Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Bayi Kerim Kehilangan Mata Kirinya Akibat Ledakan Meriam Militer Suriah (Foto: Anadolu Agency)
Dream - Kerim harus kehilangan ibu dan sebelah matanya di usianya yang masih satu bulan. Padahal, dia belum mengerti apa yang sedang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya di Ghouta Timur, Suriah.
Penderitaan Kerim menjadi simbol perlawanan atas blokade yang dilancarkan pemerintah Suriah di kawasan tersebut. Menurut laman Anadolu, anggota White Helmets dan sejumlah aktivis menutup mata kiri mereka sebagai aksi solidaritas untuk Kerim.
Tak hanya aktivis, anak-anak hingga orang dewasa turut menutup mata kiri mereka. Dukungan bahkan datang dari banyak netizen di Turki.

Netizen mengunggah aksi menutup mata kiri mereka ke akun media sosial masing-masing. Tak lupa, mereka membubuhkan pesan, 'Bayi Kerim, aku melihatmu. Akhiri Pengepungan Ghouta Timur'.
Kepedihan Kerim dan keluarganya tersebar melalui sebuah video yang diunggah ke laman Twitter. Sang ayah, Abu Muhammad tidak memiliki pekerjaan sehingga kesulitan memenuhi nafkah untuk kelima anaknya.

Kerim dan saudara-saudaranya sudah menahan lapar selama 24 jam. Mereka hanya memakan roti seadanya untuk bertahan.
Sang ibu meninggal ketika militer Suriah mengepung Ghouta Timur. Secara tiba-tiba, serangan meriam meluncur dan menghancurkan rumahnya.
Kerim selamat dalam dekapan ibunya. Tetapi, bayi itu mengalami luka parah di kepala kirinya. Sepeninggal sang ibu, Kerim dirawat oleh keempat saudaranya.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, 400 warga yang tinggal di timur Damaskus itu harus hidup dalam kepungan militer. Pada April lalu, makanan masih bisa dipasok lewat terowongan bawah tanah.
Semenjak militer memperketat blokade, pasokan makanan dan obat-obatan begitu sulit didapat. Kondisi ini semakin mempersulit kehidupan warga Ghouta Timur.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
