Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Kapolres Kota Tangerang Kombes Pol Sabilul Alif Saat Memeriksa Babeh Alias WS (Foto: Polresta Tangerang)
Dream - Pria berinisial WS alias Babeh diduga melakukan tindakan asusila kepada 25 bocah olaki-laki di Tangerang, Banten. Beberapa korban diantaranya merupakan murid-murid pesantren.
"Menurut tersangka, anak-anak sering mendatangi dirinya di gubug yang didirikan tersangka," kata Kapolres Kota Tangerang, Kombes Pol Sabilul Alif dalam keterangan yang diterima Dream, Jumat, 5 Januari 2018.
Peristiwa itu berawal di Kampung Sakem, Desa Tamiang pada April 2017. Saat itu, istri Babeh sudah tiga bulan menjadi TKW di Malaysia.
Anak-anak yang datang ke gubug Babeh, lanjut Sabilul, kebanyakan meminta ajian semar mesem. Babeh juga diyakini anak-anak itu bisa menyembuhkan orang sakit. Babeh kemudian meminta sejumlah uang untuk menyalurkan ajian tersebut.
"Untuk mahar uang, anak-anak mengaku tidak memilikinya. Tersangka kemudian mengatakan mahar uang bisa diganti asalkan anak-anak bersedia disodomi," ucap dia.
Pelaku menakut-nakuti korban. Jika enggan dicabuli, akan mengalami kesialan selama 60 hari.
Pelaku juga memerintahkan korbannya menelan gotri (logam bulat kecil) yang diklaim sebagai bagian dari ritual pemberian ajian.
"Tersangka mengatakan, kebanyakan anak yang menjadi korbannya enggan bercerita ke orang lain karena malu atau takut," ujar Sabilul.
Selain itu, korbannya juga ada santri. Hal itu karena gubug milik pelaku berada di dekat pesantren. Kepada para santri, pelaku mengaku memiliki suara indah hingga menarik perhatian santri yang masih berusia anak-anak.
Babeh mengaku sempat pindah dan mendirikan gubug di Kampung Jawaringan, Desa Sukamanah, Kecamatan Rajeg sekitar bulan Oktober 2017. Meski sudah pindah, anak-anak tetap menghampirinya dan aksi bejatnya kembali dilakukan kepada 3 anak pada 2 Desember 2017.
"Dari hasil interogasi, jumlah anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual sebanyak 25 orang yang kesemuanya sudah menjalani visum," ucap dia. (ism)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

Kebiasaan Ngemil Setelah Makan Malam Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Hati hingga 30 Persen

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?

JKT48 dan Bernadya Tampil di AXIS Nation Cup 2026, Bikin Grand Final Makin Meriah!

Kadar Oksigen di Laut, Sungai, dan Danau Terus Menurun, Ilmuwan Peringatkan Ancaman bagi Kehidupan

Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?