Kisah Perjuangan Da'i Salurkan Hewan Kurban di Pedalaman

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 9 Juli 2021 14:00
Kisah Perjuangan Da'i Salurkan Hewan Kurban di Pedalaman
Kurban bagi masyarakat pedalaman menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dream - Ibadah kurban mungkin menjadi hal biasa bagi umat Islam di kawasan perkotaan. Berbeda ceritanya bagi bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pedalaman dan perbatasan.

Kurban mungkin hanya sebatas angan-angan bagi mereka. Kondisi ekonomi serta demografi yang cukup sulit menjadi penghalang bagi mereka untuk bisa merasakan berkah dari ibadah kurban.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para dai pedalaman dan perbatasan di bawah naungan Baitul Maal Hidayatullah. Mereka berjuang demi terbuka akses bagi masyarakat, khususnya dalam penyaluran hewan kurban.

" Kita harus tetap hadir untuk peduli. Ibadah Qurban 1442 H merupakan kesempatan mulia untuk dapat menguatkan persaudaraan ke seluruh penjuru Tanah Air dan beberapa negara di luar negeri," ujar Direktur Utama BMH, Supendi, dalam Webinar " Qurban Tanpa Batas, Luaskan Manfaat Qurbanmu" di kanal BMH TV.

Supendi mengatakan, BMH bekerja sama dengan peternak lokal dalam penyediaan hewan kurban. Sehingga, hal ini dapat menggerakkan ekonomi peternak lokal.

" Nilai lebih kurban di BMH adalah juga menguatkan kiprah dakwah para dai di pedalaman sehingga pencerahan dan pencerdasan umat bisa semakin ditingkatkan di momentum Idul Adha," kata dia.

1 dari 2 halaman

Libas Tantangan

Pengalaman menyalurkan hewan kurban di pedalaman dikisahkan beberapa pendakwah yang tergabung dalam korps Dai Tangguh BMH. Salah satunya Ustaz Ushuluddin yang bertugas di Pulau Nias.

Ustaz Ushuluddin mengatakan ibadah kurban di Nias tidaklah murah. Hewan kurban dihargai tinggi karena pengantarannya harus melewati medan yang tidak mudah.

" Harga sapi di sini bisa Rp19 juta, semoga tahun ini ada kurban karena emang masyarakat di sini makan daging itu hanya sekali dalam setahun.

Pengalaman lain diceritakan Ustaz Amin Asghar yang berdakwah di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Dia bercerita distribusi kurban di Pulau Sebatik cukup sulit mengingat medan yang berbukit serta akses jalan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan.

" Tapi tetap kami antarkan. Alhamdulillah, BMH selalu hadir. Setiap tahun masyarakat perbatasan dapat merasakan kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha dengan menyantap daging segar," kata dia.

 

2 dari 2 halaman

Salurkan Kurban Untuk Suku Terasing

Demikian halnya dengan Ustaz Nur Hadi yang bertugas di Halmahera kemudian membina Suku Togutil yang masih terasing. Dia pernah merasakan hanyut terbawa arus sungai ketika menuju tempat pembinaan.

Dari pengalamannya, Ustaz Nur Hadi menyatakan kehadiran bantuan kurban sangat dibutuhkan masyarakat terasing. Hewan kurban dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keakraban dan persaudaraan.

" Dalam beberapa tahun terakhir, setiap ada penyembelihan hewan kurban bertambah lagi masyarakat suku yang masuk Islam," kata dia.

Beri Komentar