan Wakil Menteri Haji (Arab Saudi), permintaan ini akan dipertimbangkan,” ujar dia.

Sampai 2016, kuota dasar jemaah haji Indonesia berjumlah 211.000, terdiri dari 194.000 kuota jemaah haji reguler dan 17.000 kuota haji khusus.

6 dari 6 halaman

Kesepakatan OKI

Penentuan kuota haji ini mengacu kepada kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 1987 di Amman, Jordania. Hitunganya, dari 1.000 penduduk Muslim di suatu negara, hanya satu orang yang punya kesempatan menyelenggarakan haji.

Sejak 2013, kuota dasar ini mengalami pengurangan sebesar 20 persen, menjadi 168.800, terdiri dari 155.200 haji reguler dan 13.600 haji khusus.

Tapi pada 2017, kuota dasar jemaah haji Indonesia kembali normal menjadi 211.000. Pada tahun itu, atas lobi Presiden Joko Widodo, Raja Salman memberikan tambahan sebesar 10.000 sehingga kuota jemaah Indonesia menjadi 221.000. Jumlah itu bertahan sampai saat ini.

“ Tahun 2019, Raja Salman kembali memberikan tambahan kuota jemaah haji Indonesia sehingga menjadi 231.000. Menteri Agama meminta agar jumlah itu dijadikan kuota dasar jemaah haji Indonesia,” kata dia.

“ Selain kuota jemaah, kami juga mengajukan usulan tambahan untuk kuota petugas haji, dari 4100 tahun lalu menjadi 4200,” ujar dia.

Nizar mengatakan, penambahan kuota haji menjadi salah satu pertimbangan karena meningkatnya antrean jemaah haji Indonesia terus memanjang. Di Bantaeng Sulawesi Selatan misalnya, masa tunggu jemaah sudah mencapai 40 tahun, atau keberangkatan pada 2060. Rata-rata masa tunggu jemaah haji Indonesia saat ini sekitar 20 tahun.

Beri Komentar