Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kisah Para Penggali Makam Jenazah Corona di Jakarta Disorot Media Asing

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 23 April 2020 10:00
Kisah Para Penggali Makam Jenazah Corona di Jakarta Disorot Media Asing
Minar menjadi sangat sibuk akibat Covid-19.

Dream - Penggali makam mungkin profesi yang tidak dianggap penting bagi sebagian orang. Padahal, peran mereka sangat vital dalam prosesi pemakaman.

Demikian pula ketika pandemi virus corona yang saat ini melanda Indonesia. Jasa para penggali makam menjadi sangat signifikan.

Kengerian tak hanya dialami tim medis maupun mereka yang bertugas di garda terdepan penanganan wabah Covid-19. Para penggali makam juga merasakan kengerian yang sama.

Kisah para penggali makam ini menarik perhatian sejumlah media asing. Seperti Channel News Asia yang menurunkan satu laporan, menggambarkan bagaimana pengalaman para penggali makam tersebut.

Di bawah terik matahari ibu kota, tersimpan cerita penggali kubur bernama Minar, 53 tahun. Minar mengatakan sejak 33 tahun bekerja sebagai penggali makam, dia tidak pernah sesibuk saat ini.

1 dari 4 halaman

Makin Sibuk

Minar bekerja sebagai penggali makam di pemakaman Pondok Rangon, Jakarta Timur. Sejak awal Maret lalu, jumlah kematian tiap harinya terus meningkat dan ini membuat para penggali kubur seperti Minar bekerja tak henti.

" Pekerjaan saya sekarang sangat berbeda. Saya hampir tidak bisa istirahat. Sekarang sangat melelahkan karena ada begitu banyak mayat tiba setiap hari, jadi saya merasa lelah karena menggali tanpa henti," kata Minar.

Sejak jumlah kematian meningkat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan instruksi bagi jenazah yang meninggal karena Covid-19 dan dicurigai terkena infeksi hanya dapat dimakamkan di dua pemakaman umum yaitu di Jakarta Timur.

Satu lokasi di TPU Pondok Rangon yang merupakan tempat Minar bekerja dan lainnya di Jakarta Barat. Pemprov menilai kedua tempat itulah yang masih memiliki ruang.

 

2 dari 4 halaman

Berpacu Dengan Waktu

Ada sekitar 80 penggali di pemakaman Pondok Rangon yang dibayar oleh pemerintah. Mereka dibagi menjadi empat tim, jelas Minar.

Setiap tim bertanggung jawab atas satu tugas khusus selama sepekan. Seperti menggali kuburan, membersihkan kuburan, memotong rumput dan membersihkan saluran pembuangan di pemakaman.

Tetapi sejak Covid-19 mewabah, Minar menggali kuburan setiap hari, bahkan terkadang yang bukan tugas timnya harus tetap mereka kerjakan.

Satu makam membutuhkan waktu dua jam penggalian. Dalam satu hari, Minar harus menggali lima kuburan.

Adanya spekulasi virus corona dapat bertahan hidup di tubuh orang yang meninggal menjadikan otoritas kesehatan membuat protokol pemakaman sesegera mungkin. Ini untuk meminimalkan risiko penyebaran virus.

" Saya harus berpacu dengan waktu. Kadang-kadang ketika mayat tiba, kuburan belum siap. Semuanya harus dilakukan dengan cepat," kata Minar.

Minar mengaku diliputi kesedihan setiap kali melihat keluarga almarhum mengucapkan selamat tinggal terakhir mereka dari jauh.

 

3 dari 4 halaman

Dukungan Keluarga dan Tetangga

Dalam menjalankan tugasnya, Minar mendapat alat pelindung diri (APD) dari pemerintah. Dia harus membawa mayat keluar dari ambulans lalu menguburnya.

" Saya khawatir karena Covid-19 adalah penyakit menular. Saya sebenarnya takut tetapi ini adalah tanggung jawab saya. Apa yang bisa saya katakan?" kata dia.

Menggunakan APD di bawah teriknya matahari Jakarta juga sebuah tantangan. Dia mengaku tidak nyaman dan merasa seperti terbakar.

Kemudian ada hari di mana saat hujan datang. Terlepas dari cuaca, penggalian kuburan dan proses penguburan tetap harus berjalan.

Ayah dari lima orang anak ini juga merasa takut membawa pulang virus tersebut. Anggota keluarga turut prihatin tetapi yang mereka bisa lakukan hanya berdoa.

" Mereka berdoa untuk saya atau mengucapkan kata-kata penghiburan seperti 'Ayah, hati-hati. Semoga ayah tidak terinfeksi,'" kata Minar.

Keluarga Minar selalu mendukung profesinya dan mengerti kontribusinya dalam memerangi virus corona. Begitupun para tetangga.

Minar mengatakan, para tetangga kian memberikan dukungan. Dia juga mengaku belum menemukan stigma di lingkungan tempat tinggalnya.

Selain itu, Minar dan para penggali kubur lainnya juga kerap mendapat makan siang dan peralatan pelindung tambahan dari komunitas dan relawan.

Dia merasa bersyukur tetap mendapat dukungan yang membuatnya bertahan hingga saat ini.

 

4 dari 4 halaman

Ketenangan Saat Memasuki Bulan Ramadhan

Merupakan sebuah tradisi bagi umat muslim untuk mengunjungi makam keluarga mereka beberapa hari sebelum bulan Ramadhan yang akan dimulai minggu ini.

Pemakaman biasanya dipenuhi pengunjung yang berdoa serta penjual jajanan dan bunga.

Namun, dengan suasana yang berbeda tahun ini, dan tidak diizinkannya mengadakan ritual akibat pemberlakuan PSBB di Jakarta, suasana pemakan menjadi sepi.

" Saya telah bekerja di sini selama puluhan tahun, dan tidak pernah separah ini. Hanya ada satu atau dua orang yang datang. Dan mereka menjaga jarak dari kita," katanya.

Tanpa pengunjung, pendapatan Minar juga tidak berkurang. Namun ia cukup sedih dengar para pekerja informal sekitar kuburan.

“ Saya agak sedih karena pekerja informal (yang bekerja di sekitar kuburan) sekarang kehilangan penghasilan," imbuhnya.

Dirinya berharap pandemi ini cepat berakhir dan dengan ramadhan yang semakin dekat, umat islam harus fokus untuk tetap melakukan ibadah.

“ Yang terpenting adalah saya melakukan pekerjaan saya dengan tulus, dan kemudian insya Allah itu tidak akan menjadi beban," jelasnya.

Beri Komentar