Studi: Virus Corona COVID-19 Telah Lama Bermutasi di Hewan Inang dan Manusia

Reporter : Arini Saadah
Rabu, 22 April 2020 18:01
Studi: Virus Corona COVID-19 Telah Lama Bermutasi di Hewan Inang dan Manusia
Virus ini mungkin telah bermutasi menjadi bentuk yang lebih mengerikan dan dapat menginfeksi manusia, tetapi dalam waktu yang lama ia berada di tubuh kelelawar atau hewan lain atau bahkan manusia.

Dream – Wabah virus corona Covid-19 diduga telah dimulai jauh sebelum menyerang warga Wuhan, China. Wabah virus ini diprediksi sudah muncul sejak awal September 2019. Prediksi ini berdasarkan keterangan tim ilmuwan dari Universitas Cambridge.

Melansir dari SCMP, para peneliti menyelidiki asal muasal virus dengan menganalisis sejumlah besar kasus dari seluruh dunia. Mereka menghitung wabah awal terjadi antara 13 September 2019 dan 7 Desember 2019.

Seorang ahli genetika Universitas Cambridge, Peter Forster, mengatakan virus ini mungkin telah bermutasi menjadi bentuk yang lebih mengerikan dan dapat menginfeksi manusia. Tetapi dalam waktu yang lama virus itu bersarang di tubuh kelelawar atau hewan lain, atau bahkan manusia, selama berbulan-bulan tanpa menulari individu lain.

Peter melanjutkan, virus ini kemudian mulai menginfeksi dan menyebar di antara manusia antara 13 September dan 7 Desember 2019. Rentang waktu ini sudah diterbitkan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences (PNAS).

1 dari 4 halaman

Kapan dan Dimana Wabah Virus Pertama Kali Bermula?

Ilustrasi© Pixabay

Sumber: pixabay.com

Tim peneliti tersebut menganalisis strain menggunakan jaringan filogenetik, yaitu sebuah algoritma matematika yang dapat memetakan pergerakan global organisme melalui mutasi gen virus.

Mereka berusaha menemukan lokasi pasien dan berharap bantuan dari para ilmuwan China. Tetapi beberapa tanda awal mendorong mereka untuk melihat ke daerah di selatan Wuhan, dimana infeksi virus pertama kali dilaporkan pada bulan Desember 2019 lalu.

Tim peneliti dari Cambridge baru-baru ini menjadi berita utama internasional dengan sebuah penelitian tentang sejarah evolusi virus. Penelitian itu diterbitkan olah PNAS. Dari penelitian ditemukan sebagian besar starin yang diambil sampelnya di Amerika Serikat dan Australia secara genetik lebih dekat dengan virus kelelawar yang lazim di seluruh pasien Asia Timur dan Eropa.

Penelitian itu melihat 160 strain dikumpulkan setelah akhir Desember. Ukuran sampel yang kecil membatasi kemampuan peneliti untuk menentukan kapan dan dimana sebenarnya wabah pertama kali bermula.

2 dari 4 halaman

Virus Telah Hidup Bertahun-tahun pada Hewan Inang dan Manusia

Ilustrasi© Pixabay

Sumber: pixabay.com

Dalam penelitian baru mereka, yang belum ditinjau oleh tim peneliti Forster adalah memperluas basis data untuk memasukkan 1.001 sekuens genom penuh dengan kualitas tinggi yang dirilis oleh para ilmuwan di sleuruh dunia.

Semakin banyak strain yang dianalisis, semakin tepat mereka dapat melacak asal mula penyebaran virus global ini. dengan menghitung mutasi gen, peneliti bisa menemukan kedekatan antara orang yang pertama terinfeksi virus corona COVID-19 dengan jumlah strain virus pada hewan kelelawar.

Karena, virus ini berasal dari kelelawar. Dan telah ditemukan 96 persen gen identik dengan virus corona yang diisolasi oleh para ilmuwan Tiongkok dari kotoran kelelawar di provinsi barat daya Yunnan pada tahun 2013. Namun ada ratusan mutasi antara virus corona COVID-19 dengan yang ada di Yunnan waktu itu.

Oleh karena itu para ilmuwan tim Cambridge menduga virus itu mungkin telah menyebar secara diam-diam pada hewan inang dan manusia selama bertahun-tahun. Virus itu secara bertahap berevolusi menjadi bentuk yang sangat adaptif sehingga dengan mudah mampu menginfeksi manusia.

Asal muasal virus telah menjadi masalah yang sangat sensitif di seluruh dunia. Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyebut virus corona adalah ‘virus China’. Sementara Beijing telah menyuarakan teori konspirasi bahwa virus itu dibuat secara sengaja oleh Amerika untuk menyerang China.

3 dari 4 halaman

Virus Corona Menjadi Masalah Politik yang Sensitif

Ilustrasi© Pixabay

Sumber: pixabay.com

Melansir dari SCMP yang mengutip dari Fox News dan CNN, melaporkan bahwa virus itu mungkin berasal dari laboratorium keamanan hayati di Wuhan China. Teori asal laboratorium itu telah lama ditolak oleh para ilmuwan dunia, karena bukti ilmiahnya menunjukkan virus bermutasi secara alami. Hal itu telah dijelaskan oleh tim penelitdari Cambridge.

Forster mengatakan, “ Jika saya didesak untuk menjawab, saya akan mengatakan penyebaran virus mulanya lebih mungkin berasal di China bagian selatan daripada di Wuhan.”

Hal itu dibuktikan dengan analisis banyak kelelawar yang kemungkinan menjadi hewan inang paling potensial untuk kehidupan virus. Selain itu sampel jaringan yang telah diawetkan di RS Tiongkok yang disimpan antara September dan Desember.

“ Proyek penelitian semacam ini akan membantu kita memahami bagaimana transmisi virus bisa terjadi, dan membantu kita mencegah kejadian serupa di masa mendatang.”

4 dari 4 halaman

Virus Muncul di China, Tapi Lebih Adaptif di Amerika

Ilustrasi© Pixabay

Sumber: pixabay.com

Su Bing, seorang peneliti genetika dari Kunming Institute of Zoology di Yunnan, mengatakan jaringan filogenetik adalah alat yang paling baik untuk mendeteksi gen selama beberapa dekade terakhir. Alat ini bisa melacak pergerakan manusia prasejarah.

Namun metode itu tetap ada batasnya. Akurasi perkiraan waktu ditentukan berdasarkan jaringan filogenetik ukuran sampel dan asumsi kecepatan mutase virus.

Selama wabah global yang belum terjadi sebelumnya, virus dapat mengalami transformasi dalam pola yang tidak terduga. Sehingga analisis itu masih bisa ada kesalahan.

Penelitian di Cambridge itu juga menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Strain pertama yang diisolasi dan dilaporkan oleh para ilmuwan China sebenarnya lebih muda dari tipe asli yang menyebabkan wabah.

Mengapa AS memiliki lebih banyak strain yang secara genetik lebih dekat dengan virus kelelawar daripada Wuhan tersebut, telah memicu perdebatan sengit di kalangan para lembaga riset.

Satu penjelasan, menurut Forster, adalah bahwa strain asli mungkin pertama kali muncul di China tetapi lebih adaptif terhadap populasi dan lingkungan di Amerika.

Beri Komentar